Ketika Pernikahan Di Tubir Jurang

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Ketika Pernikahan Di Tubir Jurang

06 May 2026

Ketika Pernikahan Di Tubir Jurang

06 May 2026


 


Pernikahan adalah nikmat puncak yang diberikan oleh Allah. Selayaknya orang yang menikah memperoleh kesempurnaan hidup. Seperti halnya, Adam setelah disandingkan dengan Sayyidah Hawa, seolah seluruh hal yang terhampar di hadapannya terlihat indah, dan menyumbangkan kebahagiaan yang tak terkira. Bagaimana pernikahan disebut kenikmatan yang sempurna?

Jika kita mengurut ihwal tingkatan nikmat yang Allah berikan pada manusia, kita akan menyadari pernikahan sebagai kenikmatan puncak. Nikmat yang Allah suguhkan kepada manusia antara lain; hidup, rezeki, akal, agama, dan jodoh. Hidup adalah pokok dari semua nikmat. Iya, karena hidup inilah manusia bisa mereguk anugerah lain yang Allah sediakan. Jika orang sudah tidak hidup, bagaimana bisa merasakan nikmat lainnya.

Rezeki adalah nikmat yang berperan membuat manusia survive. Karena tanpa rezeki, bagaimana orang bisa survive? Karenanya, selama Allah masih memberikan kehidupan bagi manusia, Allah pasti menyiapkan dan menyediakan rezekinya. Rezeki sepaket dengan hidup. Jika kehidupan seseorang sudah sampai pada titik ending, maka meski makanan tersedia di depan meja, bahkan sudah disuapkan, tetap saja keluar. Dimuntahkan. Lalu kemudian mati.

Akal adalah nikmat yang membuat orang terus menggapai kemajuan dari waktu ke waktu. Karena akal, manusia tidak akan jumud dalam menjalani kehidupan. Kehidupan akan berjalan sustainable jika disertai dengan akal yang menampung ilmu. Akal inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Jika binatang tidak bisa menciptakan peradaban. Dari sejak dulu sampai sekarang tidak ada inovasi di dunia binatang. Akan tetapi, manusia selalu menghasilkan inovasi dan transformasi yang berkelanjutan. Karena itu, peradaban manusia terus berkembang dari waktu ke waktu.

Agama memandu manusia agar mencapai pribadi yang beradab. Terhubung dengan Allah. Karena hidup di dunia bukan sebatas hidup saja, tapi bagaimana caranya agar kita bisa mereguk kebahagiaan. Tidaklah kebahagiaan diperoleh kecuali ketika manusia terhubung dengan Allah Swt. Iya, hanya ketika terhubung dengan Allah, manusia akan mereguk kebahagiaan. Dan agama menginspirasi orang untuk selalu terhubung dengan Allah.

Jodoh membuat kehidupan lestari. Bahkan dengan jodoh inilah, maka hidup dan agama akan lestari. Kalau kita merenungi secara mendalam, pernikahan hanya bisa dihelat ketika seseorang hidup. Tentu saja tidak bisa menikahi orang yang sudah mati. Dia pasti dapat rezeki. Berakal juga. Karena kalau seseorang tidak berakal, maka dia tidak bisa menikah. Terakhir, pernikahan mensyaratkan orang beragama. Karena yang mengatur pernikahan sendiri adalah agama.

Dari situ, kita bisa memetik kesimpulan bahwa pernikahan adalah nikmat puncak yang Allah hadiahkan bagi manusia. Karena menjadi nikmat puncak, seharusnya manusia sangat bahagia ketika pernikahan telah terjalin.

Akan tetapi, kita mendapati banyak orang, bukan hanya gagal, tapi juga tidak menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Malah harus mendapati dirinya terkubur dalam penderitaan. Tak sedikit orang yang bilang, “Menjomblo memang menderita, tapi lebih menderita lagi ketika menikah”.

Mengapa pernikahan melahirkan penderitaan? Yang perlu ditelusuri terlebih dahulu adalah perkara niat. Ketika pernikahan berporos pada pemenuhan diri sendiri sebagai sarana untuk memberi makan ego dan hawa nafsu, tentu saja pernikahan tidak menghasilkan kebahagiaan. Kesenangan iya. Dan kesenangan itu bersifat sementara. Hanya dirasakan beberapa bulan ketika memasuki masa berbulan madu. Setelah itu, dia harus berhadapan dengan kenyataan yang selalu bersinggungan dengan kepentingan dirinya. Bayangkan, kalau kepentingan diri kita terganggu, biasanya kita akan risih, jengkel, bahkan merutuk keadaan. Ketika pernikahan, kita dituntut untuk melepaskan kepentingan diri pribadi, sekaligus berusaha membagikan kebahagiaan kepada pasangan.

Ketika Anda menyadari bahwa pernikahan adalah ruang yang disediakan untuk berbagi dan membahagiakan pasangan, maka Anda akan selalu mendapatkan kejutan kebahagiaan mendadak. Bayangkan, Anda belum punya apa-apa, tapi ada dorongan kuat dari hati Anda untuk memberi sesuatu pada orang. Anda bertekad mengeksekusi niat segera jika mendapatkan rezeki. Anda belum menjalankan niat tersebut, Anda sudah merasakan kebahagiaan menyusupi hati Anda.

Apa niat yang harus dipasang di hati sebelum menikah? Pernikahan diniatkan mendulang ridha Allah. Ketika pernikahan diniatkan karena Allah, maka insya Allah taufik Allah akan senantiasa menyertai pernikahan. Pernikahan yang dibina berada dalam pengaturan Allah. Adakah pengaturan Allah yang tidak baik? Allah tidak hanya mengatur sisi yang terlihat secara fisik, terlebih yang mengatur sisi batin. Bagaimana rumah tangga akan terjalin harmoni yang membuahkan kebahagiaan?

Jika ada rumah tangga terus saja tersengkarut dalam wilayah saling menyandera, saling menuduh, dan menyakiti satu sama lain, berdampak pada terjadinya peperangan kecil yang meninggalkan derita dalam rumah tangga. Perlu dikoreksi lagi terkait niat. Dikhawatirkan ternyata niat yang ditanam saat pernikahan bukan karena Allah, melainkan lebih condong untuk mendapatkan keuntungan bersifat duniawi. Karena itu, saya—sering—menyarankan agar memperbarui nikah (tajdidun nikah). Dengan memperbarui pernikahan sekaligus memperbarui niat. 

Selain itu, ketika pernikahan diawali dengan niat karena Allah, maka segala persoalan yang meletup dalam pernikahan akan dikembalikan kepada Allah. Dan setiap persoalan yang dikembalikan sekaligus disandarkan pada Allah, akan selalu terbuka jalan keluar yang membahagiakan. Jika setiap pertanyaan ada jawaban, jika setiap penyakit ada obat, jika setiap gembok tersedia kunci, maka demikian juga persoalan seberat apapun dalam rumah tangga—jika dikembalikan kepada Allah—insya Allah akan selalu terbentang jalan keluarnya.

 

Ego Tak Terkendali

Musuh cinta bukan apa yang bertebaran di luar. Sebesar apapun masalah yang mengguncang di luar, akan tetapi di sudut terdalam jiwa selalu mempersiapkan benteng tak tertembus juga mental yang positif sehingga melahirkan respon yang positif, maka masalah itu sama sekali takkan sanggup meruntuhkan rumah tangga.

Sebenarnya bukan kekuatan dari luar yang merusak rumah tangga, melainkan karena rapuhnya fondasi yang ada di dalam. Terutama terkait dengan keakuan atau egoisme. Selama egoisme masih bercokol kuat dalam rumah tangga, selalu terbuka hadirnya kenyataan saling tarik-menarik, saling berselisih, dan bahkan melahirkan pertengkaran tak berakhir. Karena itu, pernikahan bisa melahirkan kenyaman, jika suami istri tidak lagi dikuasai oleh ego. Dia telah berhasil melampaui ego. Dia menikah bukan memberikan makanan untuk ego, tapi memberikan makanan untuk ruhani. Tanda orang yang selalu memberi makanan untuk ego adalah selalu ingin memenuhi keinginan diri sendiri, sampai lupa untuk memenuhi kebutuhan pasangan. Sementara orang yang selalu hendak memberi makanan untuk ruhaninya, dia akan selalu terdepan melayani pasangan, tanpa berharap balasan dan ucapan terima kasih. Bahkan karena tenggelam melayani pasangan, dia tidak memikirkan tentang hak dirinya. Anehnya, semakin sering berbagi, tak terkecuali dengan pasangan, Allah akan menyuburkan kesejahteraan di luar, terutama dalam hati kita.

Saya selalu mengingat petuah guru mulia, “Jika pernikahan tidak bisa menghancurkan keakuan, maka keakuan yang akan mengikis pernikahan”.

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang