Ketika Pernikahan Di Tubir Jurang
06 May 2026
Pernikahan
adalah nikmat puncak yang diberikan oleh Allah. Selayaknya orang yang menikah memperoleh
kesempurnaan hidup. Seperti halnya, Adam setelah disandingkan dengan Sayyidah
Hawa, seolah seluruh hal yang terhampar di hadapannya terlihat indah, dan
menyumbangkan kebahagiaan yang tak terkira. Bagaimana pernikahan disebut
kenikmatan yang sempurna?
Jika kita
mengurut ihwal tingkatan nikmat yang Allah berikan pada manusia, kita akan
menyadari pernikahan sebagai kenikmatan puncak. Nikmat yang Allah suguhkan
kepada manusia antara lain; hidup, rezeki, akal, agama, dan jodoh. Hidup adalah
pokok dari semua nikmat. Iya, karena hidup inilah manusia bisa mereguk anugerah
lain yang Allah sediakan. Jika orang sudah tidak hidup, bagaimana bisa
merasakan nikmat lainnya.
Rezeki adalah
nikmat yang berperan membuat manusia survive. Karena tanpa rezeki,
bagaimana orang bisa survive? Karenanya, selama Allah masih memberikan
kehidupan bagi manusia, Allah pasti menyiapkan dan menyediakan rezekinya.
Rezeki sepaket dengan hidup. Jika kehidupan seseorang sudah sampai pada titik ending,
maka meski makanan tersedia di depan meja, bahkan sudah disuapkan, tetap saja
keluar. Dimuntahkan. Lalu kemudian mati.
Akal adalah
nikmat yang membuat orang terus menggapai kemajuan dari waktu ke waktu. Karena
akal, manusia tidak akan jumud dalam menjalani kehidupan. Kehidupan akan
berjalan sustainable jika disertai dengan akal yang menampung ilmu. Akal
inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Jika binatang tidak bisa
menciptakan peradaban. Dari sejak dulu sampai sekarang tidak ada inovasi di
dunia binatang. Akan tetapi, manusia selalu menghasilkan inovasi dan
transformasi yang berkelanjutan. Karena itu, peradaban manusia terus berkembang
dari waktu ke waktu.
Agama memandu
manusia agar mencapai pribadi yang beradab. Terhubung dengan Allah. Karena
hidup di dunia bukan sebatas hidup saja, tapi bagaimana caranya agar kita bisa
mereguk kebahagiaan. Tidaklah kebahagiaan diperoleh kecuali ketika manusia
terhubung dengan Allah Swt. Iya, hanya ketika terhubung dengan Allah, manusia
akan mereguk kebahagiaan. Dan agama menginspirasi orang untuk selalu terhubung
dengan Allah.
Jodoh membuat
kehidupan lestari. Bahkan dengan jodoh inilah, maka hidup dan agama akan
lestari. Kalau kita merenungi secara mendalam, pernikahan hanya bisa dihelat
ketika seseorang hidup. Tentu saja tidak bisa menikahi orang yang sudah mati.
Dia pasti dapat rezeki. Berakal juga. Karena kalau seseorang tidak berakal,
maka dia tidak bisa menikah. Terakhir, pernikahan mensyaratkan orang beragama.
Karena yang mengatur pernikahan sendiri adalah agama.
Dari situ, kita
bisa memetik kesimpulan bahwa pernikahan adalah nikmat puncak yang Allah
hadiahkan bagi manusia. Karena menjadi nikmat puncak, seharusnya manusia sangat
bahagia ketika pernikahan telah terjalin.
Akan tetapi,
kita mendapati banyak orang, bukan hanya gagal, tapi juga tidak menemukan
kebahagiaan dalam pernikahan. Malah harus mendapati dirinya terkubur dalam
penderitaan. Tak sedikit orang yang bilang, “Menjomblo memang menderita, tapi
lebih menderita lagi ketika menikah”.
Mengapa
pernikahan melahirkan penderitaan? Yang perlu ditelusuri terlebih dahulu adalah
perkara niat. Ketika pernikahan berporos pada pemenuhan diri sendiri sebagai
sarana untuk memberi makan ego dan hawa nafsu, tentu saja pernikahan tidak
menghasilkan kebahagiaan. Kesenangan iya. Dan kesenangan itu bersifat
sementara. Hanya dirasakan beberapa bulan ketika memasuki masa berbulan madu. Setelah
itu, dia harus berhadapan dengan kenyataan yang selalu bersinggungan dengan
kepentingan dirinya. Bayangkan, kalau kepentingan diri kita terganggu, biasanya
kita akan risih, jengkel, bahkan merutuk keadaan. Ketika pernikahan, kita
dituntut untuk melepaskan kepentingan diri pribadi, sekaligus berusaha
membagikan kebahagiaan kepada pasangan.
Ketika Anda
menyadari bahwa pernikahan adalah ruang yang disediakan untuk berbagi dan
membahagiakan pasangan, maka Anda akan selalu mendapatkan kejutan kebahagiaan
mendadak. Bayangkan, Anda belum punya apa-apa, tapi ada dorongan kuat dari hati
Anda untuk memberi sesuatu pada orang. Anda bertekad mengeksekusi niat segera
jika mendapatkan rezeki. Anda belum menjalankan niat tersebut, Anda sudah
merasakan kebahagiaan menyusupi hati Anda.
Apa niat yang
harus dipasang di hati sebelum menikah? Pernikahan diniatkan mendulang ridha
Allah. Ketika pernikahan diniatkan karena Allah, maka insya Allah taufik Allah
akan senantiasa menyertai pernikahan. Pernikahan yang dibina berada dalam
pengaturan Allah. Adakah pengaturan Allah yang tidak baik? Allah tidak hanya
mengatur sisi yang terlihat secara fisik, terlebih yang mengatur sisi batin.
Bagaimana rumah tangga akan terjalin harmoni yang membuahkan kebahagiaan?
Jika ada rumah
tangga terus saja tersengkarut dalam wilayah saling menyandera, saling menuduh,
dan menyakiti satu sama lain, berdampak pada terjadinya peperangan kecil yang
meninggalkan derita dalam rumah tangga. Perlu dikoreksi lagi terkait niat.
Dikhawatirkan ternyata niat yang ditanam saat pernikahan bukan karena Allah, melainkan
lebih condong untuk mendapatkan keuntungan bersifat duniawi. Karena itu,
saya—sering—menyarankan agar memperbarui nikah (tajdidun nikah).
Dengan memperbarui pernikahan sekaligus memperbarui niat.
Selain itu,
ketika pernikahan diawali dengan niat karena Allah, maka segala persoalan yang
meletup dalam pernikahan akan dikembalikan kepada Allah. Dan setiap persoalan
yang dikembalikan sekaligus disandarkan pada Allah, akan selalu terbuka jalan
keluar yang membahagiakan. Jika setiap pertanyaan ada jawaban, jika setiap
penyakit ada obat, jika setiap gembok tersedia kunci, maka demikian juga
persoalan seberat apapun dalam rumah tangga—jika dikembalikan kepada
Allah—insya Allah akan selalu terbentang jalan keluarnya.
Ego Tak
Terkendali
Musuh cinta
bukan apa yang bertebaran di luar. Sebesar apapun masalah yang mengguncang di
luar, akan tetapi di sudut terdalam jiwa selalu mempersiapkan benteng tak
tertembus juga mental yang positif sehingga melahirkan respon yang positif,
maka masalah itu sama sekali takkan sanggup meruntuhkan rumah tangga.
Sebenarnya bukan kekuatan dari luar yang merusak rumah tangga, melainkan karena rapuhnya fondasi yang ada di dalam. Terutama terkait dengan keakuan atau egoisme. Selama egoisme masih bercokol kuat dalam rumah tangga, selalu terbuka hadirnya kenyataan saling tarik-menarik, saling berselisih, dan bahkan melahirkan pertengkaran tak berakhir. Karena itu, pernikahan bisa melahirkan kenyaman, jika suami istri tidak lagi dikuasai oleh ego. Dia telah berhasil melampaui ego. Dia menikah bukan memberikan makanan untuk ego, tapi memberikan makanan untuk ruhani. Tanda orang yang selalu memberi makanan untuk ego adalah selalu ingin memenuhi keinginan diri sendiri, sampai lupa untuk memenuhi kebutuhan pasangan. Sementara orang yang selalu hendak memberi makanan untuk ruhaninya, dia akan selalu terdepan melayani pasangan, tanpa berharap balasan dan ucapan terima kasih. Bahkan karena tenggelam melayani pasangan, dia tidak memikirkan tentang hak dirinya. Anehnya, semakin sering berbagi, tak terkecuali dengan pasangan, Allah akan menyuburkan kesejahteraan di luar, terutama dalam hati kita.
Saya selalu mengingat petuah guru mulia, “Jika pernikahan tidak bisa menghancurkan keakuan, maka keakuan yang akan mengikis pernikahan”.



0 comments