Parade Tauhid

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Parade Tauhid

11 May 2026

Parade Tauhid

11 May 2026


Bicara tauhid terkesan hal yang sangat pelik, rumit, dan perlu memeras pikiran. Hanya orang-orang tertentu, mungkin berkelas khusus, bisa memahami tauhid. Karena orang yang busa memahami tauhid dipandang sebagai orang yang makrifatullah. Orang awam “terlarang” bicara tauhid.

Tauhid identik dengan aqidah. Memandu kita untuk mengenal Allah. Punya spektrum tentang Allah. Aqidah dipandang sebagai pemahaman mendasar beragama bagi setiap muslim. Aqidah adalah membincang ihwal siapa yang kita sembah. Lantas, bagaimana kita bisa menyembah dengan benar, jika kita sendiri belum mengenal siapa yang kita sembah? Padahal, awal agama adalah makrifatullah. Mengenal Allah.

Karena Allah ditetapkan sebagai Ilah, artinya yang disembah, yang dicintai, lalu yang dituju. Karenanya, Allah menjadi tujuan. Ketika seseorang sudah nyambung terus dengan Allah, disanalah dia akan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Allah adalah tujuan, dan tidak ada tujuan lagi setelah itu. Hanya ketika orang telah menautkan hati terus-menerus dengan Allah selaku tujuan sejati dan abadi, dia bisa menghimpun rasa damai dan puas sekaligus di hatinya.

Tauhid seperti biji atau benih yang ditanam. Jika pohon itu bermula dari sebuah biji, maka ketika sudah sampai pada aktualisasi puncak, kita akan mendapati pohon itu berbuah. Dan buah itu mengandung biji. Begitu pula dengan tauhid yang ditanam di hati manusia. Ketika tauhid menjadi benih yang menghujam ke hati, nanti akan menggerakkan seseorang untuk beramal, bahkan kemudian melahirkan sikap. Sikap tauhid inilah yang akan selalu mempertemukan seorang hamba dengan Allah. Dia tak lagi melihat kenyataan yang terbentang sebagai realitas yang bertebaran secara acak, melainkan melihatnya secara menyeluruh, holistik, dan integral. Tidak lagi terpisah dari Allah. Selalu dirasakan punya konektivitas dengan Allah.

Perspektif Tauhid

Sebagian menyebut tauhid adalah pengalaman ittihad, menyatunya antara seorang hamba dengan Allah. Menyingsing kesadaran bahwa yang satu-satunya ada adalah Allah. Memang Dia ada dan tak ada sesuatu pun bersama-Nya. Sementara Allah bersama dan meliputi segala sesuatu. Ada juga memahami bahwa tauhid identik dengan hulul, merasa bersama Allah. Seperti ada dua entitas, Allah dan makhluk. Pemahaman ini tentu membuat orang akan bertanya, dan memantik perdebatan.

Sementara pandangan, yang bagi saya, mudah diterima, tauhid adalah proses tauhidul iradah, yakni menyatunya kehendak hamba dengan Allah. Iya, kalau kita nyambung dengan seseorang biasanya selalu selaras, sejalan, dan harmoni. Demikian juga, ketika kita sudah “menyatu” atau nyambung dengan Allah, maka terjadi harmoni dan kesejalanan jiwa kita dengan Allah. Tidak ada selisih sedikit pun. Anda bisa bayangkan sendiri, jika Anda selalu harmoni dengan Allah, sudah barang tentu kebahagiaan selalu Anda rasakan.


Anda pahami, tauhid adalah menyatunya kehendak Anda dengan kehendak Allah. Jangan dibalik, Anda memaksa Allah menghendaki apa yang Anda kehendaki. Jika Anda memaksakan kehendak Anda pada Allah, maka justru yang akan Anda rasakan bukan kebahagiaan, melainkan penderitaan. Karena pasti Anda sering mendapati kenyataan tidak sejalan dengan apa yang Anda kehendaki, Anda impikan, dan Anda harapkan. Jika terus terjadi persinggungan antara keinginan Anda dengan kehendak Allah, maka Anda akan terus terpapar penderitaan.

Tentu Anda harus mengetahui sudut pandang Allah, agar Anda bisa memahami Allah. Anda tak bisa memahami Allah bilamana Anda tidak mengenal Allah. Pengenalan Anda terhadap Allah akan membuat sudut pandang terhadap Allah akan benar. Jika benar, maka cara Anda merespon akan selalu benar. Jika responnya benar, maka Anda akan selalu menemukan kebahagiaan di dalam setiap ketetapan Allah.

Apa saja kehendak Allah yang perlu Anda pahami?

Allah memiliki dua kehendak. Dari dua kehendak inilah, Anda bisa menjajaki tentang kualitas harmoni Anda dengan Allah. Kehendak apa saja?

Iradah Tasyri’iyyah. Kehendak yang bersifat tasyrik diartikan sebagai kehendak yang mengandung perintah dan larangan. Kehidupan ini tidak bisa dijalani dengan bebas tanpa peraturan. Apalagi berada di euforia kebebasan tanpa batas. Kalau semua orang ingin bebas, tanpa peraturan, maka justru yang terjadi adalah chaos. Karena itu, demi menjaga agar kehidupan ini harmoni, maka kita laksanakan perintah Allah sekaligus menjauhi larangan-Nya. Keduanya dijalani dengan kepatuhan dan ikhlas.

Kita tentu sadar bahwa kita adalah ciptaan Allah. Yang paling tahu tentang apa yang baik dan yang buruk untuk kita adalah Allah. Allah Maha Kasih pada hamba-hamba-Nya, termasuk kita. Sebagai wujud kasih sayang Allah, maka Allah menurunkan ketetapan tasyrik. Kalau kita memahami perintah dan larangan Allah, maka kita akan selamat dalam perjalanan. Seperti orang yang mengadakan perjalanan dengan mengendarai mobil, bilamana dia mengikuti rambu-rambu sepanjang jalan, insya Allah keselamatan akan selalu menyertainya. Tentu bukan hanya kepatuhan, namun juga disertai dengan ikhlas. Ikhlas berarti bersih dari tujuan diri, tapi bertujuan hanya untuk Allah. Memperoleh ridha Allah. Di saat orang bisa beramal dengan ikhlas, maka disana dia akan mendapatkan energi kebahagiaan yang berlimpah.

Perintah-larangan yang direspon dengan kepatuhan dan keikhlasan menandai adanya kesejalanan hubungan Anda dengan Allah. Karena Anda sejalan dengan Allah, berarti Anda harmoni. Dengan begitu Anda akan merasakan kebahagiaan bertumbuh dari sudut jiwamu.

Iradah Takwiniyah. Kehendak yang bersifat takwin berupa takdir khairihi wasyarrihi. Tak boleh menampik bahwa kita akan menghadapi takdir baik dan buruk secara bergiliran seperti halnya kita menjumpai siang dan malam silih berganti. Kita tak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siang, pada saatnya kita akan didatangi oleh malam. Ada kalanya kita dihinggapi nikmat, dan suatu saat akan dipapar oleh musibah. Keduanya sama-sama berasal dari Allah.

Kalau Anda mengenal Allah, pasti Anda akan bahagia dalam setiap keadaan. Kenapa? Karena Anda ridha dan berserah diri dengan setiap kenyataan yang Allah sajikan dalam kehidupan Anda. Pertama kali, Anda harus kenal bahwa Allah Maha Baik. Tidak ada yang mengalir dari Dia kecuali kebaikan. Memang Allah hadirkan dualitas dalam kehidupan kita, namun isinya selalu mengandung kebaikan. Dari Allah semuanya mengandung kebaikan. Ketika Anda menyadari ini, tentu saja Anda ridha, menerima, dan mendekap seluruh kenyataan. Bukankah dalam dekapan itulah, kita akan merasakan kehangatan? Ketika kita mendekap setiap kenyataan dengan utuh, kita akan mendapatkan kehangatan Ilahi menyentuh hati kita.

Ringkasnya

Anda akan benar-benar merasakan bahagia ketika Anda merasakan tauhid. Tauhid disini adalah menyatunya kehendak Anda dengan kehendak Allah. Bukankah dalam harmoni itu terbentuk kebahagiaan? Kehendak Allah ada dua, yakni kehendak tasyri’iyah dan kehendak takwiniyah. Tanda seorang sejalan dalam kehendak tasyri’iyah, dia menyikapinya dengan patuh dan ikhlas. Dan tanda seorang sejalan dalam kehendak takwiniyah, dia menyikapinya dengan ridha dan berserah diri. Ketika kita bisa merespon dua kehendak Allah itu secara sempurna, maka kebahagiaan akan selalu mengaliri hati kita.  

 

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang