Parade Tauhid
11 May 2026
Bicara tauhid terkesan hal yang sangat pelik, rumit, dan
perlu memeras pikiran. Hanya orang-orang tertentu, mungkin berkelas khusus,
bisa memahami tauhid. Karena orang yang busa memahami tauhid dipandang sebagai
orang yang makrifatullah. Orang awam “terlarang” bicara tauhid.
Tauhid identik dengan aqidah. Memandu kita untuk mengenal
Allah. Punya spektrum tentang Allah. Aqidah dipandang sebagai pemahaman
mendasar beragama bagi setiap muslim. Aqidah adalah membincang ihwal siapa yang
kita sembah. Lantas, bagaimana kita bisa menyembah dengan benar, jika kita
sendiri belum mengenal siapa yang kita sembah? Padahal, awal agama adalah makrifatullah.
Mengenal Allah.
Karena Allah ditetapkan sebagai Ilah, artinya yang
disembah, yang dicintai, lalu yang dituju. Karenanya, Allah menjadi tujuan.
Ketika seseorang sudah nyambung terus dengan Allah, disanalah dia akan
mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Allah adalah tujuan, dan tidak ada tujuan
lagi setelah itu. Hanya ketika orang telah menautkan hati terus-menerus dengan
Allah selaku tujuan sejati dan abadi, dia bisa menghimpun rasa damai dan puas
sekaligus di hatinya.
Tauhid seperti biji atau benih yang ditanam. Jika pohon
itu bermula dari sebuah biji, maka ketika sudah sampai pada aktualisasi puncak,
kita akan mendapati pohon itu berbuah. Dan buah itu mengandung biji. Begitu
pula dengan tauhid yang ditanam di hati manusia. Ketika tauhid menjadi benih
yang menghujam ke hati, nanti akan menggerakkan seseorang untuk beramal, bahkan
kemudian melahirkan sikap. Sikap tauhid inilah yang akan selalu mempertemukan
seorang hamba dengan Allah. Dia tak lagi melihat kenyataan yang terbentang
sebagai realitas yang bertebaran secara acak, melainkan melihatnya secara
menyeluruh, holistik, dan integral. Tidak lagi terpisah dari Allah. Selalu
dirasakan punya konektivitas dengan Allah.
Perspektif Tauhid
Sebagian menyebut tauhid adalah pengalaman ittihad,
menyatunya antara seorang hamba dengan Allah. Menyingsing kesadaran bahwa yang
satu-satunya ada adalah Allah. Memang Dia ada dan tak ada sesuatu pun
bersama-Nya. Sementara Allah bersama dan meliputi segala sesuatu. Ada juga
memahami bahwa tauhid identik dengan hulul, merasa bersama Allah. Seperti
ada dua entitas, Allah dan makhluk. Pemahaman ini tentu membuat orang akan
bertanya, dan memantik perdebatan.
Sementara pandangan, yang bagi saya, mudah diterima,
tauhid adalah proses tauhidul iradah, yakni menyatunya kehendak
hamba dengan Allah. Iya, kalau kita nyambung dengan seseorang biasanya selalu
selaras, sejalan, dan harmoni. Demikian juga, ketika kita sudah “menyatu” atau
nyambung dengan Allah, maka terjadi harmoni dan kesejalanan jiwa kita dengan
Allah. Tidak ada selisih sedikit pun. Anda bisa bayangkan sendiri, jika Anda
selalu harmoni dengan Allah, sudah barang tentu kebahagiaan selalu Anda
rasakan.
Tentu Anda harus mengetahui sudut pandang Allah, agar
Anda bisa memahami Allah. Anda tak bisa memahami Allah bilamana Anda tidak
mengenal Allah. Pengenalan Anda terhadap Allah akan membuat sudut pandang terhadap
Allah akan benar. Jika benar, maka cara Anda merespon akan selalu benar. Jika
responnya benar, maka Anda akan selalu menemukan kebahagiaan di dalam setiap
ketetapan Allah.
Apa saja kehendak Allah yang perlu Anda pahami?
Allah memiliki dua kehendak. Dari dua kehendak inilah,
Anda bisa menjajaki tentang kualitas harmoni Anda dengan Allah. Kehendak apa
saja?
Iradah Tasyri’iyyah. Kehendak yang bersifat tasyrik
diartikan sebagai kehendak yang mengandung perintah dan larangan. Kehidupan ini
tidak bisa dijalani dengan bebas tanpa peraturan. Apalagi berada di euforia
kebebasan tanpa batas. Kalau semua orang ingin bebas, tanpa peraturan, maka
justru yang terjadi adalah chaos. Karena itu, demi menjaga agar
kehidupan ini harmoni, maka kita laksanakan perintah Allah sekaligus menjauhi
larangan-Nya. Keduanya dijalani dengan kepatuhan dan ikhlas.
Kita tentu sadar bahwa kita adalah ciptaan Allah. Yang
paling tahu tentang apa yang baik dan yang buruk untuk kita adalah Allah. Allah
Maha Kasih pada hamba-hamba-Nya, termasuk kita. Sebagai wujud kasih sayang
Allah, maka Allah menurunkan ketetapan tasyrik. Kalau kita memahami perintah
dan larangan Allah, maka kita akan selamat dalam perjalanan. Seperti orang yang
mengadakan perjalanan dengan mengendarai mobil, bilamana dia mengikuti
rambu-rambu sepanjang jalan, insya Allah keselamatan akan selalu menyertainya.
Tentu bukan hanya kepatuhan, namun juga disertai dengan ikhlas. Ikhlas berarti
bersih dari tujuan diri, tapi bertujuan hanya untuk Allah. Memperoleh ridha
Allah. Di saat orang bisa beramal dengan ikhlas, maka disana dia akan
mendapatkan energi kebahagiaan yang berlimpah.
Perintah-larangan yang direspon dengan kepatuhan dan
keikhlasan menandai adanya kesejalanan hubungan Anda dengan Allah. Karena Anda
sejalan dengan Allah, berarti Anda harmoni. Dengan begitu Anda akan merasakan
kebahagiaan bertumbuh dari sudut jiwamu.
Iradah Takwiniyah.
Kehendak yang bersifat takwin berupa takdir khairihi wasyarrihi.
Tak boleh menampik bahwa kita akan menghadapi takdir baik dan buruk secara
bergiliran seperti halnya kita menjumpai siang dan malam silih berganti. Kita
tak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siang, pada saatnya kita akan
didatangi oleh malam. Ada kalanya kita dihinggapi nikmat, dan suatu saat akan
dipapar oleh musibah. Keduanya sama-sama berasal dari Allah.
Kalau Anda mengenal Allah, pasti Anda akan bahagia dalam
setiap keadaan. Kenapa? Karena Anda ridha dan berserah diri dengan setiap
kenyataan yang Allah sajikan dalam kehidupan Anda. Pertama kali, Anda harus
kenal bahwa Allah Maha Baik. Tidak ada yang mengalir dari Dia kecuali kebaikan.
Memang Allah hadirkan dualitas dalam kehidupan kita, namun isinya selalu
mengandung kebaikan. Dari Allah semuanya mengandung kebaikan. Ketika Anda
menyadari ini, tentu saja Anda ridha, menerima, dan mendekap seluruh kenyataan.
Bukankah dalam dekapan itulah, kita akan merasakan kehangatan? Ketika kita
mendekap setiap kenyataan dengan utuh, kita akan mendapatkan kehangatan Ilahi
menyentuh hati kita.
Ringkasnya
Anda akan benar-benar merasakan bahagia ketika Anda
merasakan tauhid. Tauhid disini adalah menyatunya kehendak Anda dengan kehendak
Allah. Bukankah dalam harmoni itu terbentuk kebahagiaan? Kehendak Allah ada
dua, yakni kehendak tasyri’iyah dan kehendak takwiniyah. Tanda seorang sejalan
dalam kehendak tasyri’iyah, dia menyikapinya dengan patuh dan ikhlas. Dan tanda
seorang sejalan dalam kehendak takwiniyah, dia menyikapinya dengan ridha dan
berserah diri. Ketika kita bisa merespon dua kehendak Allah itu secara
sempurna, maka kebahagiaan akan selalu mengaliri hati kita.



0 comments