Catatan Santri : Tasawuf Lampu Merah (Oleh : Hilman Arif Maulana)
21 July 2025
Kerap kali saya berkendara motor sebelum subuh, selalu, nyala lampu merah di persimpangan jalan raya beralih warna dalam durasi yang singkat. Kira-kira lima sampai sepuluh detik. Beda dengan siang hari yang bisa saja setiap peralihan warna membutuhkan waktu satu sampai tiga menitan. Dalam benak saya hal itu masuk akal mengingat volume orang berkendara di jam jam seperti itu sangat jarang, sekalipun di kota metropolitan.
Pengendara yang naluri kepatuhan serta menejemen resikonya sederhana, acap kali tak mengindahkan aba-aba lampu merah. Secara psikologis hal itu juga didorong anggapan bahwa pantauan polisi tak terlalu maksimal, bahkan nyaris tiada.
Tafsir keselamatan bagi mereka menjadi terbatas hanya dalam ruang lingkup tarikan gas dan kadar keterburu-buruan personal. Bukan kemaslahatan umum. Syukurlah masih banyak diantara mereka yang menerapkan manajemen berkendara seperti itu, selamat. Kendati banyak juga diantaranya yang kurang beruntung.
Mereka sama sekali tak mempertimbangkan bagaimana semisal ada juga pengendara yang lebih ekstrim tafsirannya daripada dirinya, yang hanya main gas saja tanpa rasa takut sedikitpun. Jika dua ekstrim itu bertemu maka kecelakaan tak dapat terhindari.
Ironi memang, ketika tes tafsir keselamatan pribadi itu berhasil diterapkan ketika volume kendaraan jarang, mereka justru ingin menerapkannya di siang hari kala volume kendaraan melonjak drastis. Nah, disinilah tafsir keselamatan yang mereka kata berhasil ternyata gagal total. Akibatnya kecelakaan yang timbul dari faktor demikian banyak terjadi di jalanan.
Secara fungsional, tak ada perbedaan soal harus patuhnya pada lampu merah baik malam maupun siang hari. Perbedaan hanya dalam durasi saja. Semua murni diatur untuk keselamatan bersama. Persoalan ke terburu-buruan itu urusan manejerial masing-masing orang.
Dalam filosofi lampu merah, istilah keselamatan pribadi bukan asas yang mendasari. Kendati dia selamat dari kecelakaan, tetap saja dia dianggap berbuat kriminal. Justru asas yang menjadi dasariah lampu merah adalah keselamatan umum dalam bentuk kewajiban patuh terhadap lampu merah.
Dalam hadist yang terkenal telah dijelaskan bahwa tidak boleh membahayakan dirinya dan orang lain. Hal ini menyangkut segala aspek termasuk lampu merah. Dan boleh juga diarahkan kepada kualitas keislaman seseorang. Jika orang secara sadar mendenyut-nadikan hadist itu dalam kehidupan sehari-harinya maka dia telah memperaktekkan ajaran Islam dengan baik.
Terlalu kampungan dan polos barangkali ketika seseorang mematuhi lampu merah saat kendaraan sangat sepi. Tapi disitulah letak kemaslahatan yang lebih besar. Jika alasan satu-satunya mematuhi lampu merah ketika lalu lintas padat adalah kemaslahatan umum, maka patuh ketika lalu lintas sepi adalah latihan kesabaran, disamping juga untuk kemaslahatan umum.
Medan kesabaran tak hanya berhenti pada aspek musibah, kesabaran juga menyasar segala dimensi termasuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Sabar, adalah kerja batin yang menuntut keuletan untuk meraih capaian-capaian yang non instan. Dalam diskursus agama, dorongan mendapatkan pahala dari tuhan menjadi faktor dominan yang melandasi seseorang untuk bersabar. Sementara diskursus yang lain, semisal keselamatan umum, maka kehendak untuk tidak menciptakan kekacauan sistem menjadi dominan, disamping juga takutnya akan kecelakaan.
Dalam ruang lingkup analogi, jika yang sederhana saja tak mampu di kerjakan, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan hal-hal yang rumit. Demikian juga sabar akan musibah. Jika pendeknya durasi lampu merah saja tak mampu disabari, bagaimana mungkin bisa menyabari musibah yang datang bertubi-tubi.
Selain pahala, keistimewaan sabar banyak sekali. Terutama memantik emosional agar melesat lebih baik. Daniel Golemen dalam bukunya mendedahkan banyak manfaat dari sabar. Berasal dari berbagai riset dia mengambil sample bahwa sabar adalah kegiatan yang sedikit banyak mempengaruhi masa depan seseorang. Contoh kecilnya adalah, jika sedari kecil seorang anak tak diajari bagaimana sabar dalam lamanya durasi belajar, maka ketika menginjak dewasa anak itu tak akan mampu melukis kisah tentang prestasinya yang gemilang.
Akhirnya, untuk menjadi muslim yang baik tentu harus memadukan dimensinya spiritual dan dimensi sosial. Keduanya harus sama-sama sholeh. Jangan hanya maqom spiritualnya yang melangit sementara maqom sosialnya masih berkubang di dasar tanah yang kotor.


0 comments