Belajar Mati
25 August 2025
Adalah
seorang jamaah yang sudah memasuki usia 50-an. Tampangnya masih terlihat muda
dan segar. Tercermin dari geraknya yang energik. Tubuhnya atletik.
Setelah ditelusuri, ternyata dia sangat perhatian terhadap kesehatan. Dia suka
nge-gym. Suka gowes. Selalu menyempatkan diri untuk hiking. Dia
mencukupi hiking sendirian, bahkan mengajak seluruh anggota keluarga
besarnya untuk hiking bersama. Hiking dijadikan sarana bukan hanya
menjaga kesehatan agar tetap prima, melainkan juga tetap merajut hubungan
keluarga agar makin kuat.
Bukan
hanya menjalani bermacam bentuk olahraga dengan teratur, dia juga betul-betul
menjaga makanan. Dia bisa menahan diri untuk tidak makan yang kiranya akan
bisa berdampak pada menurunnya kesehatan. Selain itu, dia juga menyempatkan
berpuasa. Semua itu dilakukan untuk tetap menjaga agar kesehatannya selalu
bugar.
Dia sangat serius dalam menjaga kesehatan. Meski demikian, ketika kematian itu telah tiba untuk merenggutnya, maka tak ada seorang pun yang bisa menghadangnya. Dia keluar dari rumah dalam keadaan tak ada keluhan sakit sedikit pun. Alias segar bugar. Lalu, meluncur dari rumah dengan menaiki sepeda ontel. Dia memang sudah memiliki jadwal setiap minggunya untuk gowes.
Ternyata
malam itu adalah gowes terakhir yang dia lakukan. Karena ketika dia sedang
mengendarai sepedanya, dia berhenti di jalan. Lantas memarkir sepeda. Diapun
duduk “ndeprok” di jalan. Qodarullah, di saat itu dia mengembuskan nafas
terakhir.
Dari
situ, kita bisa memahami bahwa kematian tidak mensyaratkan sakit. Meski orang
sangat sehat, kalau kematiannya telah tiba, maka kesehatan akan runtuh di
hadapan kematian. Sebaliknya, mungkin seseorang terjangkiti sakit
bertahun-tahun, jika kematian belum tiba, maka penyakit tak bisa membuat dia
menghembuskan nafas terakhir.
Dari
sini, kita bisa memahami bahwa tidak mati (seseorang) kecuali memang ajalnya
telah tiba. Dan kita tidak pernah tahu ajal kita. Allah sembunyikan sebagai
rahasia Allah. Jika orang mengerti kematiannya, tentu beda keadaannya. Mungkin
mereka akan menggunakan waktu-waktu untuk memuaskan nafsunya, lalu setelah
kematian mendekat, dia gunakan untuk bertobat sepenuh hati pada Allah. Akan
tetapi, Allah menyamarkan tentang kematian ini. Untuk apa? Agar kita selalu
menyiapkan mental menjelang kematian.
Banyak
orang memikirkan tentang bekal keberlangsungan hidup di dunia. Bahkan habis
waktunya untuk menumpuk bekal tersebut. Sampai mereka lupa untuk mengumpulkan
bekal setelah kematian. Karena terlalu sibuk mengurus cara hidup, sampai lupa
bagaimana cara mati yang terbaik. Padahal kematian adalah gerbang menuju
kehidupan abadi. Dikala kematian kita berujung husnul khotimah, insya Allah
kebahagiaan akan memenuhi jiwa kita. Selanjutnya, sepanjang kehidupan di
akhirat akan disertai dengan bunga kebahagiaan yang bertaburan di mana-mana.
Memang,
kita tak bisa memastikan bagaimana akhir kehidupan kita. Tapi, kita harus terus
melatih agar akhir kehidupan kita adalah baik, bahkan terbaik di hadapan Allah.
Kita harus menyadari kematian berada di pelupuk mata. Sangat dekat. Sehingga
setiap detik yang kita lewati hanya berisikan persiapan menuju kematian.
Amal-amal yang kita jalani seperti sedang mengumpulkan butiran-butiran menuju
kehidupan yang abadi. Apa saja yang kita persiapkan?
Pertama, amal sholeh yang disertai dengan cinta pada Allah. Jadikan setiap amal yang kita lakukan tidak lagi terkesan karena takut pada neraka, atau berharap surga. Karena selama orang masih terbelenggu oleh cara pandang demikian, dia tidak akan mereguk kelezatan beribadah pada Allah.
Bagaimana kita meningkatkan
kualitas ibadah bukan karena motivasi menjauh dari neraka atau mendekat pada
surga, melainkan sebagai ekspresi cinta pada Allah. Mungkin saja amal yang kita
tunaikan sangat sedikit, tapi kita sertai dengan cinta pada-Nya, maka insya
Allah nilainya sangat tinggi di hadapan Allah.
Alkisah
seorang pangeran sedang mencari wanita terhormat yang akan dipersunting
olehnya. Disiarkan oleh istana keinginan sang pangeran. Sontak banyak wanita
dari kerajaan datang untuk melamar pangeran dengan membawa bermacam hadiah dan
buah tangan yang sangat berharga. Bermacam bentuk hadiah yang disuguhkan oleh
para putri raja dari kerajaan tetangga sama sekali tak membuat pangeran silau.
Karena pangeran tidak memilih kekayaan, atau hanya kecantikan. Melainkan dia
mencari seorang wanita yang tulus dalam melayaninya.
Sehingga
kemudian datang seorang wanita yang lugu. Dia hanya membawa dan menghadiahkan
seutas bunga pada raja. Ketulusan memancar dari wajahnya. Tak ada sedikit pun
kesombongan yang tergambar dari parasnya. Setelah menimbang dengan cermat,
pangeran memilih wanita lugu tersebut.
Setelah mengetahui keputusan pangeran memilih sosok wanita lugu yang tak punya apa-apa, kecuali hanya seutas bunga, mereka protes dalam pilihan raja. Mereka ingin mengetahui alasan mendasar pangeran menjatuhkan pilihannya pada “wanita dengan seutas bunga.” Pangeran segera bergegas untuk membuktikan betapa tingginya cinta wanita itu pada raja.
Dia menimbang antara seutas bunga dengan seluruh
bawaan hadiah dari berbagai kerajaan. Ternyata seutas bunga itu jauh lebih
berat daripada semua hadiah yang dibawa oleh para putri raja. Dari sini, bisa
ditemukan betapa dalam dan luasnya cinta si wanita pada pangeran. Sebuah cermin
cinta yang tulus.
Sebelum kematian itu merenggut, maka kita perlu melatih agar amal yang kita lakukan benar-benar ikhlas karena Allah. Dilandasi cinta mendalam pada Allah. Kebahagiaan kita bukan karena kita sedang memenuhi persyaratan masuk surga, atau menyingkir dari siksa neraka. Kita beramal untuk bisa mengantarkan kedekatan pada Allah. Berusaha untuk merajut kondisi yang “sekemauan dengan Allah”.
Jika dia mendengar perintah Allah, maka dia langsung bergegas
melakukan, tanpa ada kemalasan sedikit pun yang menjangkiti. Seperti seorang
pemuda yang sangat mencintai kekasihnya. Di jalan di tengah hujannya yang
sangat deras, kekasihnya menelponnya, meminta mem-foto-copy-kan makalahnya. Dia
langsung bergegas tanpa alasan, dengan tangkas dengan segara memfoto-copy-kan
makalah kekasihnya. Bukan hanya memfoto-copy, tapi dia bahkan menjilidnya
dengan sangat rapi. Ketika mendapati kekasihnya puas, disana dia menemukan
kepuasan. Iya, yang dituju adalah kepuasan kekasihnya.
Demikian
juga, ketika kita beramal—jika merasa sebagai kekasih-Nya—yang kita tuju adalah
bagaimana Allah puas dan ridha pada kita. Tanda Allah ridha pada kita yakni
memantulkan rasa damai ke relung hati.
Kedua,
belajar berserah diri dalam setiap keadaan. Berserah diri memerlukan latihan,
tidak bisa tiba-tiba kita langsung berserah diri. Pada mulanya, kita
menyerahkan sebagian urusan yang kita jalani pada Allah. Menyerahkan pada
pengaturan Allah, meski kita secara lahir tetap berupaya yang terbaik. Secara
lahiriah, kita melakukan usaha yang terbaik dan maksimal, sementara secara
batin kita berserah diri total pada Allah.
Setelah kita menyerahkan urusan pada Allah, berlanjut pada upaya menyerahkan seluruh urusan dunia dan akhirat pada Allah. Kita melakukan amal dunia dan akhirat dengan cara yang terbaik, tapi hati diserahkan pada Allah. Terkait hasilnya bagaimana. Ketika orang menyerahkan hasilnya pada Allah, maka manusia tidak akan mudah dihinggapi perasaan cemas apalagi ketakutan yang menggerogoti kebahagiaan.
Tugasnya bekerja dan beribadah yang terbaik, sementara terkait
hasilnya baik dunia atau akhirat diserahkan pada Allah. Mengapa diserahkan pada
Allah, pasti Allah akan selalu memberikan yang terbaik. Kuncinya, selagi orang
bersandar pada pengaturan Allah, maka tidak ada ada kekecewaan yang menerobos
hatinya. Dia akan selalu berada dalam kebahagiaan.
Setelah menyerahkan kehidupan dunia dan akhirat pada Allah, selanjutnya kita meningkatkan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah. Sudah tak ada lagi kemauan kecuali apa yang dimaui oleh Allah. Sekemauan dengan Allah. Buktinya, dia tidak berselisih dengan Allah dalam setiap takdir yang berkunjung ke rumah kehidupannya. Dia selalu menyambut penuh ridha setiap takdir yang datang.
Karena dia tak lagi fokus pada takdir berhembus, melainkan fokus pada Allah
yang telah menurunkan takdir tersebut dalam kehidupan. Apapun, asalkan datang
dari Allah, akan diterima dengan sepenuh hati. Padahal tidak ada satu pun
takdir yang tidak berasal dari Allah. Ketika orang telah sampai stasiun ini,
dia benar kembali kepada Allah secara keseluruhan. Sekaligus bisa menghayati “Innaa
lillaahi wainnaa ilaihi Rojiun”.
Dikala
orang berserah diri berarti dia telah menggapai atsar dari sujud. Kalau kita
mati dalam keadaan berserah diri, maka ketika kebangkitan itu tiba, kita pun
berserah diri pada Allah. Padahal hanya orang yang menyerahkan dirinya pada
Allah, Allah pun Menyerahkan Diri padanya.
Ketika
mati, maka fisik akan kembali ke muasalnya. Begitu juga, jiwa akan kembali ke muasalnya
ketika sudah berserah diri pada Allah. Karena itu, bersamaan dengan matinya
fisik, kita sertakan penyerahan diri total pada Allah. Berserah diri membuat
orang telah berada di samudera tauhid. Alam lahut.
0 comments