-->

Mengapa Setan Merasuki Manusia?

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Mengapa Setan Merasuki Manusia?

12 January 2026

Mengapa Setan Merasuki Manusia?

12 January 2026


 

Sedari drama terjadinya “penggulingan” dan “penjatuhan” Iblis ke bumi, Iblis mendeklarasikan terang-terangan akan menyesatkan manusia. Dia takkan membiarkan manusia berada di jalan Allah yang lurus. Dia bertekad akan terus menyertai manusia dengan serangkaian godaan dan tipu daya yang telah direncanakan dengan matang. Kerja-kerja itu akan terus dilakukan oleh Iblis hingga ruh terpisah dari badan. Akan tetapi, Allah tetap membukakan harapan pada manusia, selagi manusia meminta ampun pada Allah, maka Allah akan selalu mendekapnya dengan pengampunan selama nyawa belum di tenggorokan. 

Sejak awal, Iblis telah menempatkan diri sebagai musuh manusia, terutama orang-orang beriman. Karena Iblis telah memposisikan orang beriman sebagai musuh, maka orang beriman harus menjadikan sebagai musuh. Tak boleh memberi ruang persahabatan baginya. 

Setelah kita menyadari Iblis adalah musuh kita, maka kita harus mengulik dan menelusuri apa sebenarnya tujuan akhir dari Iblis dalam mengganggu, menggoda, dan bahkan menjerat manusia? Tidak ada lagi tujuannya kecuali agar manusia tidak bersyukur. Tidak bahagia. Dan bahkan selalu menimpuk dirinya dalam gundukan keluhan demi keluhan. Ketika Anda terus berada dalam kondisi mengeluh setiap saat, berarti jerat Iblis sudah beroperasi. Bila Iblis telah menguasai manusia, maka manusia tidak akan pernah bisa meraih kebahagiaan yang sejati. Karena kehidupannya akan terus diarahkan oleh Iblis. 

Apa yang membuat Iblis merasuki manusia? Tentu bukan karena orang telah berlumur dosa dan maksiat saja. Ketika orang terjatuh dalam maksiat lahir, semua orang tahu bahwa Iblis sedang menguasainya. Bahkan, tanpa upaya apapun dari Iblis, orang tersebut sudah mengarahkan dirinya sendiri dalam kemaksiatan. Seperti dia terperangkap dalam lumpur dosa. Makin kuat keinginan keluar dari jebakan, tapi justru dia makin terperosok ke dalam. 

Iblis tidak hanya menguasai pendosa, yang telah terperangkap dalam dosa. Dosa-dosa besar dan tampak tentu tidak perlu dipertanyakan, justru orang gampang dirasuki Iblis ketika dia yang menghiasi dirinya dengan kebaikan, kesalehan—tampak dari luar—tapi tidak disertai dengan kebersihan hati. Selagi orang mengingat diri, amal, dan segala kebanggaan yang bersemat padanya sangat dikhawatirkan seseorang akan dirasuki Iblis, dan diporak-poranda kehidupan jiwanya. 

Di suatu kesempatan Nabi Musa a.s bertemu dengan Iblis. Nabi Musa bertanya, “Apa perbuatan manusia yang memancing kau merasukinya?”. “Merasa bangga pada dirinya. Merasa banyak amalnya. Dan melupakan dosanya”, jawab Iblis.

Tentu perkara ini penting untuk kita merenunginya. Karena sikap-sikap ini kadang tanpa sadar memasuki rumah hati kita. Mungkin kita sudah beramal, dan ikhlas. Akan tetapi, diam-diam virus ujub memasuki hati kita. Merasa seluruh amal yang diperbuat dari kita. Padahal, kita sudah sering mengucapkan laa hawla walaaquwwata illaa billah.  Tapi kita masih sering mengakui bahwa perbuatan adalah perbuatan kita. Sejatinya sikap seperti itu menandakan perasaan mampu, hebat, dan beramal sholeh dengan kekuatan dan kedigdayaan yang dimiliki sendiri.

Sadarilah bahwa kita—keseluruhan—adalah milik Allah. Jika kita milik Allah, maka yang memancar dari kita tidak patut diakui sebagai milik kita. Melainkan milik Allah juga. Ketika Anda memberi infak pada sebuah lembaga, lantas lembaga itu oleh karena infak yang Anda salurkan, kemudian bisa mendirikan bangunan yang megah, lahir orang-orang yang terdidik dan bermanfaat dari lembaga itu.

Dengan eksistensi lembaga pendidikan itu yang makin berkibar, tiba-tiba tumbuh perasaan ujub dalam hati. Merasa bahwa lembaga itu menjadi besar oleh karena kontribusinya. Jika Anda menyadari sebagai milik Allah, maka harta yang Anda miliki sebenarnya dari Allah, tenaga yang dengannya Anda bisa menyerahkan juga milik Allah, hati yang memiliki niat juga milik Allah. Akal yang memikirkan cara untuk memberi juga dari Allah. Jika semuanya dari Allah, maka tak tertinggal sedikit pun yang bisa klaim sebagai milik kita.

Kedua, ketika orang merasa banyak amalnya. Hanya orang yang bergantung pada amal yang kemudian ketika beramal banyak, dia merasa sangat yakin masuk surga. Dan ketika beramal sedikit, dia putus asa, jikalau kemudian menceburkan ke neraka. Sejatinya orang merasa banyak beramal karena dia bergantung pada dirinya, pada kekuatannya sendiri. Tidak bergantung pada rahmat Allah. Karena itu, maka Ibnu Athaillah As-Sakandari menuntun kita agar tidak bergantung pada amal, tapi bergantung pada rahmat Allah. Banyaknya amal tidak bisa menyelamatkan seseorang dari neraka jika disertai dengan kesombongan. Karena sikap sombong menghalangi manusia masuk surga. Memudahkan seseorang masuk ke neraka. 

Agar kita selamat dari itu, maka kita harus merasa bahwa amal yang kita lakukan adalah hadiah dari Allah. Karunia dari Allah Swt. Ketika kesadaran ini tumbuh, alih-alih memercikkan perasaan sombong, tapi justru bersyukur kepada Allah. Seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman—dengan seluruh kekayaan yang diperoleh—sama sekali tidak merasa itu sebagai hasil ikhtiarnya. Melainkan dianggap sebagai karunia dari Allah. Ketika menganggap sebagai karunia dari Allah, lalu kita bersyukur. Iblis tidak akan mendatangi orang yang senantiasa bersyukur pada Allah. 

Ketiga, melupakan dosa. Mengapa kita tak boleh melupakan dosa? Agar kita senantiasa melangitkan istigfar pada Allah. Senantiasa mendekat pada Allah Swt. Manusia tak bisa aman dari dosa, tanpa penjagaan dan bimbingan dari Allah Swt. Karena itu, terus bergelayut dan bergantung pada Allah setiap saat. Kita mengingat dosa agar timbul ketakutan pada Allah, sekaligus menaikkan volume harapan akan pengampunan Allah yang selalu meliputi hamba-Nya. 

Kita perlu terus mengawasi hati, memastikan tidak ada tiga hal yang mengundang datangnya Iblis memporak-poranda hati. Mengawasi sekaligus memastikan hati kita tidak terpapar perasaan ujub terhadap diri sendiri. Mengawasi sekaligus memastikan bahwa hati kita tidak dihinggapi perasaan telah banyak melakukan amal kebajikan. Terakhir mengawasi sekaligus memastikan hati kita tidak melupakan atas dosa yang pernah dilakukan, sehingga selalu memancing semangat untuk bertobat kepada Allah.


BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang