Relasi dengan Nabi Muhammad Saw
27 January 2026
Bersyukurlah
karena Allah jadikan kita sebagai manusia. Bukankah manusia adalah makhluk yang
paling dimuliakan oleh Allah Swt? Saking mulianya manusia, Allah menjadikan
makhluk-Nya yang lain sebagai pelayan bagi manusia.
Kita bukan
hanya dimuliakan sebagai manusia, Allah memilih kita sebagai orang beriman.
Bukankah iman inilah yang membuat manusia makin hidup. Makin dekat dengan medan
kebahagiaan. Hanya dengan iman orang bisa menyambungkan hati dengan Allah.
Dalam ketersambungan hati dengan Allah, manusia akan bisa menggapai kebahagiaan
hakiki.
Karunia di
atas iman yang layak kita syukuri adalah karunia menjadi umat Nabi Muhammad
Saw. Orang terdahulu, sebelum Nabi Muhammad diutus, tentu yang beriman kepada
Allah, pasti telah mendapatkan kelezatan iman pada Allah. Akan tetapi, jalan
mereka sangat lambat untuk mencapai sumber kebahagiaan yang sejati. Hingga
Sayyidina Muhammad Saw, maka umat ini mendapatkan banyak sekali keberkahan dari
hadirnya beliau Saw.
Bayangkan, umat terdahulu selalu mendapatkan ganjaran atau pahala yang setimpal. Ketika melakukan maksiat, dia telah mendapatkan catatan satu dosa. Pun ketika menunaikan kebaikan, dia telah menorehkan satu pahala. Tentu berbeda dengan umat Nabi Muhammad Saw. Ketika melakukan satu perbuatan maksiat, dia dicatat mendapatkan satu dosa. Malah, ditunggu terlebih dahulu beberapa saat, sehingga mereka bertobat pada Allah, maka perbuatan maksiat itu tidak dicatat.
Sebaliknya, dikala menunaikan satu kebaikan, dicatat baginya sepuluh pahala.
Bahkan 70 hingga tanpa batas. Bahkan Allah mengaruniakan bulan-bulan yang di
dalamnya Allah berikan keistimewaan dengan pahala yang berlimpah. Misalnya,
malam Lailatul Qadr. Ibadah di dalamnya tercatat sama dengan ibadah 1000 bulan.
Sungguh luar biasa. Semua ibadah yang kita lakukan menjadi istimewa karena
dilihat dari kacamata sebagai umat Nabi Muhammad Saw.
Dari situ,
kita akan menyadari betapa tingginya kedudukan Sayyidina Muhammad Saw. Bukan
hanya berdampak pada diri beliau sendiri. Umatnya pun bisa memetik
“keberuntungan” dengan kehadiran beliau. Karena itu, selagi nyawa masih di
kandung badan, iman masih bersarang di hati, mari kita tingkatkan kualitas
hubungan kita dengan Nabi Muhammad Saw. Karena saya sangat yakin, bahwa
siapapun yang kuat hubungannya dengan Nabi Muhammad Saw, pasti hidupnya akan
dipenuhi kebahagiaan. Siapapun yang terhubung dengan Rasulullah Saw sudah
barang tentu terhubung pula dengan Allah Swt. Amal kita hanya washilah—yang
diharapkan—bisa menyambungkan kita dengan Allah Swt. Akan tetapi, kalau mau
jujur, amal kita belum jadi washilah menuju Allah, karena hati kita masih jauh
dari energi tulus dalam beramal.
Iya, kalau Anda coba renungkan, Allah memerintahkan kita menyembah atau beramal—merealiasikan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Akan tetapi, ibadah yang kita lakukan tidak serta-merta diterima. Ibadah hanya diterima ketika niatnya benar, caranya benar, dan sikap yang menyertainya benar. Ibadah tanpa disertai niat karena Allah akan membuat ibadah itu tertolak.
Tentu saja, niat yang dihadirkan di dalamnya adalah karena Allah.
Niat saja tidak cukup, tentu saja harus disertai dengan ilmu. Tanpa ilmu,
ibadah akan tertolak. Jika niat dan telah mengikuti ilmu, tapi sikap yang
mengalirinya juga belum bersih, belum tentu ibadah diterima oleh Allah. Karena
ada orang beribadah karena Allah, juga disertai pemahaman tentang ilmu
beribadah, akan tetapi disusupi oleh perasaan ujub, atau sombong, maka ibadah
itu tertolak di sisi Allah.
Kita
diharuskan tidak menghentikan ibadah kepada Allah, selagi kita menyadari
sebagai hamba-Nya, dan di sisi lain kita terus membenahi ibadah kita lahir dan
batin, sehingga benar-benar diterima oleh Allah.
Sekali
lagi, Allah memerintahkan kita beribadah, dan ibadah yang diterima oleh Allah
adalah ibadah yang disertai keikhlasan. Intinya, ibadah yang ikhlas menjadi
pengantar yang membawa kita dekat pada Allah.
Selain amal
ibadah, Allah memberi kunci untuk bisa terhubung dengan Allah yakni Nabi
Muhammad Saw. Kalau Anda terus memupuk hubungan dengan beliau Saw, maka
hubungan dengan Allah pun akan menjadi baik. Tanpa beliau Saw, ibadah tidak
mendapatkan qobul dari Allah. Shalat, misalnya, sebagai induk dari semua
ibadah. Tidaklah diterima shalat yang di dalamnya tidak dibacakan shalawat.
Kedudukan
shalawat diyakini sangat penting. Saking pentingnya sampai shalat tanpa
“distempel” dengan shalawat, maka tidak diterima oleh Allah. Selain itu,
shalawat disajikan sebagai amal yang dilakukan oleh Allah. Ketika Allah
perintahkan shalat, Allah tidak melakukan shalat. Ketika Allah perintahkan
zakat, Allah tidak menunaikan zakat. Ketika Allah perintahkan puasa, Allah
tidak menjalankan puasa. Demikian juga dengan haji. Akan tetapi, ketika Allah
perintahkan bershalawat, Allah terlebih dahulu mengonfirmasi bahwa Diri-Nya
juga para malaikat bershalawat pada Nabi Muhammad Saw.
Guru mulia
menurutkan, seluruh ibadah mencontoh pada Nabi Muhammad Saw, kecuali shalawat
pada beliau Saw dicontohkan oleh Allah Swt.
Shalawat
adalah merupakan ekspresi cinta kita pada Nabi Muhammad Saw. Jika ibadah bisa
ditolak bisa diterima, tapi tidak dengan shalawat. Shalawat akan selalu
diterima oleh Allah. Sekali lagi, shalawat diterima bukan karena kita yang
membaca shalawat, tapi yang diperdengarkan adalah nama Kekasih-Nya. Tidaklah
kekasih akan “bergetar” hatinya ketika nama kekasihnya disebut? Begitu juga,
Allah Swt tentu saja akan sangat senang Nama Kakasihnya disebut-sebut.
Seluruh
cinta Allah telah dicurahkan sepenuhnya pada Nabi Muhammad Saw. Karenanya siapa
yang mencintai Nabi Muhammad Saw—tercermin dari banyak membaca shalawat pada
beliau Saw—insya Allah akan mendulang kecintaan dari Allah SWT.
Jika ditanya, apa jalan tercepat menuju Allah Swt? Jalan tercepat menuju Allah adalah banyak bershalawat pada Nabi Muhammad Saw. Karenanya shalawat dibutuhkan bagi setiap level perjalanan. Bagi pemula, tetap sangat membutuhkan shalawat. Shalawat di sini berfungsi untuk membersihkan hati dari bermacam penyakitnya.
Bagi orang yang senantiasa mendawamkan shalawat, insya Allah pelan-pelan
penyakit hati berupa sombong, dengki, dan riya akan sirna dari dalam hati akan
berganti dengan sifat-sifat baik. Shalawat bisa mengikis hawa nafsu, juga bisa
mengikis keakuan. Dengan ketika bershalawat lebih banyak lagi, apalagi
merasakan kehadiran Nabi Muhammad Saw, maka pelan-pelan keakuan kita akan
lenyap. Kita akan memiliki jiwa menyemesta seperti Nabi Muhammad Saw. Mencintai
segalanya tanpa syarat. Dan menampilkan diri sebagai rahmat bagi semesta alam.






0 comments