Shalat Yang Berdampak
19 January 2026
Sedari
awal, tentu kita menyadari bahwa dunia bukan tempat kita yang hakiki. Seindah
apapun kehidupan dunia, sekeren apapun prestasi dan pencapaian yang telah kita
raih, setinggi apapun karir yang sudah kita gapai, tetap saja pada akhirnya
akan ditinggalkan. Hanya menjadi puing-puing sejarah. Bahkan mungkin tidak
dikenal sama sekali. Seolah abu yang beterbangan lalu tersapu oleh angin
perubahan yang bergerak sangat cepat. Anda takkan pernah menemukan kebahagiaan
yang supersempurna di segala sudut kehidupan dunia ini. Sesempurna apapun
kehidupan duniamu, tetap saja mempertontonkan celah kekurangan sana-sini.
Ketika Anda merasakan kekurangan, Anda seperti terlempar di lembah kehampaan.
Kemeranaan.
Mungkin
semua orang menghendaki kekayaan berjibun, menggunung, memenuhi rumahnya. Semua
fasilitas mengitarinya. Seolah tak ada jarak antar keinginan dan kenyataan.
Bahkan saking seringnya apa yang diinginkan mewujud jadi kenyataan, dia berani
memastikan setiap kenyataan akan selalu sesuai dengan keinginan. Dia merasa
sebagai pengendali kenyataan. Pelan-pelan akhirnya dia mendaku sebagai tuhan.
Menentukan segalanya berjalan sesuai dengan apa yang dipikirkan. Setelah
mendulang kekayaan yang berlimpah, ternyata dia tak bisa menghadang sakit yang
“menikamnya.” Dia tak bisa menikmati seluruh kekayaan dengan sangat memuaskan.
Bahkan, dia sangat kecewa, dongkol, mengapa sudah punya segala-galanya tapi
tidak boleh menikmati.
Badan
yang dulu atletis, sehat, dan lincah, kini sudah mulai didatangi ketuaan,
keriput sudah mulai menjalari kulitnya, makannya pun sudah tidak terasa enak
seperti dulu. Selalu saja menemukan kekurangan dari kehidupan dunia ini.
Seperti
Anda sedang disuguhi makanan yang superlezat. Tentu saja, Anda sangat
menyukainya. Akan tetapi, Anda tidak menemukan pelengkap makanan agar terasa
lebih nikmat. Kerupuk misalnya. Krupuk itu memang tidak ada. Tapi pikiran Anda—meski
sedang menikmati suguhan itu—terus saja tertuju pada krupuk yang tidak terlihat
sembari berandai-andai, “Andaikan ada kerupuknya, betapa nikmatnya makanan ini”.
Tentu saja, Anda tidak akan bisa menikmati makanan tersebut dengan sempurna.
Bagaimana
orang bisa mendapatkan kebahagiaan hidup yang mewah dari dunia, padahal dunia
adalah tempat ujian. Hanya ketika orang hatinya mulai tertambat pada Allah,
insya Allah taman-taman kebahagiaan bermekaran di jiwanya. Karena manusia—pada
dasarnya—ingin kembali ke masa yang sangat primitif, asli, tidak bercampur
dengan apapun. Ingin merasakan hubungan primordial yang sangat intens dengan
Allah. Karena asli, maka hubungan dengan Allah bersifat abadi.
Lantas, bagaimana cara kita mengoneksikan hubungan dengan Allah? Tidak ada lain, kecuali kita berusaha memperbaiki dan membenahi shalat kita. Tentu bukan hanya membenahi sisi lahirnya, tapi juga perlu dibenahi sisi batinnya. Sehingga kita tak hanya merasakan gerakan shalat, tapi juga menangkap rasa ruhani yang mengaliri shalat.
Ketika kita menoleh ke dunia, maka disana banyak sekali rona-rona kehidupan yang hanya meninggalkan penderitaan ke relung hati. Akan tetapi, ketika berpaling dari dunia, lalu menghadap pada Allah, maka kita akan merasakan sedang terhubung dengan segala sumber kesempurnaan dalam hidup Anda. Kalau Anda telah terhubung dengan Dia Yang Maha Segalanya, masihkah ada jejak penderitaan dalam hidup Anda? Ketika Anda shalat, Anda sedang naik dari kerendahan menuju ketinggian. Terbang dari dataran adna (yang paling rendah), menuju a’la (Yang Mahatinggi).
Kesadaran ini sejak awal harus
meliputi hati kita, sehingga hati kita hanya terkoneksi dengan Allah. Tidak
dengan yang lain. Mengapa hanya terkoneksi dengan Allah? Karena kalau Anda
fokus pada Allah, maka permasalahan hidupmu akan diselesaikan oleh Allah. Kalau
Allah turun tangan menyelesaikan urusanmu, siapa yang kiranya bisa menghadang
setiap perbuatan dan ketetapan Allah?
Lantas
apa yang harus kita lakukan agar sholat benar-benar menjadi penghubung antara
kita dengan Allah? Shalat bukan hanya melakukan. Tapi menegakkan atau
mendirikan. Dijalani dengan kesadaran penuh. Kehadiran penuh di hadapan Allah Swt.
Dan Anda tidak merasakan kehadiran penuh tersebut jika Anda tidak sedang jatuh
cinta.
Bukankah
ketika Anda sedang jatuh cinta, maka semua apa yang kau pandang seolah gambaran
orang yang kau cintai? Setiap apa yang kau dengar, seakan hanya suara dari
orang yang kau cintai. Setiap wewangian yang kau hirup selalu mengingatkan pada
harumnya si cantik yang kau cintai. Bahkan kemana saja Anda menghadap yang
terlihat oleh Anda hanya dia saja. Yang kau cintai saja. Bukan yang lain.
Begitu pula, ketika Anda sudah jatuh cinta pada Allah, maka Anda bisa hadir di
hadapan Allah. Bukankah Dia tujuan satu-satunya? Apakah Anda tidak mereguk
kebahagiaan yang sempurna dikala sudah terhubung dengan tujuan puncak?
Dikala
Anda mencintai Allah, Anda bukan hanya merasakan kehadiran-Nya, tapi Anda juga merasakan
bahwa Dia selalu memandangmu. Tidak pernah berpaling darimu. Disanalah Anda
merasakan muroqabatullah (pengawasan Allah) begitu sangat dekat. Tak ada
sesuatu pun yang bisa menghadang pengawasan dan penyaksian-Nya terhadap Anda. Mungkin
Anda yang sering terhijab dari Allah. Allah tidak pernah jauh dari Anda. Hanya
Anda yang selalu merasa jauh dari Allah. Padahal, hanya ketika Anda merasa
dekat dan diawasi oleh Allah, berdampak pada jiwamu yang tenang lagi kokoh, dan
hanya diharu-biru perasaan takut pada Allah saja. Bukankah orang yang diliputi
perasaan takut pada Allah, hatinya akan senantiasa berisi ketenangan?
Kalau
Anda telah merasakan kehadiran Allah—disebabkan cinta yang terus menguat di
hati—berarti Anda telah terhubung dengan Allah. Dan Anda tidak lagi berpaling
kepada yang lain. Karena Dialah sumber dari segala kenikmatan. Tambang dari
semua kebahagiaan. Jika sudah mendapatkan Allah, maka telah merasa mendapatkan
segala-galanya. Seperti halnya, lebah ketika masih bertemu dengan sarang madu,
ia akan meriung dan terbang kesana kemari. Akan tetapi, setelah dia menyesap
madu, maka tak lagi terdengar gemuruh suaranya. Bahkan terasa sangat hening.
Ketika Anda telah terhubung dengan Allah, maka seseorang akan mereguk perasaan damai. Bahkan menangkap kepuasan yang berlimpah-limpah. Dikala hati telah diliputi kedamaian dan kepuasan, maka seseorang akan bisa menyebarkan salam, rahmat, dan berkah. Hidupnya akan menjadi penerang yang bermanfaat bagi sesama.



0 comments