Ramadhan dan Triloka

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Ramadhan dan Triloka

17 February 2026

Ramadhan dan Triloka

17 February 2026


Tentu kita mengimpikan seluruh perjalanan hidup indah, segar, nyaman, dan membahagiakan. Meski bermacam kesulitan datang menghadang, tetap bisa dilewati dengan hati yang nyaman. Tidak panik. Anda, mungkin, melihat orang lain diterpa masalah, ketika yang lain sedang gelisah, sumpek, dan didera penderitaan tak tergambarkan, dia sendiri terlihat begitu santai, menikmati masalah tersebut dengan hati tenang, dan wajah yang rileks. 

Kenyataan yang dihadapi—secara lahiriah—sama, akan tetapi hatinya berbalut kondisi yang berbeda. Satunya seperti ditikam pisau penderitaan. Yang lainnya, seperti sedang memeroleh hembusan angin yang membersihkan keringat. Kebahagiaan tidak digantungkan pada keadaan luaran, tapi sangat ditentukan oleh keadaan yang terpatri dalam hati.

Ketika hati baik, maka akan terproyeksi pada kondisi luaran yang juga baik. Sebaliknya, jika hati buruk, maka memancar ke luar dengan keburukan. Rasulullah Saw bersabda:

لَوْ خَشَعَ قَلْبُهُ لَخَشَتْ جَوَارِحُهُ

 “Jika khusyuk hatinya, maka khusyuk pula anggota tubuhnya”.

Merujuk pada hal tersebut, yang mula-mula perlu dibenahi adalah hati. Ketika hati baik, bukan hanya dunianya yang akan menjadi baik. Akhirat kita pun akan menjadi baik. Hati yang baik tercemin pada ketakwaannya. Semakin takwa seseorang, insya Allah hati akan terbawa dalam kebaikan. Tentu saja menyebarkan kebaikan dimana-mana. Seperti bunga mawar yang harum semerbak. Dia tidak hanya menebar harum pada orang yang memuji dan membelainya. Bahkan, pada yang meremasnya, mawar juga menyuguhkan aroma harumnya.

Ramadhan membentuk kita menjadi orang yang bertakwa. Dengan takwa, kehidupan seseorang akan selalu terpandu dalam kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dalam situasi apapun di luar, kebahagiaan tetap berdiri kokoh dalam hatinya.

Bagaimana fungsi takwa dalam kehidupan dunia? Ketika orang bertakwa, di dunia dia akan senantiasa mendulang rahmat demi rahmat dari Allah. Kasih sayang Allah selalu menyertainya. Tidak ada masalah pelik yang akan menjumpai orang bertakwa. Bayangkan, dengan bertakwa, perkara rezeki selalu berada dalam jaminan Allah. Dia tidak akan mati kelaparan selagi bertakwa kepada Allah. Karena rezekinya telah dibagikan di langit, dan akan sampai sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Kehidupan rumah tangganya juga akan senantiasa dirawat oleh Allah. Disiram dengan sakinah, dipupuk dengan mawaddah, dan rahmat pun akan terus membasahi ladang kehidupan rumah tangganya.

Kebutuhan intelektual juga dipenuhi oleh Allah. Karena ketika bertakwa, seseorang telah terhubung dengan Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana. Orang bertakwa tidak pernah mengenal istilah ‘buntu’. Selalu terbuka jalan keluar. Dan jalan keluarnya sangat surprise. Dan Allah selalu membuka inspirasi bagi orang yang bertakwa dikala kena masalah. Inspirasi yang memandunya keluar dari lingkaran masalah yang dihadapi. Bukan hanya itu. 

Orang bertakwa akan mereguk kelezatan beribadah dan bermunajat kepada Allah. Seakan orang yang bertakwa akan mereguk madu di lahan-lahan dunia yang pada akhirnya menyisakan kebahagiaan dan ketenteraman di relung hatinya.

Kebutuhan seseorang dikala berada di dunia adalah rahmat Allah. Sekali lagi, rahmat Allah hanya bisa ditarik dengan energi ketakwaan yang menguat di hati.

 

Ketika di Alam Barzakh

Ramadhan pun menjangkau alam barzakh. Bagaimana seseorang bisa mencapai kenikmatan di alam barzakh? Apa yang diharapkan orang yang berada di alam barzakh? Ketika berada di alam barzakh, seseorang sangat mengharapkan pengampunan Allah. Sehingga tidak ada doa yang dilangitkan untuk orang-orang yang berada di alam barzakh kecuali doa memohonkan ampunan buat mereka.

Mengapa pengampunan sangat penting bagi mereka? Karena ketika Allah telah mengampuni dosa-dosa, berarti Allah telah mendekap mereka dengan ridha. Bukankah ridha adalah kenikmatan agung yang senantiasa kita minta? Ketika orang telah mendapatkan ridha Allah, dia telah merasakan keadaan surga, meski belum berada di surga. Bahkan, ridha Allah jauh lebih agung daripada surga. Mungkin saja, kita punya bertumpuk kesalahan, akan tetapi ketika Allah telah mengampuni, maka seluruh kesalahan tersapu bersih. Lalu, diangkat sebagai kekasih Allah.

Tanda seseorang memeroleh pengampunan di alam barzakh adalah ketika dia berada di dunia senantiasa berusaha memaafkan orang yang bersalah padanya. Meski orang selalu berbuat usil, mengganggu, bahkan menyakiti hatinya, dia tetap menyediakan hati untuk selalu memaafkan. Bukankah memaafkan membuat orang terhubung dengan karunia Allah yang tak terbatas?

Memaafkan disertai ridha seperti samudera yang tak bisa dikotori. Dia akan selalu bersih dan suci. Kalau Anda memaafkan orang lain, selain membukakan kebaikan pada orang lain, lebih-lebih membuka kunci bermacam kebaikan untuk diri kita. Jika seseorang gampang memaafkan kesalahan orang lain, itu mencerminkan Allah telah memaafkannya. Ridha pada-Nya. Ketika Allah ridha, kebahagiaan akan terus tercurah padanya.

Ketika di Alam Akhirat

Alam akhirat menjadi ujung perjalanan yang akan ditempuh manusia. Bisa saja ketakutan membayangi manusia semenjak berada di alam mahsyar. Ketika harus ditimbang. Ketika harus melintasi sirath. Dan bagaimana harus terjatuh di neraka. Atau bergerak cepat menuju surga. Yang paling dinantikan oleh orang yang berada di akhirat adalah selamat dari apa neraka. Setiap orang mukmin masuk surga. Tidak setiap orang beriman bebas dari api neraka. Ramadhan hadir untuk memandu kita menggapai pembebasan api neraka.

Orang masuk neraka oleh karena menumpuknya dosa. Akan tetapi, ketika dosa telah diampuni, apalagi Allah ridha pada hamba-Nya, maka dia bisa terbebas dari api neraka. Bagaimana tanda orang akan bebas dari api neraka? Ketika orang telah mencapai muhsin, maka orang itu telah terbebas dari api neraka. 

Siapa orang yang jiwanya telah diangkat di altar orang-orang muhsin? Dia tidak hanya memaafkan kesalahan orang lain, bahkan berbuat baik pada orang yang berbuat salah. Dia tidak mengizinkan hatinya disakiti, didera penderitaan sedikit pun. Sejak di pikiran dia telah menyelamatkan diri dari penderitaan. Bukan hanya begitu, dia sendiri telah berhasil mengikis keakuan sebagai akar penderitaan. Dia tidak pernah mengaku-ngaku atas setiap kebaikan yang dia suguhkan. Segala kebaikan yang memancar darinya diakui bahkan diyakini berasal dari Allah semata. Dia telah tenggelam dalam samudera Laa Hawla walaa quwwata illaa billah.

Dari uraian tersebut, diharapkan bisa memandu kita untuk memahami pesan hadist Nabi:

هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَأٰخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

“Ia adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah pengampunan, dan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka”.

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang