Ramadhan dan Triloka
17 February 2026
Tentu kita mengimpikan seluruh perjalanan hidup indah, segar, nyaman, dan membahagiakan. Meski bermacam kesulitan datang menghadang, tetap bisa dilewati dengan hati yang nyaman. Tidak panik. Anda, mungkin, melihat orang lain diterpa masalah, ketika yang lain sedang gelisah, sumpek, dan didera penderitaan tak tergambarkan, dia sendiri terlihat begitu santai, menikmati masalah tersebut dengan hati tenang, dan wajah yang rileks.
Kenyataan yang dihadapi—secara
lahiriah—sama, akan tetapi hatinya berbalut kondisi yang berbeda. Satunya
seperti ditikam pisau penderitaan. Yang lainnya, seperti sedang memeroleh
hembusan angin yang membersihkan keringat. Kebahagiaan tidak digantungkan pada
keadaan luaran, tapi sangat ditentukan oleh keadaan yang terpatri dalam hati.
Ketika
hati baik, maka akan terproyeksi pada kondisi luaran yang juga baik.
Sebaliknya, jika hati buruk, maka memancar ke luar dengan keburukan. Rasulullah
Saw bersabda:
لَوْ خَشَعَ قَلْبُهُ لَخَشَتْ
جَوَارِحُهُ
“Jika khusyuk hatinya, maka khusyuk
pula anggota tubuhnya”.
Merujuk
pada hal tersebut, yang mula-mula perlu dibenahi adalah hati. Ketika hati baik,
bukan hanya dunianya yang akan menjadi baik. Akhirat kita pun akan menjadi
baik. Hati yang baik tercemin pada ketakwaannya. Semakin takwa seseorang, insya
Allah hati akan terbawa dalam kebaikan. Tentu saja menyebarkan kebaikan
dimana-mana. Seperti bunga mawar yang harum semerbak. Dia tidak hanya menebar
harum pada orang yang memuji dan membelainya. Bahkan, pada yang meremasnya,
mawar juga menyuguhkan aroma harumnya.
Ramadhan
membentuk kita menjadi orang yang bertakwa. Dengan takwa, kehidupan seseorang
akan selalu terpandu dalam kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dalam situasi
apapun di luar, kebahagiaan tetap berdiri kokoh dalam hatinya.
Bagaimana
fungsi takwa dalam kehidupan dunia? Ketika orang bertakwa, di dunia dia akan
senantiasa mendulang rahmat demi rahmat dari Allah. Kasih sayang Allah selalu
menyertainya. Tidak ada masalah pelik yang akan menjumpai orang bertakwa.
Bayangkan, dengan bertakwa, perkara rezeki selalu berada dalam jaminan Allah.
Dia tidak akan mati kelaparan selagi bertakwa kepada Allah. Karena rezekinya
telah dibagikan di langit, dan akan sampai sesuai dengan apa yang Allah
kehendaki.
Kehidupan
rumah tangganya juga akan senantiasa dirawat oleh Allah. Disiram dengan
sakinah, dipupuk dengan mawaddah, dan rahmat pun akan terus membasahi ladang
kehidupan rumah tangganya.
Kebutuhan intelektual juga dipenuhi oleh Allah. Karena ketika bertakwa, seseorang telah terhubung dengan Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana. Orang bertakwa tidak pernah mengenal istilah ‘buntu’. Selalu terbuka jalan keluar. Dan jalan keluarnya sangat surprise. Dan Allah selalu membuka inspirasi bagi orang yang bertakwa dikala kena masalah. Inspirasi yang memandunya keluar dari lingkaran masalah yang dihadapi. Bukan hanya itu.
Orang bertakwa akan mereguk kelezatan
beribadah dan bermunajat kepada Allah. Seakan orang yang bertakwa akan mereguk
madu di lahan-lahan dunia yang pada akhirnya menyisakan kebahagiaan dan
ketenteraman di relung hatinya.
Kebutuhan
seseorang dikala berada di dunia adalah rahmat Allah. Sekali lagi, rahmat Allah
hanya bisa ditarik dengan energi ketakwaan yang menguat di hati.
Ketika
di Alam Barzakh
Ramadhan
pun menjangkau alam barzakh. Bagaimana seseorang bisa mencapai kenikmatan di
alam barzakh? Apa yang diharapkan orang yang berada di alam barzakh? Ketika
berada di alam barzakh, seseorang sangat mengharapkan pengampunan Allah.
Sehingga tidak ada doa yang dilangitkan untuk orang-orang yang berada di alam
barzakh kecuali doa memohonkan ampunan buat mereka.
Mengapa
pengampunan sangat penting bagi mereka? Karena ketika Allah telah mengampuni
dosa-dosa, berarti Allah telah mendekap mereka dengan ridha. Bukankah ridha
adalah kenikmatan agung yang senantiasa kita minta? Ketika orang telah
mendapatkan ridha Allah, dia telah merasakan keadaan surga, meski belum berada
di surga. Bahkan, ridha Allah jauh lebih agung daripada surga. Mungkin saja,
kita punya bertumpuk kesalahan, akan tetapi ketika Allah telah mengampuni, maka
seluruh kesalahan tersapu bersih. Lalu, diangkat sebagai kekasih Allah.
Tanda
seseorang memeroleh pengampunan di alam barzakh adalah ketika dia berada di
dunia senantiasa berusaha memaafkan orang yang bersalah padanya. Meski orang
selalu berbuat usil, mengganggu, bahkan menyakiti hatinya, dia tetap
menyediakan hati untuk selalu memaafkan. Bukankah memaafkan membuat orang
terhubung dengan karunia Allah yang tak terbatas?
Memaafkan
disertai ridha seperti samudera yang tak bisa dikotori. Dia akan selalu bersih
dan suci. Kalau Anda memaafkan orang lain, selain membukakan kebaikan pada
orang lain, lebih-lebih membuka kunci bermacam kebaikan untuk diri kita. Jika
seseorang gampang memaafkan kesalahan orang lain, itu mencerminkan Allah telah
memaafkannya. Ridha pada-Nya. Ketika Allah ridha, kebahagiaan akan terus
tercurah padanya.
Ketika
di Alam Akhirat
Alam
akhirat menjadi ujung perjalanan yang akan ditempuh manusia. Bisa saja
ketakutan membayangi manusia semenjak berada di alam mahsyar. Ketika harus
ditimbang. Ketika harus melintasi sirath. Dan bagaimana harus terjatuh di
neraka. Atau bergerak cepat menuju surga. Yang paling dinantikan oleh orang
yang berada di akhirat adalah selamat dari apa neraka. Setiap orang mukmin
masuk surga. Tidak setiap orang beriman bebas dari api neraka. Ramadhan hadir
untuk memandu kita menggapai pembebasan api neraka.
Orang masuk neraka oleh karena menumpuknya dosa. Akan tetapi, ketika dosa telah diampuni, apalagi Allah ridha pada hamba-Nya, maka dia bisa terbebas dari api neraka. Bagaimana tanda orang akan bebas dari api neraka? Ketika orang telah mencapai muhsin, maka orang itu telah terbebas dari api neraka.
Siapa orang
yang jiwanya telah diangkat di altar orang-orang muhsin? Dia tidak hanya
memaafkan kesalahan orang lain, bahkan berbuat baik pada orang yang berbuat
salah. Dia tidak mengizinkan hatinya disakiti, didera penderitaan sedikit pun.
Sejak di pikiran dia telah menyelamatkan diri dari penderitaan. Bukan hanya
begitu, dia sendiri telah berhasil mengikis keakuan sebagai akar penderitaan.
Dia tidak pernah mengaku-ngaku atas setiap kebaikan yang dia suguhkan. Segala
kebaikan yang memancar darinya diakui bahkan diyakini berasal dari Allah
semata. Dia telah tenggelam dalam samudera Laa Hawla walaa quwwata illaa
billah.
Dari
uraian tersebut, diharapkan bisa memandu kita untuk memahami pesan hadist Nabi:
هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ
وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَأٰخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Ia adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah pengampunan, dan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka”.


0 comments