Vibes of Ramadhan

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Vibes of Ramadhan

11 February 2026

Vibes of Ramadhan

11 February 2026


Setiap orang yang menyimpan api iman di dadanya, menaruh kerinduan yang membara di hatinya, bertekad menjalin kemesraan lalu mewariskan kesan indah di dalam jiwa, tentu saja, mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya Ramadhan. Ramadan hanya sebulan, tapi mengandung keutamaan dan keistimewaan yang melebihi semua bulan sepanjang tahun. Bahkan pucuk dan pimpinan dari semua bulan dipercayakan pada Ramadhan.

Saking istimewanya Ramadhan, para sahabat sudah mulai membincangkan Ramadhan sebelum Ramadan tiba. Seperti halnya sosok tamu agung yang beberapa bulan akan tiba, mereka telah menyiapkan jiwa untuk menyambutnya. Halaqah majelis mulai mengobrol dan membahas tentang Ramadhan. Sampai tiba di telinga kita sebuah hadis “Siapa yang bergembira dengan masuknya Ramadhan Allah haramkan jasadnya masuk neraka”.

Ramadhan menjadi sangat memikat, karena disana berhimpun bermacam berkah. Karena itu, Rasulullah Saw mengajarkan sebait doa, “Allahumma Baarik lanaa fii Rojaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rojab dan Bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada Bulan Ramadhan”.

Melalui doa ini, kita bisa menangkap pesan yang implisit bahwa persiapan kita menuju Ramadhan jangan menunggu pas Ramadhan tiba. Perlu dipersiapkan dua bulan sebelum Ramadhan tiba. Terutama menyiapkan hati—sebagai wadah spiritual—agar siap menampung khazanah ruhani dari Allah.

Kalau kita telusuri dengan seksama sebelum memasuki istana Ramadhan. Kita harus melewati dua bulan, yakni Rojab dan Sya’ban. Guru mulia menggambarkan, jika Ramadhan dimisalkan dengan mihrab, tentu saja orang tidak tiba-tiba menggapai mihrab. Dia harus melewati gapura terlebih dahulu, lalu sampai ke teras masjid, dan masuk ke dalam masjid. Disanalah dia akan bertemu dengan mihrab.

Bulan Rojab diposisikan sebagai gapura. Seseorang tidak bisa mencapai masjid kecuali dia melintasi gapura terlebih dahulu. Apa makna dari gapura? Gapura menyimpan pesan agar seseorang menyuguhkan pertobatan pada Allah. Bukankah hanya dengan tobat hati akan bersih? Dan perlu Anda ketahui, bahwa Allah hanya menerima hati yang bersih. Bebas dari penyakit. Ketika orang telah membiasakan diri bertobat, Allah akan mendekapnya dengan cinta-Nya. Tanda Allah mencintai seorang hamba, di dalam hati akan memancar cinta yang kuat pada-Nya. Bukankah orang yang melanggengkan tobat akan mendapatkan cinta Allah. “Innallaha yuhibbut tawwabiina wayubbul mutathahhirin”.

Ketika orang telah diterima tobatnya, maka dia akan dipersilakan memasuki perlintasan berikutnya. Teras masjid. Sedang memasuki rahmat Allah. Kecintaan Allah. Tidak ada sosok yang paling Allah cintai kecuali Nabi Muhammad Saw. Ketika orang telah tenggelam dalam kecintaan pada Nabi Muhammad Saw, maka sebuah keniscayaan orang itu akan disemati cinta dari Allah. Karenanya, ketika orang telah sampai di teras Sya’ban, perlulah terus mengungkapkan kegembiraan jiwanya dengan anugerah Nabi Muhammad Saw dengan cara memperbanyak shalawat padanya. 

Makin banyak bershalawat tercurah pada Nabi Saw, maka hati akan dihiasi cinta yang berkelimpahan. Bukankah cinta yang akan selalu menarik yang dicintai agar datang? Sadarilah bahwa relasi antara Allah dan Nabi Muhammad Saw bagaikan sepasang kekasih. Sepasang kekasih tidak pernah terpisah. Ketika Anda—misalnya—menyebut nama Nabi Muhammad maka sekaligus menyebut nama Allah Swt. Kalau Anda hendak pengin dekat pada Allah, maka sebut dan dekati Sayyidina Muhammad Saw.

Guru Mulia menggambarkan seperti halnya sepasang merpati. Jika Anda meletakkan merpati betina di tempat yang terjauh sekalipun, merpati jantan akan berusaha menemukannya. Begitu pula, agar kau mendapatkan kecintaan Allah, maka cintailah kekasih-Nya dengan sepenuh hati. Ketika Anda mencintai Rasulullah sepenuh hati, maka Anda akan mendulang cinta dari Allah Swt. 

Dikala hati telah dihiasi cinta, maka hati akan mengalami keikhlasan dan sukacita. Ketika orang telah menjalani kehidupan dengan ikhlas dan suka cita sudah barang tentu, dia telah mengalami kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan bukan lagi sebagai gagasan. Melainkan sebagai pengalaman dan ahwal yang memenuhi jiwa.

Dikala hati telah dipenuhi cinta (pada Allah), maka seseorang telah memiliki modal untuk dekat pada Allah. Bukankah cinta yang menggerakkan seseorang untuk terus mendekati, lalu dekat dengan yang dicintai? Jika Anda dekat dengan yang dicintai, disana kau akan merasakan kemesraan bersamanya. Begitu juga, ketika hati Anda telah dikuasai cinta pada Allah, maka setiap ibadah yang kau jalani senantiasa menumbuhkan kemesraan dan kebahagiaan. Ibadah tidak lagi seremoni, formalitas, apalagi beban. Akan tetapi, ibadah berperan sebagai sumber kebahagiaan yang senantiasa dinantikan.

Cinta pada Allah menjadi jiwa yang mendasari dari ibadah puasa. Disana terasa getaran ketulusan, kerinduan, dan kehendak untuk menyatu. Saya teringat dengan hadis Qudsi “As-shaumu lii wa ana ajzii bihi”. Puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi pahalanya. Sebagian ulama sufi membuat rangkaian yang jauh lebih mesra. “As-Shaumu lii wa ana ajzan bihii”. Puasa itu untuk-Ku dan Akulah pahalanya.

Puasa seperti sebuah perjalanan yang membawa orang makin dekat dan terus dekat pada Allah. Dekatnya manusia pada Allah tidak seperti kedekatan pada sesama. Mungkin saja Anda jauh dari seseorang, kerinduan menggelagar dari jiwa Anda. Dengan segala perjuangan yang kau curahkan, lalu Anda bisa bertemu dengan orang itu. Terjalin dalam kedekatan. Dikala Anda dekat, Anda tak lagi merasakan kerinduan menghunjam di jiwamu.

Sementara kedekatan kepada Allah membuat api kerinduan makin berkobar. Seolah kita sedang terbuai dalam kerinduan yang tak berakhir. Kita terus jatuh cinta pada-Nya. Karena Dia selalu hadir dengan keunikan-Nya.

Dengan modal cinta dan kerinduan mendalam, ayo kita nikmati Ramadhan dengan amal ibadah yang membuat hati terus berbahagia setiap saat. Kita nikmati jamuan Allah yang amat lezat. Selami syahdunya ibadah pada Allah, rasakan lezatnya membaca Al-Qur’an, temukan nikmatnya berzikir pada Allah, merasakan nikmatnya diam di masjid dengan i’tikaf. Diharapkan segenap ibadah yang kita jalani dengan penuh cinta membentuk kita menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Bukankah dalam takwa itulah terkandung kebahagiaan yang tak tergambarkan?

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang