Vibes of Ramadhan
11 February 2026
Setiap
orang yang menyimpan api iman di dadanya, menaruh kerinduan yang membara di
hatinya, bertekad menjalin kemesraan lalu mewariskan kesan indah di dalam jiwa,
tentu saja, mereka tidak akan pernah menyia-nyiakan datangnya Ramadhan. Ramadan
hanya sebulan, tapi mengandung keutamaan dan keistimewaan yang melebihi semua
bulan sepanjang tahun. Bahkan pucuk dan pimpinan dari semua bulan dipercayakan
pada Ramadhan.
Saking
istimewanya Ramadhan, para sahabat sudah mulai membincangkan Ramadhan sebelum
Ramadan tiba. Seperti halnya sosok tamu agung yang beberapa bulan akan tiba,
mereka telah menyiapkan jiwa untuk menyambutnya. Halaqah majelis mulai
mengobrol dan membahas tentang Ramadhan. Sampai tiba di telinga kita sebuah
hadis “Siapa yang bergembira dengan masuknya Ramadhan Allah haramkan jasadnya masuk
neraka”.
Ramadhan
menjadi sangat memikat, karena disana berhimpun bermacam berkah. Karena itu,
Rasulullah Saw mengajarkan sebait doa, “Allahumma Baarik lanaa fii Rojaba wa
Sya’bana wa ballighna Ramadhan. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rojab dan
Bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada Bulan Ramadhan”.
Melalui
doa ini, kita bisa menangkap pesan yang implisit bahwa persiapan kita menuju
Ramadhan jangan menunggu pas Ramadhan tiba. Perlu dipersiapkan dua bulan
sebelum Ramadhan tiba. Terutama menyiapkan hati—sebagai wadah spiritual—agar
siap menampung khazanah ruhani dari Allah.
Kalau
kita telusuri dengan seksama sebelum memasuki istana Ramadhan. Kita harus
melewati dua bulan, yakni Rojab dan Sya’ban. Guru mulia menggambarkan, jika
Ramadhan dimisalkan dengan mihrab, tentu saja orang tidak tiba-tiba menggapai
mihrab. Dia harus melewati gapura terlebih dahulu, lalu sampai ke teras masjid,
dan masuk ke dalam masjid. Disanalah dia akan bertemu dengan mihrab.
Bulan
Rojab diposisikan sebagai gapura. Seseorang tidak bisa mencapai masjid kecuali
dia melintasi gapura terlebih dahulu. Apa makna dari gapura? Gapura menyimpan
pesan agar seseorang menyuguhkan pertobatan pada Allah. Bukankah hanya dengan
tobat hati akan bersih? Dan perlu Anda ketahui, bahwa Allah hanya menerima hati
yang bersih. Bebas dari penyakit. Ketika orang telah membiasakan diri bertobat,
Allah akan mendekapnya dengan cinta-Nya. Tanda Allah mencintai seorang hamba,
di dalam hati akan memancar cinta yang kuat pada-Nya. Bukankah orang yang
melanggengkan tobat akan mendapatkan cinta Allah. “Innallaha yuhibbut
tawwabiina wayubbul mutathahhirin”.
Ketika orang telah diterima tobatnya, maka dia akan dipersilakan memasuki perlintasan berikutnya. Teras masjid. Sedang memasuki rahmat Allah. Kecintaan Allah. Tidak ada sosok yang paling Allah cintai kecuali Nabi Muhammad Saw. Ketika orang telah tenggelam dalam kecintaan pada Nabi Muhammad Saw, maka sebuah keniscayaan orang itu akan disemati cinta dari Allah. Karenanya, ketika orang telah sampai di teras Sya’ban, perlulah terus mengungkapkan kegembiraan jiwanya dengan anugerah Nabi Muhammad Saw dengan cara memperbanyak shalawat padanya.
Makin
banyak bershalawat tercurah pada Nabi Saw, maka hati akan dihiasi cinta yang
berkelimpahan. Bukankah cinta yang akan selalu menarik yang dicintai agar
datang? Sadarilah bahwa relasi antara Allah dan Nabi Muhammad Saw bagaikan
sepasang kekasih. Sepasang kekasih tidak pernah terpisah. Ketika
Anda—misalnya—menyebut nama Nabi Muhammad maka sekaligus menyebut nama Allah Swt.
Kalau Anda hendak pengin dekat pada Allah, maka sebut dan dekati Sayyidina
Muhammad Saw.
Guru Mulia menggambarkan seperti halnya sepasang merpati. Jika Anda meletakkan merpati betina di tempat yang terjauh sekalipun, merpati jantan akan berusaha menemukannya. Begitu pula, agar kau mendapatkan kecintaan Allah, maka cintailah kekasih-Nya dengan sepenuh hati. Ketika Anda mencintai Rasulullah sepenuh hati, maka Anda akan mendulang cinta dari Allah Swt.
Dikala hati telah dihiasi cinta,
maka hati akan mengalami keikhlasan dan sukacita. Ketika orang telah menjalani
kehidupan dengan ikhlas dan suka cita sudah barang tentu, dia telah mengalami
kebahagiaan yang sebenarnya. Kebahagiaan bukan lagi sebagai gagasan. Melainkan
sebagai pengalaman dan ahwal yang memenuhi jiwa.
Dikala
hati telah dipenuhi cinta (pada Allah), maka seseorang telah memiliki modal
untuk dekat pada Allah. Bukankah cinta yang menggerakkan seseorang untuk terus
mendekati, lalu dekat dengan yang dicintai? Jika Anda dekat dengan yang
dicintai, disana kau akan merasakan kemesraan bersamanya. Begitu juga, ketika
hati Anda telah dikuasai cinta pada Allah, maka setiap ibadah yang kau jalani
senantiasa menumbuhkan kemesraan dan kebahagiaan. Ibadah tidak lagi seremoni,
formalitas, apalagi beban. Akan tetapi, ibadah berperan sebagai sumber
kebahagiaan yang senantiasa dinantikan.
Cinta
pada Allah menjadi jiwa yang mendasari dari ibadah puasa. Disana terasa getaran
ketulusan, kerinduan, dan kehendak untuk menyatu. Saya teringat dengan hadis
Qudsi “As-shaumu lii wa ana ajzii bihi”. Puasa itu untuk-Ku dan Akulah
yang akan memberi pahalanya. Sebagian ulama sufi membuat rangkaian yang jauh
lebih mesra. “As-Shaumu lii wa ana ajzan bihii”. Puasa itu untuk-Ku dan
Akulah pahalanya.
Puasa
seperti sebuah perjalanan yang membawa orang makin dekat dan terus dekat pada
Allah. Dekatnya manusia pada Allah tidak seperti kedekatan pada sesama. Mungkin
saja Anda jauh dari seseorang, kerinduan menggelagar dari jiwa Anda. Dengan
segala perjuangan yang kau curahkan, lalu Anda bisa bertemu dengan orang itu.
Terjalin dalam kedekatan. Dikala Anda dekat, Anda tak lagi merasakan kerinduan
menghunjam di jiwamu.
Sementara
kedekatan kepada Allah membuat api kerinduan makin berkobar. Seolah kita sedang
terbuai dalam kerinduan yang tak berakhir. Kita terus jatuh cinta pada-Nya.
Karena Dia selalu hadir dengan keunikan-Nya.
Dengan
modal cinta dan kerinduan mendalam, ayo kita nikmati Ramadhan dengan amal
ibadah yang membuat hati terus berbahagia setiap saat. Kita nikmati jamuan
Allah yang amat lezat. Selami syahdunya ibadah pada Allah, rasakan lezatnya
membaca Al-Qur’an, temukan nikmatnya berzikir pada Allah, merasakan nikmatnya
diam di masjid dengan i’tikaf. Diharapkan segenap ibadah yang kita jalani
dengan penuh cinta membentuk kita menjadi orang yang bertakwa kepada Allah.
Bukankah dalam takwa itulah terkandung kebahagiaan yang tak tergambarkan?


0 comments