Dunia Yang Tak Lagi Sama
15 April 2026
Setiap orang ingin
jadi orang beruntung. Tidak ada satu pun makhluk yang ingin terperangkap dalam
kecelakaan, ketersiksaan, apalagi penderitaan yang terus-menerus. Bukan hanya
manusia yang tak menghendaki penderitaan, binatang, dan bahkan pohon pun juga
tak ingin terlempar dalam penderitaan.
Perhatikan
cacing yang membuat rumah di lumpur atau tanah yang gempur. Jika ada orang yang
tiba-tiba menginjaknya, tentu saja cacing itu akan menggeliat. Ia tak mau
dizalimi. Ia mau hidup damai. Perhatikan juga bunga puteri malu. Ketika Anda
mendekati, dia akan mengatup. Dia tak mau orang mengganggunya.
Dari contoh
yang saya tampilkan, mengonfirmasi pada kita bahwa seluruh makhluk ingin
bahagia. Tak terkecuali Iblis. Iblis tentu saja ingin bahagia. Bahkan
menghendaki sebagai satu-satunya makhluk yang bahagia. Selalu berada di level
teratas dari siapapun. Akan tetapi, kesombongan menghancurkan di tempat yang
paling rendah dan hina sepanjang sejarah kehidupan dunia. Ia salah paham
tentang kebahagiaan. Seakan kebahagiaan itu diperoleh ketika orang menjadi
satu-satunya dan paling hebat. Padahal, kebahagiaan hanya mengisi hati orang
yang rendah hati.
Menjaga sikap
tawadhu tetap bertahan untuk menampung kebahagiaan yang semakin berlimpah.
Selain itu, memperluas hati dengan kedermawanan. Luasnya hati tergambar dari ke-loman-an
atau kedermawanan yang ditampilkan. Dikala orang berkalu loman, kebahagiaan
datang sendiri. Tanpa harus mencarinya. Sebaliknya, orang yang
bersungguh-sungguh mencari kebahagiaan, seperti halnya mencari uang. Dengan dia
bekerja keras untuk memenuhi diri sendiri, justru kebahagiaan tidak segera
berkunjung dan menetap di hatinya.
Bahagia di
Tengah Disrupsi
Perubahan mendadak. Tak pernah bisa kita prediksi. Memang kehidupan di luar benar-benar tidak berada dalam kendali kita. Tak ada yang bisa mengendalikan. Andaikan ada yang bisa mengendalikan, tentu ada orang yang paham rem kehidupan itu dimana. Dikala kehidupan melaju kencang, dia bisa mengeremnya. Tapi, nyatanya tak ada yang mampu mengeremnya. Jika Anda tidak mampu mengerem laju kehidupan ini, maka tentu Anda ada yang bisa mengendalikan kehidupan.
Dialah Raja di Raja. Penguasa
seluruh alam. Jika kita merasa hidup ini berada dalam kekuatan selain Allah,
Anda akan didesak oleh rasa takut yang berlebihan. Kita yakin, mereka
berkarakter jahat. Bisa saja menerkam orang. Menghanguskan kemanusiaan. Kita
tetap harus meyakini bahwa kehidupan berada dalam kendali Allah. Jika keyakinan
ini bersemayam kokoh di hati kita, tentu saja kita akan diliputi perasaan
tenang. Selain itu, kita akan terus bersandar pada-Nya.
Kalau Anda telah bersandar kuat-kuat pada Allah, maka Anda pun akan menjadi orang yang kuat. Anda seperti setetes air yang menyerahkan diri pada samudera. Setetes air—mungkin—tidak punya kekuatan apa-apa. Akan tetapi, ketika setetes air melebur dengan samudera, maka ia menjelma dengan kekuatan samudera.
Dikala
hati telah menancap dalam keyakinan yang kokoh pada Allah, maka tidak ada lagi
kecemasan yang harus menyusupi hati. Bukankah ketika segala perkara disandarkan
pada Allah, insya Allah akan beres. Selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Dia
takkan pernah mengecewakan orang yang bersandar pada-Nya. Mungkin saja, kenyataan
tidak sesuai ekspektasi. Akan tetapi, tak jarang menjadi jalur yang melebihi
ekspektasi.
Bayangkan,
ketika Rasulullah Saw mendapatkan hembus kabar provokatif dari orang-orang
kafir dan munafik akan datangnya serangan berbagai kabilah pada kaum muslimin.
Beliau dan para sahabat sama sekali tidak gentar apalagi gemetar. Pasokan iman
justru makin bertambah di hati para sahabat, dengan menginjeksikan kalimat ‘hasbunallah
wanikmal wakiil’.
Rasulullah Saw
dan para sahabat tidak hanya merapal doa itu. Bahkan doa itu telah menjadi
energi yang memenuhi jiwa mereka. Selain berdoa, menjelang perang itu para
sahabat membuat parit atas inisiatif dari Salman Al Farisi. Rasulullah dan para
sahabat gotong royong berjibaku mengeruk tanah, hingga terbuatlah banyak parit.
Ajaibnya,
ketika orang-orang kafir datang hendak menggempur, tiba-tiba datang badai yang
dengan kekuatan dahsyat menghantam mereka. Sehingga mereka berjatuhan dan tewas
tanpa harus diperangi oleh kaum muslimin. Memang pertolongan Allah selalu tak
terduga. Ajaib. Tak terjangkau oleh pikiran manusia.
Kadang kita
telah merancang dan menyiapkan sebab-sebab untuk mencapai sesuatu yang kita
tuju. Akan tetapi, Allah ternyata membuat sebab lain untuk mencapai itu. Dan
sebab yang dilakukan Allah pasti berhasil, sementara sebab yang dirancang
manusia belum tentu tercapai.
Masa Depan
Terlihat Indah
Kita perlu
sadar bahwa masa depan berada dalam perencanaan Allah, dan takkan pernah
bergeser. Kalau rencana manusia bisa saja meleset, bergeser, dan berubah total.
Akan tetapi, rencana Allah dan realisasinya akan selalu presisi. Tidak ada
rencana Allah yang gagal.
Manusia boleh
berencana, tapi jangan menyandarkan diri pada rencana. Karena siapa yang
menyandarkan pada rencananya sendiri, apalagi memandang rencana itu yang
terbaik, maka ketika rencana tidak terwujud, justru hati akan diremukkan oleh
rasa kecewa. Kita boleh berencana dan menjalani tahap demi tahap rencana
tersebut, namun terkait hasil benar-benar terkunci oleh kekuasaan Allah. Kita
tak bisa menetapkan hasil. Hanya bisa menetapkan rencana. Mungkin saja, Anda
bisa menetapkan hasil, sesuai dengan kebiasaan yang Anda alami. Akan tetapi,
hasil itu pasti tidak sama persis dengan pencapaian sebelumnya.
Kita perlu menyadari
yang mengatur kehidupan ini adalah Allah, dan kita mendapati pengaturan Allah
tercermin pada alam semesta yang sangat rapi dan teratur. Jika mengatur alam
semesta ini dengan indah dan eksotik, tentu saja Allah tidak keberatan mengatur
kehidupan kita. Keyakinan akan memandu kita menjalani kehidupan dengan tenang,
nyaman, indah, tetapi tetap bertenaga. Karena telah memadukan rencana, usaha,
dan kekuatan tawakkal.



0 comments