Kebaikan menghapus Seluruh Keburukan
22 April 2026
Adalah
seorang wanita pelacur, berlumur dosa, tertimbun oleh kesalahan. Dia telah
menjual dirinya. Begitu lama dia menekuni pekerjaan tersebut. Sehingga tibalah
waktu, timbul dorongan kuat dari dalam dirinya untuk pulang, kembali ke kampung
halaman. Pulanglah dia menuju kampung halaman.
Di
tengah jalan, dia mendapati anjing yang tergeletak, terbujur. Dia mendekati,
dan menemukan anjing itu sekarat. Nyaris meninggal. Hatinya tersentuh, sembari
memutar otak bagaimana caranya memberikan pertolongan segera terhadap anjing
itu. Tanpa berpikir panjang, dia berlari kesana kemari mencari air yang
mengalir.
Dia
tak mendapati air dimana-mana. Matanya tertumpuk pada sebuah sumur. Dia segera
mendekati sumur itu. Dia mendapati sumur itu digenangi air. Dia langsung
menuruni sumur itu dengan sekuat tenaga. Karena didorong oleh welas asihnya
yang begitu besar pada anjing yang sedang mengalami sekarat.
Dia
pun berhasil menuruni sumur, dan menyauk air dari sumur dengan menggunakan
sepatunya. Setelah berhasil menimba air tersebut, dia langsung menaiki tangga
hingga sampai kembali ke bibir sumur. Dia langsung berlari kecil menuju anjing
yang sedang terbujur di tanah. Berkali-kali dia bolak-balik dari sumur menuju
anjing tersebut. Sehingga akhirnya, anjing itu kembali pulih. Sehat kembali.
Ketahuilah,
tersebab welas asihnya pada anjing itu, Allah berkenan mengampuni seluruh dosa
wanita itu.
Dari
kisah tersebut, tentu kita akan merenungkan betapa sesungguhnya welas asih yang
tulus bisa mendatangkan pengampunan Allah. Kalau Allah mengampuni seorang
hamba, tentu saja Allah akan mencurahkan hidayah. Menyediakan kompas kebenaran
dalam hatinya, sehingga sepanjang jalan hidupnya, dia akan selalu berpelukan
dengan kebahagiaan.
Jika
Anda menyayangi sesama dengan tulus, Allah pun akan menyayanginya. Jika Allah
sayang, suatu yang paling berharga bagi jiwa berupa iman akan Allah patrikan
dalam hatinya. Mengapa welas asih punya kekuatan yang sangat dahsyat? Ingatlah,
welas asih itu adalah sifat Allah. Jika seseorang mengenakan sifat Allah dengan
tulus, maka Allah akan terus mengucurkan kasih sayang padanya, bahkan Allah
angkat derajatnya pada maqam yang tinggi.
Boleh jadi kisah ini masih teringat di pikiran dan hati Anda. Kisah tentang siapa? Kisah tentang Sayyidina Umar bin Khattab r.a. Di suatu kesempatan, seorang sahabat bermimpi tentang beliau. Sementara beliau sendiri sudah wafat. Sahabat itu bermimpi bahwa beliau mendapat maqam yang sangat mulia di surga. Tentu saja ada rasa kagum yang menyelinap di hati orang itu. Terharu yang amat.
Bagaimana
Ayah Abdullah bisa menggapai maqam yang tinggi. Mimpi itu tidak berhenti pada
melihat beliau. Tapi berlanjut pada proses dialog. Sahabat itu bertanya,
“Bagaimana kau mencapai maqam yang mulia begini?” “Apakah karena kau tegas dan
berlaku adil, atau karena kau bergelar umarul faaruq?”
“Oo
bukan karena itu semua. Saya mencapai maqam yang tinggi di surga oleh karena
sebuah peristiwa yang membuat saya terenyuh. Sedih. Saya sedih karena melihat
anak-anak kecil bermain. Di tangan salah satu mereka tergenggam burung. Burung
itu bukan hanya digenggam erat, tapi juga dilemparkan secara bergantian ke
teman-teman mereka” Sayyidina Umar
bercerita dengan sangat jernih.
“Lalu, saya mendekati mereka. Sembari meminta agar burung itu diserahkan ke saya, dan akan saya beli. Karena mendengar akan dibeli, maka burung itu diserahkan ke saya. Saya beri dia uang. Dan burung itu saya lepas bebas di udara. Itulah yang mungkin mengangkat saya pada derajat yang tinggi di sisi Allah”, pungkas Sayyidina Umar.
Kisah
ini lagi-lagi soal kasih sayang. Sadarilah, agama adalah kasih sayang. Meski
seseorang mengklaim dirinya paling beragama, tapi sama sekali tidak ada ruang
welas asih dalam dirinya. Bisa berbuat kejam pada sesama. Dia bisa disebut
beragama, tapi dia hanya mengapung di permukaan agama. Tidak menyelam sampai ke
dasar dan inti agama. Karena kalau Anda merenangi, menyelami, dan memasuki
relung agama, maka tidak ada yang ditemukan kecuali cinta.
Dari
situ, Anda akan menyadari tentang sabda Rasulullah Saw. “Saya tidak diutus
untuk melaknat, tapi aku diutus sebagai rahmat”. Hadir sebagai penebar kasih
sayang.
Sosok
yang benar-benar menegakkan sunnah, dialah penegak dan penebar cinta pada
semuanya. Karena semakin berlimpah dan meluas cinta dalam hati, maka semakin
besar pula kebahagiaan yang melingkupi hati. Agama mengajak kita tidak berhenti
pada mencintai diri sendiri, tapi menginisiasi cinta yang melampaui ego kita.
Kita mencintai semuanya dengan tulus. Kalau Anda mencintai Allah, niscaya
mencintai seluruh makhluk Allah.
Amal yang didasari welas asih, insya Allah memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Saking besarnya, bahkan bisa menghancurkan dan mengikis seluruh dosa yang meliputi diri.



0 comments