Seribu Jalan Satu Tujuannya

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Seribu Jalan Satu Tujuannya

27 April 2026

Seribu Jalan Satu Tujuannya

27 April 2026


Andaikan sebuah the long journey (perjalanan panjang), maka tujuan seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk hanya satu. Satu destinasi yang sama. Bahagia. Ini tujuan yang bersifat universal, abadi, dan hakiki. Tidak ada tujuan lain setelah itu. Sementara yang lain bersifat interval. Tujuan antara.

Ketika memasuki usia SD, seorang anak sudah dipicu untuk punya keinginan. Punya cita-cita. Orang tuanya mungkin gelisah dan cemas jika mendapati anaknya tidak punya cita-cita. Karena mereka berpikir bahwa cita-cita menggambarkan tentang kehidupan anaknya ke depan. Karenanya semenjak SD sudah mulai diidentifikasi potensi sekaligus passion yang terpendam pada si anak. Diharapkan setelah diketahui keduanya, orang tua terus mengasahnya—dibantu lembaga pendidikan yang bonafid—agar menggapai pada aktualisasi optimal.

Di antara mereka kadang asal ngomong saja. Tidak bersungguh-sungguh mengungkapkan cita-citanya. Karena gengsi sama temannya yang sangat mantap menegaskan ihwal cita-citanya ke depan, dia pun ikut-ikutan menyampaikan cita-citanya. Di antara mereka bercita-cita jadi dokter, jadi dosen, jadi pengacara, jadi astronot, jadi menteri, dan semacamnya. Bagusnya, kalau orang punya cita-cita, maka akan timbul motivasi yang memanaskan mesin dalam dirinya untuk senantiasa berikhtiar dan berjuang menggapai cita-cita.

Tapi sebagian besar, mereka bercita-cita hanya menjadi sebuah keinginan sesaat. Dengan berjalannya waktu, bisa saja, cita-citanya bergeser ke yang lain. Ketika usia SD, cita-cita sudah mulai dibangun. Di antara mereka bercita-cita menjadi wartawan. Dia punya cita-cita begitu, karena melihat wartawan memperagakan penyiaran berita dengan sangat lancar dan anggun. Karena dia sangat mengidolakan seorang wartawan, dia menetapkan cita-citanya menjadi wartawan. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dia sangat kagum dengan seorang dosen yang mampu mempresentasikan ide-ide cemerlangnya dengan sangat mudah sekaligus memukau. Dia tersihir dengan dosen itu, cita-citanya berubah drastis ingin jadi dosen. Bahkan dia melihat seorang pengusaha yang kaya raya. Dikelilingi fasilitas mewah. Dilengkapi pula dengan karakternya yang dermawan. Tiba-tiba dia berubah lagi, pengin jadi pengusaha saja.

Cita-cita cenderung bergerak dan berubah. Ketika masih di SD, rasanya ingin mencari SMP Favorit. Membayangkan, ketika sudah masuk ke SMP itu kebanggaan dan kedudukan dirinya akan meningkat. Setelah dia memasuki SMP yang diinginkan, maka di SMP itu sudah tak lagi menjadi keinginan. Sekarang dia telah mempersiapkan ikhtiar luar biasa bagaimana menembus SMA unggulan di wilayahnya. Dia terus belajar tekun demi tercapainya cita-cita itu. Sampai kemudian keinginan itu tergenapi. Betapa bahagia dan bangganya dia. Dengan berjalannya waktu, SMA yang dimasuki sudah tak lagi jadi keinginan.

Keinginannya meningkat bagaimana bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri Bonafid. Dia telah mengerahkan segenap tenaganya untuk menembus PTN yang dituju. Sampai kemudian usahanya menyampaikan dia memasuki kampus favorit. Setelah dia lulus dari kampus itu. Masuk kampus itu sudah tak lagi menjadi kebanggaan dan obsesi. Mungkin dia ingin berkarir di perusahaan ternama. Dia membayangkan memperoleh jabatan prestisius dengan gaji fantastis. Lagi-lagi setelah dia mendapatkan pekerjaan yang bergengsi, dia sudah berpikir untuk menikah, punya anak dan seterusnya. Jadi, keinginan berantai dari satu keinginan ke keinginan yang lain. Hingga pada titik yang tak lagi ada tujuan lagi, yakni kebahagiaan.

Semua orang menghendaki hidup bahagia. Hanya saja, banyak orang salah menafsirkan tentang kebahagiaan. Mereka mengira kebahagiaan adalah kesenangan, sehingga dia terus memburu kesenangan yang bersifat sementara. Akan tetapi, dia tidak kunjung merasakan kebahagiaan. Dengan terpenuhi kebutuhan materi dan jasmani, masih tetap membawa jiwa yang kosong dan hampa. Kesenangan memenuhi kebutuhan nafsu, dan kebahagiaan memenuhi kebutuhan ruhani. Jika hawa nafsu sebenarnya entitas yang numpang di rumah kita. Sementara penghuni sejati rumah kita adalah hati nurani.

Anda perlu mengetahui, ketika orang menuruti nafsunya, dia akan senang. Dan senang itu sejenak, sementara, dan lalu kemudian menguap. Anda sangat menginginkan mendapatkan pekerjaan prestisius. Keinginan Anda tergenapi bekerja di tempat yang bergengsi. Semula Anda akan sangat senang mendapatkan pekerjaan itu. Apalagi jika pekerjaan itu akan menaikkan gengsi Anda, dan bisa jadi atribut sosial yang mengangkat nama Anda.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Anda harus berhadapan dengan dinamika dan konflik yang berkembang di perusahaan itu. Anda mulai merasakan toxic di perusahaan tempat Anda bekerja, maka pelan-pelan rasa senang Anda tergerus. Anda menginginkan sekali penghalang-penghalang itu segera enyah dari hadapan Anda. Dan ketika seluruh racun yang membuat kesenangan Anda terampas itu sudah hilang, Anda tentu senang. 

Tiba-tiba mulai menguat desakan dari hati Anda bagaimana karir Anda naik. Selagi karir tidak naik, maka kesenangan Anda mulai hilang. Jadi kesusahan yang terus berjalan. Kesenangan terbit kembali, kalau karir Anda naik. Begitulah kesenangan itu terus meminta lebih dari waktu ke waktu. Padahal meminta lebih itu menghadang orang untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena di sana kosong dari penerimaan.

Iya, kesenangan selalu meminta lebih. Kemudian kita kenal kesenangan selalu menyeret kita pada kondisi berlebih-lebihan. Melampaui batas. Ketika sudah melampaui batas, maka di ujungnya kita akan mendapati penderitaan. Intinya, kesenangan itu selalu meminta dan meminta lagi. Tanpa ujung. Tanpa akhir. Kecuali ketika tanah menyumpal mulutnya.

Ini tidak hanya berlaku pada pemenuhan nafsu syahwat, apa yang kita inginkan. Juga berlaku pada nafsu wadhab. Perkara yang tidak kita sukai. Ketika Anda tidak suka pada seseorang, kita akan melakukan cara untuk menyingkirkan dia. Bilamana berhasil menyingkirkan musuh, seolah ada kepuasan yang menyeruak dari hati. Sepertinya kepuasan, tapi sejatinya menggoreskan rasa pedih di hatinya sendiri. 

Bukankah ketika orang berlaku dhalim pada seseorang, sejatinya dia sedang menorehkan kezaliman pada dirinya sendiri. Ada orang yang sangat puas melihat musuhnya makin tertimbun dalam penderitaan. Apalagi dia menganggap sebagai pelakunya. Dia akan menetapkan dirinya sebagai pahlawan. Pahlawan yang berperan sebagai tokoh antagonis. Dia bangga membawakan peran itu. Padahal, kepuasan seperti itu sama sekali tidak mewariskan rasa bahagia ke relung hati. Yang ada hanya perih yang dibungkus dengan senyum palsu. 

Adapun Kebahagiaan

Bahagia adalah apabila kita berhasil mengendalikan keinginan. Bergerak sebagai anti-tesa dari keinginan itu. Kalau nafsu syahwat fokus mendapatkan, menuntut, bahkan merampas yang tergenggam di tangan orang lain. Maka dia melakukan langkah sebaliknya. Selalu fokus memberi, berbagi, dan menolong orang lain. 

Semakin banyak kita berbagi, maka semakin banyak kebahagiaan yang tumbuh dalam hati kita. Andaikan Anda sumpek, maka jangan fokus untuk mendapatkan. Justru hatimu semakin galau. Malah berusaha memberikan apa yang bisa diberikan. Kalau Anda ingin menyuburkan energi kebahagiaan agar terus berlimpah dan tidak ada habis-habisnya, teruslah memberi. Kebahagiaan tidak menanti Anda memberi, ketika Anda punya niat memberi dan membantu orang lain, kebahagiaan sudah mulai mengembang dari sudut jiwamu.

Sebelum memberi, tentu Anda harus mendapati hatimu berkepenuhan. Berkecukupan. Anda baru merasakan cukup ketika menerima. Qonaah. Menerima dengan sempurna apa yang Allah berikan. Karenanya, qonaah—disebut—sebagai kekayaan yang tidak akan pernah lenyap. Jika orang bisa bilang cukup, bukan berarti dia berhenti bertumbuh. Bahkan, Allah terus meluberkan kekayaan lahir dan batin. Bukankah kekayaan batin akan menarik kekayaan di luar? Kekayaan itu, kemudian, didemonstrasikan dengan cara terus berbagi tanpa henti pada sesama. Jika orang terus berbagi, kebahagiaanya bukan hanya tumbuh, tapi juga meluas. Sekali lagi, memberi akan melapangkan jiwa kita sendiri untuk bisa menampung rahmat Allah yang tak terhingga.

Kekuatan Memaafkan

Jika nafsu wadhab selalu berusaha menyusun puzzle-puzzle kebencian dan bahkan membangunnya sebagai dendam, maka kita mengambil arah sebaliknya. Memaafkan kesalahan orang yang kita benci. Memaafkan kesalahan orang lain seperti cara pemadam kebakaran sedang memadamkan rumah yang terbakar. Iya, ketika Anda memaafkan, Anda sedang memadamkan api yang membakar jiwamu sendiri.

Kita—mungkin—pernah kesal dengan seseorang, menorehkan rasa perih sampai di ulu hati. Mungkin saja meninggalkan ledakan yang hanya menghancurkan kita sendiri. Lantas, kita seperti mendapati ilham untuk memaafkan, dan ridha terhadap orang yang menyakiti itu. Mendadak hati kita yang semula terbakar parah lalu menjadi padam, bahkan meninggalkan rasa teduh dan sejuk.

Iya, memaafkan adalah cara mentransformasi hati yang panas menjadi sejuk. Hati yang penuh keluh menjadi teduh. Ketika orang bisa memaafkan, maka dia telah siap mewadahi kebahagiaan tak terbatas, karena telah terhubung dengan Allah Yang Tak Terbatas. Karenanya, kebahagiaan orang yang telah berhasil memaafkan orang lain adalah tak terbatas.

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang