Seribu Jalan Satu Tujuannya
27 April 2026
Andaikan sebuah
the long journey (perjalanan panjang), maka tujuan seluruh manusia,
bahkan seluruh makhluk hanya satu. Satu destinasi yang sama. Bahagia. Ini
tujuan yang bersifat universal, abadi, dan hakiki. Tidak ada tujuan lain
setelah itu. Sementara yang lain bersifat interval. Tujuan antara.
Ketika memasuki
usia SD, seorang anak sudah dipicu untuk punya keinginan. Punya cita-cita.
Orang tuanya mungkin gelisah dan cemas jika mendapati anaknya tidak punya
cita-cita. Karena mereka berpikir bahwa cita-cita menggambarkan tentang
kehidupan anaknya ke depan. Karenanya semenjak SD sudah mulai diidentifikasi
potensi sekaligus passion yang terpendam pada si anak. Diharapkan
setelah diketahui keduanya, orang tua terus mengasahnya—dibantu lembaga
pendidikan yang bonafid—agar menggapai pada aktualisasi optimal.
Di antara
mereka kadang asal ngomong saja. Tidak bersungguh-sungguh mengungkapkan
cita-citanya. Karena gengsi sama temannya yang sangat mantap menegaskan ihwal cita-citanya
ke depan, dia pun ikut-ikutan menyampaikan cita-citanya. Di antara mereka
bercita-cita jadi dokter, jadi dosen, jadi pengacara, jadi astronot, jadi
menteri, dan semacamnya. Bagusnya, kalau orang punya cita-cita, maka akan timbul
motivasi yang memanaskan mesin dalam dirinya untuk senantiasa berikhtiar dan
berjuang menggapai cita-cita.
Tapi sebagian besar, mereka bercita-cita hanya menjadi sebuah keinginan sesaat. Dengan berjalannya waktu, bisa saja, cita-citanya bergeser ke yang lain. Ketika usia SD, cita-cita sudah mulai dibangun. Di antara mereka bercita-cita menjadi wartawan. Dia punya cita-cita begitu, karena melihat wartawan memperagakan penyiaran berita dengan sangat lancar dan anggun. Karena dia sangat mengidolakan seorang wartawan, dia menetapkan cita-citanya menjadi wartawan.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dia sangat kagum dengan
seorang dosen yang mampu mempresentasikan ide-ide cemerlangnya dengan sangat
mudah sekaligus memukau. Dia tersihir dengan dosen itu, cita-citanya berubah
drastis ingin jadi dosen. Bahkan dia melihat seorang pengusaha yang kaya raya.
Dikelilingi fasilitas mewah. Dilengkapi pula dengan karakternya yang dermawan.
Tiba-tiba dia berubah lagi, pengin jadi pengusaha saja.
Cita-cita
cenderung bergerak dan berubah. Ketika masih di SD, rasanya ingin mencari SMP
Favorit. Membayangkan, ketika sudah masuk ke SMP itu kebanggaan dan kedudukan
dirinya akan meningkat. Setelah dia memasuki SMP yang diinginkan, maka di SMP
itu sudah tak lagi menjadi keinginan. Sekarang dia telah mempersiapkan ikhtiar
luar biasa bagaimana menembus SMA unggulan di wilayahnya. Dia terus belajar
tekun demi tercapainya cita-cita itu. Sampai kemudian keinginan itu tergenapi.
Betapa bahagia dan bangganya dia. Dengan berjalannya waktu, SMA yang dimasuki
sudah tak lagi jadi keinginan.
Keinginannya
meningkat bagaimana bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri Bonafid. Dia
telah mengerahkan segenap tenaganya untuk menembus PTN yang dituju. Sampai
kemudian usahanya menyampaikan dia memasuki kampus favorit. Setelah dia lulus
dari kampus itu. Masuk kampus itu sudah tak lagi menjadi kebanggaan dan obsesi.
Mungkin dia ingin berkarir di perusahaan ternama. Dia membayangkan memperoleh
jabatan prestisius dengan gaji fantastis. Lagi-lagi setelah dia mendapatkan
pekerjaan yang bergengsi, dia sudah berpikir untuk menikah, punya anak dan
seterusnya. Jadi, keinginan berantai dari satu keinginan ke keinginan yang
lain. Hingga pada titik yang tak lagi ada tujuan lagi, yakni kebahagiaan.
Semua orang
menghendaki hidup bahagia. Hanya saja, banyak orang salah menafsirkan tentang
kebahagiaan. Mereka mengira kebahagiaan adalah kesenangan, sehingga dia terus
memburu kesenangan yang bersifat sementara. Akan tetapi, dia tidak kunjung
merasakan kebahagiaan. Dengan terpenuhi kebutuhan materi dan jasmani, masih
tetap membawa jiwa yang kosong dan hampa. Kesenangan memenuhi kebutuhan nafsu,
dan kebahagiaan memenuhi kebutuhan ruhani. Jika hawa nafsu sebenarnya entitas
yang numpang di rumah kita. Sementara penghuni sejati rumah kita adalah hati
nurani.
Anda perlu
mengetahui, ketika orang menuruti nafsunya, dia akan senang. Dan senang itu
sejenak, sementara, dan lalu kemudian menguap. Anda sangat menginginkan
mendapatkan pekerjaan prestisius. Keinginan Anda tergenapi bekerja di tempat
yang bergengsi. Semula Anda akan sangat senang mendapatkan pekerjaan itu.
Apalagi jika pekerjaan itu akan menaikkan gengsi Anda, dan bisa jadi atribut
sosial yang mengangkat nama Anda.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Anda harus berhadapan dengan dinamika dan konflik yang berkembang di perusahaan itu. Anda mulai merasakan toxic di perusahaan tempat Anda bekerja, maka pelan-pelan rasa senang Anda tergerus. Anda menginginkan sekali penghalang-penghalang itu segera enyah dari hadapan Anda. Dan ketika seluruh racun yang membuat kesenangan Anda terampas itu sudah hilang, Anda tentu senang.
Tiba-tiba mulai menguat desakan dari hati Anda
bagaimana karir Anda naik. Selagi karir tidak naik, maka kesenangan Anda mulai
hilang. Jadi kesusahan yang terus berjalan. Kesenangan terbit kembali, kalau
karir Anda naik. Begitulah kesenangan itu terus meminta lebih dari waktu ke
waktu. Padahal meminta lebih itu menghadang orang untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karena di sana kosong dari penerimaan.
Iya, kesenangan
selalu meminta lebih. Kemudian kita kenal kesenangan selalu menyeret kita pada
kondisi berlebih-lebihan. Melampaui batas. Ketika sudah melampaui batas, maka
di ujungnya kita akan mendapati penderitaan. Intinya, kesenangan itu selalu
meminta dan meminta lagi. Tanpa ujung. Tanpa akhir. Kecuali ketika tanah
menyumpal mulutnya.
Ini tidak hanya berlaku pada pemenuhan nafsu syahwat, apa yang kita inginkan. Juga berlaku pada nafsu wadhab. Perkara yang tidak kita sukai. Ketika Anda tidak suka pada seseorang, kita akan melakukan cara untuk menyingkirkan dia. Bilamana berhasil menyingkirkan musuh, seolah ada kepuasan yang menyeruak dari hati. Sepertinya kepuasan, tapi sejatinya menggoreskan rasa pedih di hatinya sendiri.
Bukankah
ketika orang berlaku dhalim pada seseorang, sejatinya dia sedang menorehkan
kezaliman pada dirinya sendiri. Ada orang yang sangat puas melihat musuhnya
makin tertimbun dalam penderitaan. Apalagi dia menganggap sebagai pelakunya.
Dia akan menetapkan dirinya sebagai pahlawan. Pahlawan yang berperan sebagai
tokoh antagonis. Dia bangga membawakan peran itu. Padahal, kepuasan seperti itu
sama sekali tidak mewariskan rasa bahagia ke relung hati. Yang ada hanya perih
yang dibungkus dengan senyum palsu.
Adapun
Kebahagiaan
Bahagia adalah apabila kita berhasil mengendalikan keinginan. Bergerak sebagai anti-tesa dari keinginan itu. Kalau nafsu syahwat fokus mendapatkan, menuntut, bahkan merampas yang tergenggam di tangan orang lain. Maka dia melakukan langkah sebaliknya. Selalu fokus memberi, berbagi, dan menolong orang lain.
Semakin banyak kita
berbagi, maka semakin banyak kebahagiaan yang tumbuh dalam hati kita. Andaikan
Anda sumpek, maka jangan fokus untuk mendapatkan. Justru hatimu semakin galau.
Malah berusaha memberikan apa yang bisa diberikan. Kalau Anda ingin menyuburkan
energi kebahagiaan agar terus berlimpah dan tidak ada habis-habisnya, teruslah
memberi. Kebahagiaan tidak menanti Anda memberi, ketika Anda punya niat memberi
dan membantu orang lain, kebahagiaan sudah mulai mengembang dari sudut jiwamu.
Sebelum
memberi, tentu Anda harus mendapati hatimu berkepenuhan. Berkecukupan. Anda
baru merasakan cukup ketika menerima. Qonaah. Menerima dengan sempurna apa yang
Allah berikan. Karenanya, qonaah—disebut—sebagai kekayaan yang tidak akan
pernah lenyap. Jika orang bisa bilang cukup, bukan berarti dia berhenti
bertumbuh. Bahkan, Allah terus meluberkan kekayaan lahir dan batin. Bukankah
kekayaan batin akan menarik kekayaan di luar? Kekayaan itu, kemudian,
didemonstrasikan dengan cara terus berbagi tanpa henti pada sesama. Jika orang
terus berbagi, kebahagiaanya bukan hanya tumbuh, tapi juga meluas. Sekali lagi,
memberi akan melapangkan jiwa kita sendiri untuk bisa menampung rahmat Allah
yang tak terhingga.
Kekuatan
Memaafkan
Jika nafsu
wadhab selalu berusaha menyusun puzzle-puzzle kebencian dan bahkan membangunnya
sebagai dendam, maka kita mengambil arah sebaliknya. Memaafkan kesalahan orang
yang kita benci. Memaafkan kesalahan orang lain seperti cara pemadam kebakaran
sedang memadamkan rumah yang terbakar. Iya, ketika Anda memaafkan, Anda sedang
memadamkan api yang membakar jiwamu sendiri.
Kita—mungkin—pernah
kesal dengan seseorang, menorehkan rasa perih sampai di ulu hati. Mungkin saja
meninggalkan ledakan yang hanya menghancurkan kita sendiri. Lantas, kita
seperti mendapati ilham untuk memaafkan, dan ridha terhadap orang yang
menyakiti itu. Mendadak hati kita yang semula terbakar parah lalu menjadi
padam, bahkan meninggalkan rasa teduh dan sejuk.
Iya, memaafkan adalah cara mentransformasi hati yang panas menjadi sejuk. Hati yang penuh keluh menjadi teduh. Ketika orang bisa memaafkan, maka dia telah siap mewadahi kebahagiaan tak terbatas, karena telah terhubung dengan Allah Yang Tak Terbatas. Karenanya, kebahagiaan orang yang telah berhasil memaafkan orang lain adalah tak terbatas.



0 comments