Mabrur
19 May 2026
Anda tentu masih ingat dengan kisah Sayyidina Ali
radhiyallahu ‘anhu dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha, ketika
mendapati dua putra yang mereka cintai jatuh sakit. Tentu saja ada rasa gelisah
yang menyergap, sembari berharap kedua putra segera pulih dari sakitnya. Dikala
Sayyidina Hasan dan Husein sedang sakit, maka Rasulullah Saw datang menjenguk
keduanya, sembari memerintahkan pada Sayyidina Ali r.a. dan Sayyidah Fathimah
Az-Zahra untuk bernadzar. Dengan anjuran dari Rasulullah Saw, mereka dengan
sigap bernazar sekaligus bertekad melaksanakan nadzar tersebut, jika kedua
putra kesayangan mereka sembuh. Apa nadzarnya? Beliau berdua bernadzar, jika
dua cucu Nabi Muhammad Saw sembuh, akan berpuasa selama tiga hari
berturut-turut.
Setelah niat nadzar menyentuh langit, maka mereka
mendapati kedua putranya sembuh seperti sedia kala. Karena takut pada Allah,
maka keduanya melaksanakan nadzar. Di esok hari, mereka berdua berpuasa.
Sebagaimana rutinitas yang dijalani oleh Sayyidina Ali radhiyallah ‘anhu,
biasanya bekerja pada orang Yahudi. Setiap kali bekerja pada orang Yahudi,
beliau mendapatkan upah berupa gandum.
Gandum itu digiling oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra
radhiyallahu ‘anha. Lalu, kemudian diolah menjadi roti yang dipersiapkan untuk
menu berbuka puasa. Tinggal beberapa saat hendak berbuka, tiba-tiba datang
orang miskin sembari mengadukan keadaan dirinya yang kelaparan. Berhari-hari
tidak makan. Hati dua sosok mulia ini tersentuh. Tanpa berpikir panjang, beliau
berikan semua roti yang disediakan untuk berbuka itu. Berarti, sehari mereka
telah membiarkan perutnya tidak dimasuki makanan. Kecuali hanya minum saja.
Di hari kedua, kembali keduanya berpuasa, dengan
menjalani rutinitas yang sama. Menantu Nabi Muhammad Saw kembali bekerja.
Membawa pulang upah berupa gandum. Setelah gandum diolah menjadi roti dan siap
disantap untuk berbuka, tiba-tiba datang anak yatim bersama ibunya. Mereka
mengeluhkan perkara yang sama seperti tamu di hari pertama. Kelaparan. Tanpa berpikir
lama, dua sosok berakhlak luhur ini, memberikan semua roti tersebut. Intinya,
di hari kedua ini, dua sosok mulia ini kembali tidak makan karena tertindih
oleh welas asihnya pada orang anak yatim.
Di puasa yang ketiga, beliau menjalani aktivitas yang
sama. Dan telah disiapkan roti untuk berbuka. Sebelum masuk waktu berbuka,
mendadak datang seorang yang baru keluar dari penjara. Dia mengadukan keadaan
dirinya yang kelaparan. Tanpa banyak berpikir, roti yang disiapkan berbuka di
hari ketiga diberikan semua pada orang yang baru keluar dari penjara itu. Tiga
hari berturut-berturut beliau berdua tidak makan sama sekali. Kecuali minum
saja.
Dan saat memberi, sama sekali tidak ada tendensi pribadi.
Tidak berharap balasan dan ucapan terimakasih sedikit pun. Karena yang beliau cari
adalah ridha Allah. Begitulah sosok mabrur yang digambarkan oleh Al-Qur’an.
Ketika Rasulullah Saw ditanya apa haji mabrur itu?
“Berkata baik, dan memberi makan”. Mengapa makan? Karena makanan adalah
kebutuhan mendasar bagi manusia. Anda, mungkin, punya makanan yang hendak
disantap di hari ini, lantas ada orang yang datang dan sangat membutuhkan
sajian makanan dari kita, sehingga Anda memilih untuk memberi makan itu kepada
tamu yang datang, maka Anda telah tergolong orang yang baik (birr).
Sejalan dengan firman Allah :
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟
مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
Artinya : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali Imron: 92).
Saya teringat kisah dari seorang sahabat Nabi Muhammad
Saw. Suatu saat ada tamu yang datang ke rumah. Tamu ini benar-benar menegaskan
dirinya kelaparan. Sementara sahabat ini hanya memiliki satu piring makanan.
Cukup dimakan satu orang. Tanpa banyak basa-basi, tamu tersebut dipersilakan
masuk ke rumahnya. Dan disiapkan makanan. Hanya saja, lampu malam itu
dimatikan. Mereka makan dalam keadaan gelap. Orang yang kelaparan itu makan
sangat lahap, sementara tuan rumahnya sepertinya makan. Padahal tidak ada makanan
yang disantapnya.
Demikian sosok sahabat Nabi. Mereka mengutamakan orang
lain ketimbang dirinya sendiri.
Dari beberapa cerita yang saya sajikan di atas,
memberikan konfirmasi bahwa keberhasilan sebuah agama terlihat pada dampaknya
pada sesama. Jika seseorang menikah, maka hasilnya terlihat dari lahirnya buah
hati. Begitu juga, agama dianggap telah mengantarkan seseorang pada kematangan
jiwanya, dia akan berbuah hatinya. Dan buah hati adalah welas asih pada sesama.
Sebuah kutipan hadis yang pendek, tapi disitulah kita memahami dampak beragama.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat mereka bagi manusia”.


0 comments