Selaras dengan Alam
15 June 2026
Tentu kita
sudah sering mendengar istilah ini. Meski sering mendengar, saya sendiri belum
bisa memahami pesan yang terselip dari istilah tersebut. Apakah berarti kita
harus selaras dengan alam, dengan tidak bersikap resisten terhadap kenyataan
apapun yang menimpa kita? Kita membiarkan diri kita tidak bergerak, karena
berposisi sebagai obyek yang digerakkan oleh alam? Setelah melalui perenungan
yang panjang, saya memberanikan diri untuk mengungkap tentang jiwa yang selaras
dengan alam. Dikala orang telah menggapai kondisi seperti itu, tentu saja dia
telah mengalami kondisi alamiah dalam dirinya. Muncul secara alami dan otentik.
Berlaku shiddiq atau jujur. Bukankah dengan bersikap alami, seseorang akan
menyerap kebahagiaan?
Pelan-pelan
kita kupas tentang karakter alam, sehingga kita menyerap kebahagiaan seperti
kebahagiaan alam.
Memuja-muji
Allah
Hanya ketika orang telah jatuh cinta, dia akan selalu memuja-muji atau menyebut-nyebut yang dicintai. Alam ini jatuh cinta pada Allah, sehingga senantiasa memuja-muji Allah dalam setiap keadaan. Tidak ada yang dilihat dari-Nya kecuali kebaikan saja.
“Langit yang
tujuh dan bumi bertasbih kepada-Nya dan apa-apa yang ada di dalamnya. Dan tiada
sesuatu kecuali bertasbih dan memuji-Nya. Akan tetapi, kalian tidak mengerti
tasbih mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.
Kalau alam semesta ini bertasbih, berarti mereka memuja-muji nama Allah. Padahal, hanya dengan memuji Allah, alias bersyukur, seseorang akan mendulang kelimpahan dalam hidupnya. Mereka tidak akan pernah mengalami kelangkaan. Berapa banyak manusia terjatuh dalam perangkap takut kekurangan, padahal alam selalu hadir dengan kelimpahan.
Bayangkan, berapa ton ikan yang dikonsumsi manusia setiap harinya.
Akan tetapi, sampai detik ini, kita tidak mengalami kelangkaan, apalagi
mendengar ikan telah mengalami kepunahan. Ikan terus berkelimpahan. Mengapa?
Karena ikan-ikan itu bertasbih dan bersyukur kepada Allah. Bukankah dengan
bersyukur kepada Allah, seorang hamba terus memperoleh tambahan dan tambahan
dari Allah Swt?
Dikala hati kita terpatri oleh zikrullah, kita akan selalu tenang dalam menjalani kenyataan seperti apapun. Karena di sisi kita ada Allah. Bahkan Dia meliputi kita. Ketika kita ingat kepada Allah, maka meski secara fisik kita sedang bergerak, berikhtiar, dan berusaha keras, namun hati kita tetap mengembalikan pada Allah. Mungkin saja, kita sedang terbelit oleh kemiskinan, akan tetapi hati selalu ingat bahwa di sisi kita ada Allah Yang Maha Kaya dan Juga Maha Dermawan, tentu hati tidak diterpa kecemasan berlebihan, apalagi kekacauan.
Kita tetap kokoh dalam ketenangan meski diterpa oleh persoalan semacam apapun. Karena hati masih tetap terpaut pada Allah, dengan selalu ingat pada Allah. Bukankah sebuah jaminan dari Allah, hati yang berisikan ingat pada Allah—yang dilandasi dengan keyakinan dan cinta—akan menurunkan ketenangan ke dalam hati? Manusia sering terjebak dalam kecemasan, karena dibawa fokus pada hukum sebab akibat.
Ketika
dia tidak melakukan sebab-sebab menuju akibat yang hendak dicapai, dia akan
terus diburu perasaan dag-dig-dug dan rasa cemas yang terus menggerogoti
dirinya. Akan tetapi, dikala dalam ikhtiarnya disertai ingat pada Allah, dan
yang menentukan hasil hanya Allah satu-satunya, tentu saja hati akan selalu
bahagia. Tugasnya hanya berusaha yang terbaik, sementara hasil serahkan pada
Allah. Bukankah setiap hasil yang dihadirkan oleh Allah pasti yang terbaik?
Berserah
diri
Selain
bertasbih, alam semesta ini juga bersujud kepada Allah. Berserah diri pada
Allah. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah :
“Dan semua
bersujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan
kamauan sendiri atau terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang mereka pada waktu
pagi dan petang”. (QS. Ar-Rad [13]: 15)
Tidak pernah
memberontak atau resisten dengan setiap kebijakan Allah Swt. Alam semesta
selalu menempatkan diri sebagai yang diatur oleh Allah. Dia seperti sosok
jenazah di hadapan yang memandikan. Dibolak-balik seperti apapun, dia tidak
pernah protes.
Guru mulia
membawakan permisalan seperti tanah. Tanah tidak pernah protes diperlakukan
seperti apapun. Kadang ada orang yang mencangkulnya, melukainya,
menginjak-injaknya, bahkan kotoran-kotoran busuk di buang ke tanah. Sekali
lagi, tanah tidak pernah protes. Intinya, mau diperlakukan seperit apa saja,
tidak pernah protes.
Dampaknya,
karena tanah berserah diri pada Allah, maka dari tanah tumbuh pepohonan yang
kokoh menjulang tinggi, menghasilkan buah-buah ranum yang bermanfaat bagi
penduduk bumi. Dari perutnya, terkandung mineral, minyak, dan bahan tambang
lainnya. Dan semakin lama, harga tanah semakin mahal.
Kalau seorang
hamba mendapati kondisi terdekatnya dengan Allah melalui sujud, tentu saja alam
semesta sangat dekat dengan Allah, karena seluruh alam ini sujud di hadapan
Allah. Lantas, bagaimana agar kita menggapai kedekatan dengan Allah? Fisik kita
sering sujud, untuk membawa energi penyerahan diri pada Allah ke relung jiwa.
Iya, sujud yang kita lakukan membentuk karakter untuk selalu berserah diri pada
Allah. Berserah diri hanya bisa dilakukan oleh orang yang menggapai jiwa
tauhid. Nyawiji dengan Allah. Dia selalu sekemauan dengan Allah.
Dulu, sebelum mengenal Allah, dia memaksa agar kemauannya menjadi kemauan Allah. Setelah mengerti dan makrifat pada Allah, maka kemauan Allah menjadi kemauannya. Ketika orang telah sekamauan dengan Allah, berarti harmoni dengan Allah, maka dia akan selalu merasakan kebahagiaan dalam setiap keadaan. Ketika orang telah berserah diri pada Allah, maka gampang sekali untuk membentuk jiwa bersyukur kepada Allah dalam setiap keadaan.
Ketika orang telah bersyukur dalam setiap keadaan,
dia akan senantiasa menyerap kepuasan batin dalam setiap keadaan. Dia hanya
menyaksikan Allah saja. Dan setiap demonstrasi dan aksi Allah selalu tampak
elok dan gagah. Ketika hanya menemukan Allah dalam setiap keadaan, bagaimana
hati tidak bahagia?
Ketika orang
telah selaras dengan alam, jiwa akan senantiasa diisi dengan senandung
puja-puji yang memancar dari hati yang penuh zikir. Selain itu, jiwanya selalu
taslim berserah diri pada Allah. Selalu menerima, menerima, dan menerima. Pada
puncaknya, selalu menghadirkan rasa syukur tanpa jeda. Tentu kondisi ini
sebagai pengamalan dari tujuan Allah menciptakan siang dan malam.
“Dia yang
menciptakan malam dan siang silih berganti bagi orang yang hendak berzikir atau
yang hendak bersyukur”. (QS. Al-Furqon [25]:62)
Zikrullah menyertai orang-orang yang masih dalam perjalanan, sehingga dia tetap menemukan keteguhan sepanjang jalan. Sementara orang yang bersyukur dalam setiap keadaan adalah ciri khas orang yang telah sampai pada Allah.


0 comments