Hati yang Porak-Poranda
15 July 2026
Adalah
seseorang yang dikelilingi kemewahan hidup yang kinclong, uang yang tak pernah
berkurang, popularitas yang menjulang, dikelilingi oleh banyak sekali kawan
yang tampak sayang. Meski semua perkara yang—mungkin—jadi impian setiap manusia
sudah dia peroleh, ternyata dia merasakan jiwanya kering, kosong, dan tidak
mereguk kebahagiaan sedikit pun.
Dia pun memasuki
ruang renung yang dalam apa kiranya yang membuatnya terdampar di lembah kehampaan? Secara fisik,
dia terlihat kokoh, gagah, dan mewah, tapi batinnya sedang porak-poranda,
doyong, dan kumuh. Permukaan ternyata sama sekali tidak mencerminkan apa yang
menyelinap di hati.
Mendapati
kondisi yang terus makin jauh dari kebahagiaan. Rasa hampa terus menderu
jiwanya, dia menyadari bahwa selama ini dia banyak mengisi waktu hanya untuk
membangun perkara yang tidak abadi. Kadang datang, tapi juga pergi menjauh.
Selama ini, dia hanya mengejar fatamorgana. Yang sama sekali tak bisa
dipertahankan. Bagaimana mungkin, orang ingin mendapatkan kebahagiaan yang
abadi, sementara jiwa terikat pada yang tidak abadi. Pada suatu yang akan
hilang dan lenyap. Tanpa jejak.
Dikala miskin,
dia mungkin berpikir, “Andaikan aku kaya, saya pasti bahagia”. Ketika kekayaan
telah mengisi kehidupannya, segala yang hendak dibeli tak usah mikir
berlama-lama. Mau shopping apa saja, dia bisa mendapatkan, karena di
tangannya ada uang. Namun, meskipun dia bisa beli apa saja dengan kekayaanya,
ternyata penderitaan tidak pernah bergeser darinya. Ketika satu keinginan
terpenuhi, seakan sudah tak lagi punya keinginan. Padahal, ketika satu
keinginan dipenuhi, maka hawa nafsu akan menagih keinginan berikutnya agar
dipenuhi. Keinginannya terus meningkat. Bergerak makin tinggi dan besar.
Dikala kekayaan sudah didapatkan, tapi tetap saja terpojok dalam derita. Terbesit lagi dari pikirannya, “Mungkin saya bahagia, kalau sudah mendulang popularitas”. Dia terus memoles dan membentuk dirinya menyenangkan bagi semua orang. Dia menjelma sebagai idol bagi banyak orang. Bertabur pujian dia terima. Di setiap sudut kota, selalu terpampang gambarnya.
Apakah ketika namanya telah mengangkasa,
dikenal oleh seantero negeri, dia telah merasakan kebahagiaan? Di permukaan,
dia berjalan, tapi jiwanya tidak kemana-mana. Tidak ada pertumbuhan sama
sekali. Banyaknya pujian sama sekali tidak meningkatkan kebahagiaan, malah
makin membuatnya terjebak dalam penderitaan. Dia sudah tak lagi memiliki ruang
privat, untuk menikmati dirinya sendiri. Dunia yang terlihat luas, terasa
sempit. Karena setiap orang yang ditemui mengenalinya.
Dikala dia
menyadari bahwa uang, dan popularitas tak bisa mendatangkan kebahagiaan. Dia
dibawa pada perenungan yang mendalam lagi. Kebahagiaan itu tinggal dalam hati.
Tentu hati yang bersih. Hati yang bersih adalah tempat Tuhan Bertahta. Dia pun
mencoba memasuki pintu depan Tuhan, yakni agama. Dia berusaha mendalami Islam,
tentu dia sangat kagum dengan ajaran yang tergelar dalam Islam. Apalagi,
kemudian kita dia dibawa pada pemahaman siapa Allah? Dialah Tuhan yang tidak
pernah berubah dalam mencintai hamba-hamba-Nya. Meskipun hamba terus-menerus
berlumur dalam dosa, Allah tetap mencintainya. Seolah Tangan-Nya selalu
membentang untuk menyambut hamba-hamba yang hendak kembali kepada-Nya.
Bukan hanya mencintai hamba-hamba-Nya, Allah juga Maha Kuasa. Semua makhluk-Nya, termasuk kita berada dalam genggam dan kekuasan-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari genggaman Allah. Ketika Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, berarti yang mengatur kehidupan, termasuk kehidupan kita adalah Allah. Mungkin kita telah mengerahkan tenaga dan energi kita, tapi tetap saja apa yang kita impikan tidak kunjung tercapai. Boleh saja kita punya keinginan, tapi kita tidak bisa memastikan bahwa keinginan kita bisa terwujud.
Bayangkan, dari sekian cita-cita
yang ikut mengobarkan api semangat pada diri kita berapa kiranya yang bisa kita
wujudkan? Apakah warna kehidupan yang terhampar dalam kehidupan kita hari ini menggambarkan
rencana yang kita rancang? Kalau kita mau jujur, bahwa kehidupan yang sedang
kita jalani tidak kesemuanya sejalan dengan yang kita rencanakan dahulu.
Keyakinan atas ke-Maha Kuasa-an Allah memandu kita untuk menyandarkan hidup kita sepenuhnya pada Allah. Mungkin saja, kita berusaha dengan maksimal, tapi hati kita selalu bersandar pada Allah. Karena penentu hasil bukan kita. Penentu hasil akhir adalah Allah. Bukan hanya penentu akhir, bahkan kita tidak bisa bergerak dan berikhtiar tanpa pertolongan Allah Swt. Tak sedikit orang yang dulunya berhasil menambang kesuksesan yang luar biasa.
Setiap terobosan menghasilkan pencapaian
yang luar biasa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi
seperti dulu. Meski usahanya tetap sama, tetapi hasil yang dicapai sudah
berbeda. Bahkan kedigdayaannya tergerus dan pupus. Di antara kita masih
mengenang seorang petinju hebat. Selalu berhasil menaklukkan lawannya di ring.
Dialah Muhammad Ali. Dia nyaris tidak pernah mengalami kekalahan. Akan tetapi,
ketika tubuhnya digerogoti penyakit, yakni penyakit perkinson, dia tak bisa
bergerak segagah dahulu. Bahkan dikisahkan, memegang cangkir saja, tangannya
sudah tidak kuat.
Karena Anda
selalu dalam keadaan kuat, maka bersandarlah pada Yang Maha Kuat dan tidak
pernah lemah dan dilemahkan. Allah Swt Jika bersandar pada orang lain yang mungkin
berkuasa dan kuat, kiranya berapa lama dia bisa menggenggam kekuasaan dan
kekuatan itu. Dia akan menjumpai masa di mana dia tidak bisa apa-apa. Kalau
Anda bersandar pada Allah, maka kekuatan Allah akan selalu membimbing Anda
kapan saja. Karena Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang bersandar
pada-Nya.
Merapikan
kembali kehidupan kita dengan cara selalu merasa butuh pada Allah. Alias selalu
mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dikala orang telah mengingat Allah, maka
hatinya akan Allah anugerahi kelembutan. Ketenangan. Tidak mudah panik dalam
menjalani kehidupan yang serba tidak pasti. Dia tak lagi fokus pada kenyataan
yang tergelar di hadapannya. Konsentrasinya tertuju pada Allah dengan
sifat-sifat-Nya yang selalu membuat hati tenang dan bahagia.



0 comments