Hati yang Porak-Poranda

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Hati yang Porak-Poranda

15 July 2026

Hati yang Porak-Poranda

15 July 2026


Adalah seseorang yang dikelilingi kemewahan hidup yang kinclong, uang yang tak pernah berkurang, popularitas yang menjulang, dikelilingi oleh banyak sekali kawan yang tampak sayang. Meski semua perkara yang—mungkin—jadi impian setiap manusia sudah dia peroleh, ternyata dia merasakan jiwanya kering, kosong, dan tidak mereguk kebahagiaan sedikit pun.

Dia pun memasuki ruang renung yang dalam apa kiranya yang membuatnya  terdampar di lembah kehampaan? Secara fisik, dia terlihat kokoh, gagah, dan mewah, tapi batinnya sedang porak-poranda, doyong, dan kumuh. Permukaan ternyata sama sekali tidak mencerminkan apa yang menyelinap di hati.

Mendapati kondisi yang terus makin jauh dari kebahagiaan. Rasa hampa terus menderu jiwanya, dia menyadari bahwa selama ini dia banyak mengisi waktu hanya untuk membangun perkara yang tidak abadi. Kadang datang, tapi juga pergi menjauh. Selama ini, dia hanya mengejar fatamorgana. Yang sama sekali tak bisa dipertahankan. Bagaimana mungkin, orang ingin mendapatkan kebahagiaan yang abadi, sementara jiwa terikat pada yang tidak abadi. Pada suatu yang akan hilang dan lenyap. Tanpa jejak.

Dikala miskin, dia mungkin berpikir, “Andaikan aku kaya, saya pasti bahagia”. Ketika kekayaan telah mengisi kehidupannya, segala yang hendak dibeli tak usah mikir berlama-lama. Mau shopping apa saja, dia bisa mendapatkan, karena di tangannya ada uang. Namun, meskipun dia bisa beli apa saja dengan kekayaanya, ternyata penderitaan tidak pernah bergeser darinya. Ketika satu keinginan terpenuhi, seakan sudah tak lagi punya keinginan. Padahal, ketika satu keinginan dipenuhi, maka hawa nafsu akan menagih keinginan berikutnya agar dipenuhi. Keinginannya terus meningkat. Bergerak makin tinggi dan besar.

Dikala kekayaan sudah didapatkan, tapi tetap saja terpojok dalam derita. Terbesit lagi dari pikirannya, “Mungkin saya bahagia, kalau sudah mendulang popularitas”. Dia terus memoles dan membentuk dirinya menyenangkan bagi semua orang. Dia menjelma sebagai idol bagi banyak orang. Bertabur pujian dia terima. Di setiap sudut kota, selalu terpampang gambarnya. 

Apakah ketika namanya telah mengangkasa, dikenal oleh seantero negeri, dia telah merasakan kebahagiaan? Di permukaan, dia berjalan, tapi jiwanya tidak kemana-mana. Tidak ada pertumbuhan sama sekali. Banyaknya pujian sama sekali tidak meningkatkan kebahagiaan, malah makin membuatnya terjebak dalam penderitaan. Dia sudah tak lagi memiliki ruang privat, untuk menikmati dirinya sendiri. Dunia yang terlihat luas, terasa sempit. Karena setiap orang yang ditemui mengenalinya.

Dikala dia menyadari bahwa uang, dan popularitas tak bisa mendatangkan kebahagiaan. Dia dibawa pada perenungan yang mendalam lagi. Kebahagiaan itu tinggal dalam hati. Tentu hati yang bersih. Hati yang bersih adalah tempat Tuhan Bertahta. Dia pun mencoba memasuki pintu depan Tuhan, yakni agama. Dia berusaha mendalami Islam, tentu dia sangat kagum dengan ajaran yang tergelar dalam Islam. Apalagi, kemudian kita dia dibawa pada pemahaman siapa Allah? Dialah Tuhan yang tidak pernah berubah dalam mencintai hamba-hamba-Nya. Meskipun hamba terus-menerus berlumur dalam dosa, Allah tetap mencintainya. Seolah Tangan-Nya selalu membentang untuk menyambut hamba-hamba yang hendak kembali kepada-Nya.

Bukan hanya mencintai hamba-hamba-Nya, Allah juga Maha Kuasa. Semua makhluk-Nya, termasuk kita berada dalam genggam dan kekuasan-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang lepas dari genggaman Allah. Ketika Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, berarti yang mengatur kehidupan, termasuk kehidupan kita adalah Allah. Mungkin kita telah mengerahkan tenaga dan energi kita, tapi tetap saja apa yang kita impikan tidak kunjung tercapai. Boleh saja kita punya keinginan, tapi kita tidak bisa memastikan bahwa keinginan kita bisa terwujud. 

Bayangkan, dari sekian cita-cita yang ikut mengobarkan api semangat pada diri kita berapa kiranya yang bisa kita wujudkan? Apakah warna kehidupan yang terhampar dalam kehidupan kita hari ini menggambarkan rencana yang kita rancang? Kalau kita mau jujur, bahwa kehidupan yang sedang kita jalani tidak kesemuanya sejalan dengan yang kita rencanakan dahulu.

Keyakinan atas ke-Maha Kuasa-an Allah memandu kita untuk menyandarkan hidup kita sepenuhnya pada Allah. Mungkin saja, kita berusaha dengan maksimal, tapi hati kita selalu bersandar pada Allah. Karena penentu hasil bukan kita. Penentu hasil akhir adalah Allah. Bukan hanya penentu akhir, bahkan kita tidak bisa bergerak dan berikhtiar tanpa pertolongan Allah Swt. Tak sedikit orang yang dulunya berhasil menambang kesuksesan yang luar biasa. 

Setiap terobosan menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, mereka tidak lagi seperti dulu. Meski usahanya tetap sama, tetapi hasil yang dicapai sudah berbeda. Bahkan kedigdayaannya tergerus dan pupus. Di antara kita masih mengenang seorang petinju hebat. Selalu berhasil menaklukkan lawannya di ring. Dialah Muhammad Ali. Dia nyaris tidak pernah mengalami kekalahan. Akan tetapi, ketika tubuhnya digerogoti penyakit, yakni penyakit perkinson, dia tak bisa bergerak segagah dahulu. Bahkan dikisahkan, memegang cangkir saja, tangannya sudah tidak kuat.

Karena Anda selalu dalam keadaan kuat, maka bersandarlah pada Yang Maha Kuat dan tidak pernah lemah dan dilemahkan. Allah Swt  Jika bersandar pada orang lain yang mungkin berkuasa dan kuat, kiranya berapa lama dia bisa menggenggam kekuasaan dan kekuatan itu. Dia akan menjumpai masa di mana dia tidak bisa apa-apa. Kalau Anda bersandar pada Allah, maka kekuatan Allah akan selalu membimbing Anda kapan saja. Karena Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang bersandar pada-Nya.

Merapikan kembali kehidupan kita dengan cara selalu merasa butuh pada Allah. Alias selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dikala orang telah mengingat Allah, maka hatinya akan Allah anugerahi kelembutan. Ketenangan. Tidak mudah panik dalam menjalani kehidupan yang serba tidak pasti. Dia tak lagi fokus pada kenyataan yang tergelar di hadapannya. Konsentrasinya tertuju pada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang selalu membuat hati tenang dan bahagia.

BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang