Sadar itu penting
08 July 2026
Mengapa
kesadaran penting? Karena ia seperti sumber energi yang membuat semua jaringan
mengalami aktivasi. Bagaikan energi listrik yang membuat semua alat elektronik
aktif dan berfungsi. Bayangkan, meski tersedia TV elektronik supercanggih di
depan kita, mungkin bisa menyuguhkan bermacam gambar yang memanjakan mata. Akan
tetapi, jika TV tidak terhubung dengan energi listrik, maka TV tersebut seperti
seonggok barang yang tergeletak. Tak ada gunanya.
Sadar posisinya sangat penting, sehingga tidak hanya menghasilkan gerak, tapi bagaimana kita menemukan makna dari kehidupan yang kita jalani. Kita akan mengetahui bedanya manusia dengan binatang, misalnya. Jika binatang, melakukan segalanya, tanpa dibimbing oleh kesadaran. Karena tak bisa membedakan benar dan salah, apalagi menyerap makna dibalik apa yang dilakukan. Tentu bagi binatang menjadi perkara yang mustahil.
Tidak ada prestasi yang dicapai oleh sebuah binatang, sehingga
tidak ada kemajuan yang bertumbuh di dunia binatang. Sejak zaman bahuela sampai
sekarang, burung misalnya, kita mendapati sarangnya tidak pernah berubah.
Begitu-begitu saja. Tentu berbeda dengan manusia. Rumah manusia terus mengalami
perubahan dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan alam pikiran manusia.
Kesadaran manusia mengalir lewat pikiran, yang disebut dengan akal sehat. Akal
ditempatkan sebagai mahkota manusia. Jika akal telah tercerabut dari manusia,
maka dia sudah tak lagi dihargai.
Bayangkan,
seorang yang selama ini sangat dihargai oleh masyarakatnya. Semua yang berasal
darinya selalu bernilai. Tapi, orang itu tiba-tiba hilang ingatannya, atau
menjadi gila. Yang mulanya dia dibalut dengan pakaian rapi, sopan, dan
berwibawa, lalu keluar dari rumah dengan pakaian compang-camping, bau badannya
menyebar kemana-mana, bahkan kadang dia berjalan dengan telanjang. Dulu
awalnya, orang berkerumun menghormatinya, lalu berubah menjauhinya. Bahkan
mungkin melemparinya dengan caci maki.
Dari sini, kita
akan mengetahui betapa tinggi dan mulianya kedudukan kesadaran. Kesadaran akan
memandu kita meraih makna dibalik setiap aktivitas yang kita jalani. Bukankah
dari makna itulah, kita bisa memetik kebahagiaan? Mungkin seseorang jatuh
sakit. Tentu saja sakit menghinggapi tubuhnya. Namun dia tidak terhalang dari
merasakan kebahagiaan jika dia bisa mengelola pikirannya dengan cara positif.
Di tengah
sakitnya, dia mungkin berpikir, Allah sangat sayang kepadanya. Sebagai bentuk
kasih sayang-Nya, Allah datangkan sakit. Jika selama ini banyak dosa yang
membuat jiwanya terbengkalai, bahkan makin jauh dari Allah, lantas Allah
menariknya dalam dekapan-Nya melalui sakit yang menjangkiti. Sakit didatangkan
hanya membersihkan dosa-dosa yang melumuri jiwa.
Dosa disini
bukan hanya yang bersifat lahir, tapi juga dosa batin. Bahkan justru yang
paling berbahaya bagi keberlangsungan manusia adalah penyakit batin yang terus
menggerogoti seperti sombong. Allah tahu jika kita terus diberi kebaikan,
kesehatan, dan kesejahteraan, jiwa kita cenderung sombong. Maka demi mengikis
kesombongan yang sedang bertunas di jiwa, Allah hadirkan penyakit.
Bukan hanya
menghapus dosa, sakit bisa mendongkrak derajat makin tinggi di hadapan Allah,
jika sakit diterima dengan ridha. Tidak sedikit orang menggapai maqam sebagai
kekasih Allah oleh karena ridha terhadap sakitnya. Bukan hanya ridha, bahkan
menanggapi dengan rasa syukur, alias tidak kehilangan rasa syukur. Rasa sakit
yang dialami tertindih oleh rasa syukur yang meluap-luap dari jiwanya. Mengapa
dia bisa bersyukur? Karena terampil menemukan makna dibalik kenyataan pedih
yang dialami. Siapa yang bisa menelusuri dan menyerap makna? Yaitu kesadaran.
Yang terbungkus
oleh Kesadaran
Sadar membuat
orang selamat. Sebagaimana kecelakaan—banyak—bermula oleh karena kelalaian,
maka selamat tumbuh dari kesadaran. Jika sadar identik dengan cahaya yang
menerangi, sementara lalai identik dengan kegelapan yang menyelubungi. Kita
bahagia ketika berkerumun dalam cahaya. Dan meringkuk dalam penderitaan karena
dikepung oleh kegelapan.
Apa kesadaran
pokok yang harus tertancap pada kita agar kebahagiaan itu terus menyala?
Pertama, sadar tentang
Allah. Sadar tentang Allah menjadi kesadaran pokok yang terpatri pada kita.
Sadar bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang senantiasa mengawasi kita. Menyertai
kita. Membersamai kita. Tidak pernah beranjak meski sejenak saja dari kita.
Kesadaran bahwa
Allah selalu mengawasi akan memandu kita untuk selalu berhati-hati, jangan
sampai terlihat oleh Allah bahwa kita sedang menjalani perbuatan yang
mendatangkan murka-Nya. Ketika kita merasa diawasi oleh Allah, kita akan selalu
ingat pada Allah. Ingat bahwa Allah sangat sayang pada kita. Bukti bahwa Allah
sangat menyayangi kita adalah bahwa Dia selalu meliputi, membersamai, dan
menyertai kita. Tampak pada kehidupan yang terus berlangsung pada kita. Nafas
yang keluar masuk dari hidung kita. Jantung yang masih terus berdetak. Telinga
yang masih mendengar. Lidah yang masih mencecap lezatnya makanan. Semua kondisi
yang sedang dialami menandakan Allah sangat dekat pada kita.
Kesadaran bahwa
Allah mengawasi kita juga membuat kita hanya bersandar pada Allah. Keyakinan
pada-Nya tertancap begitu kokoh, sehingga rasa cemas tidak mendera sama sekali.
Seseorang yang menyadari ini, menempatkan diri di hadapan Allah seperti seorang
anak kecil di hadapan ibunya. Anak itu sangat nyaman, gembira, antuasias karena
ibu berada di sisinya. Dia pergi jalan-jalan ke mall. Mungkin dia menyukai
beberapa barang yang terpajang di etalase, dia tinggal menunjuk saja. Tanpa
kekhawatiran sedikit pun. Lalu ibunya bergegas untuk menawar barang tersebut,
dan membelikan untuk sang anak.
Ketika sadar
bahwa Allah Maha Dekat dan selalu mengawasi kita, maka akan senantiasa membuat
kita bergelayut pada Allah. Bukan kepada yang lain. Bukankah semakin kuat
kebergantungan jiwa pada Allah, semakin besar pula kebahagiaan yang mengisi hati?
Kedua, sadar bahwa kita hanya sebagai hamba. Meski banyak atribut yang bersemat pada kita, pada akhirnya kita akan kembali pada Allah sebagai hamba. Manusia berposisi sebagai hamba, khalifah, dan kekasih. Dan nanti semua manusia kembali pada Allah dalam keadaan sebagai hamba. Seperti beberapa anak—dari seorang ibu—yang mungkin berhasil menyabet jabatan, popularitas, dan kekayaan. Masing-masing punya kebanggaan yang bisa ditunjukkan.
Dari anak-anak sang ibu ada yang menjelma sebagai orang
kaya, juga dikenal sebagai pejabat tinggi negara, mungkin juga ada yang
menangguk popularitas yang terkenal di seantero negeri. Apapun atribut yang
menempel pada mereka, ketika mereka pulang mendatangi ibunya, dia pulang
sebagai anak. Tidak pulang sebagai pejabat, sebagai orang yang beken, atau
orang yang kaya. Mereka semua menikmati kebahagiaan ketika dipeluk penuh
kehangatan oleh ibunya seperti semasa kecil dulu sering berada di dekapannya.
Ketika kita sadar bahwa kita sebagai hamba Allah, maka kita selalu mengajukan rasa butuh kita pada Allah. Kita selalu butuh Allah dalam setiap keadaan. Bukankah ketika orang selalu berada dalam keadaan butuh pada Allah, maka dia berada dalam kedekatan dengan Allah? Dalam kedekatan dengan Allah, kita bisa menyerap kebahagiaan.


0 comments