Terbang Menuju Kemuliaan
10 August 2026
Kadang, kita
temukan orang yang berlumur, bertumpuk kesalahan, dia terus tertawa menyingarai,
sembari membanggakan dosa yang dia lakukan. Dia menganggap dosanya seperti
nyamuk, yang bisa mati sekali tepuk tangan. Bahkan, karena mengetahui Allah
Yang Maha Kasih, dia akan bebas dari siksa meski melakukan dosa yang bertumpuk-tumpuk.
Dan mungkin, jika sudah bosan melakukan dosa, nanti akan bertobat pada Allah.
Dia terus terpuruk dalam dosa semakin dalam. Dia tidak hanya melakukan dosa,
tapi di hatinya, dia juga “meremehkan” dan mengecilkan Allah. Tak pernah
terlintas dalam bayangannya perihal siksa Allah yang amat pedih. Bukankah orang
yang meremehkan dosa adalah dosa? Ketika orang telah jatuh dalam kubangan
seperti itu, dia akan membiarkan dirinya terkubur dalam gelapnya maksiat.
Akan tetapi, orang yang terus terperosok di lumpur maksiat, lalu hatinya dipenuhi perasaan takut pada Allah dan membayangkan siksa-Nya amat pedih akan menggampar dirinya. Rasa takut pada Allah, mungkin bisa mengimbangi akan perbuatan dosa yang dia lakukan. Karena ia masih saja terseret dalam perbuatan dosa yang sama. Penyesalan, sesekali, timbul dalam hatinya. Kembali pada Allah. Akan tetapi, dia terus terjatuh dan jatuh lagi dalam perbuatan dosa. Dia merasa bahwa dirinya begitu lemah dalam mengendalikan hawa nafsunya dari berbuat maksiat.
Sampai tiba
gelombang ketakutan itu menghantam sangat keras pada jiwanya, sehigga tumbuh tekad
menjalani tobat dengan sebenar-benarnya. Ketika orang telah bertobat, sebanyak
apapun dosa yang dia lakukan, Allah akan menerima tobatnya. Mendekap jiwanya dalam
kasih sayang-Nya. Bukan hanya diampuni dosanya, dia juga berpeluang diangkat
sebagai kekasih Allah. Besarnya rasa takut pada Allah yang menguasai jiwanya
membuat dia lari kencang menuju Allah. Dia tak ingin ditinggalkan oleh Allah.
Tak ingin kelak menjadi hamba yang diabaikan oleh Allah. Karena melongsorkan
jiwanya di tanah pertobatan, dia kelak tumbuh dengan jiwa yang mulia.
Kita bisa
menelusur perjalanan hidup semacam itu pada pengalaman hidup yang dijalani
Fudhail bin Iyad, Malik bin Dinar, Bisri al-Khafi, dan semacamnya. Mereka telah
berlumur dengan maksiat, tapi penyesalan dan tobat membalik kehidupannya. Dia
bangkit menjadi sosok yang dicintai oleh Allah. Seluruh kegelapan yang pernah mereka
jalani telah punah. Tak berbekas. Seperti sebuah ruang yang diliputi kegelapan
yang pekat seribu tahun, lantas cahaya menyambar ruang tersebut. Maka seluruh
kegelapan yang mendekam disana hilang sama sekali, yang tersisa adalah cahaya
semata.
Bayangkan seburuk apapun perangai seseorang, sebesar apapun dosa yang dilakoni, seberat apapun beban masa lalu yang dia tanggung, lantas mereka berani mengakui semua kesalahan dan kekurangan yang membelenggunya, maka tiba-tiba semuanya lepas darinya. Dibersihkan oleh Allah dengan sebersih-bersihnya. Bahkan dihiasi oleh Allah dengan sifat Kekasih-Nya. Allah mengangkat menjadi wali-Nya.
Tak ada yang bisa memprotes setiap keputusan Allah. Ketika orang yang kita anggap buruk menjadi kekasih Allah menyadarkan pada kita bahwa kita tak boleh meremehkan apalagi menghina pelaku dosa, karena boleh jadi kehidupannya mengalami titik balik secara totalitas menjadi orang yang baik dan bahkan mulia.
Sementara
nasib kita, sama sekali kita tak bisa menetapkan. Hanya takut, jika dengan
perbuatan baik yang kita lakukan, lalu kita berhak sombong dan merasa mulia
dengan itu semua. Bagaimana, jika dengan segala pencapaian amal itu -semoga
Allah melindungi, tiba-tiba Allah balik menjadi orang durhaka pada Allah?
Karena itu, orang-orang yang Allah muliakan, selalu berjalan merunduk di atas
bumi. Ketika orang mau merunduk, insya Allah jiwa akan terus ditumbuhkan oleh
Allah, bahkan berbuah. Mencapai pada aktualisasi diri secara optimal.
Dari Atas ke Titik
Terindah
Menjadi hamba
yang tunduk pada Tuhannya, meningkat ibadahnya, dan panjang zikirnya tentu
menjadi harapan setiap orang. Karena diyakini, dari sana terbentang harapan
meraih surga. Bahkan kebahagiaan direngkuh saat ini oleh karena ibadah yang
dijalani.
Tak sedikit orang yang berlomba-lomba untuk melakukan ibadah dan kebaikan yang bernilai pahala. Akan tetapi, ibadah yang dilakukan sama sekali tidak membekaskan perasaan sebagai hamba di hadapan Allah. Bahkan, oleh karena ketekunan ibadahnya, dia sangat percaya diri akan menjadi penduduk surga. Dikisahkan ada orang yang menghabiskan waktu untuk beribadah selama 50 tahun.
Seolah tidak ada
keburukan yang terpercik darinya. Dengan rangkaian ibadah yang dijalani selama
50 tahun itulah, dia merasa yakin menjadi ahli surga. Akan tetapi, sejengkal
sebelum kematian tiba, dia terpeleset melakukan amal neraka, sehingga dia
memungkasi hidupnya dengan amal buruk, sekaligus menutup kehidupan dengan
keburukan. Su’ul khotimah.
Dari kisah ini,
kita perlu terus melakukan kebaikan, sembari mengawasi agar kita terbebas dari
perasaan ujub. Bahkan selalu merendah, dengan merasa bahwa semua amal kebaikan
yang dijalani selama ini adalah hadiah dari Allah. Walhasil, sehebat apapun
amal kita, jangan membawa kita bergantung kuat-kuat pada amal. Karena siapa
yang bergantung pada amal, tanpa disadari sejatinya dia bergantung pada dirinya
sendiri, sebagai orang yang beramal. Bagaimana pun keadaan kita, kita memilih
bergantung pada Allah. Karena bukan amal yang memasukkan kita ke dalam surga, melainkan
rahmat Allah-lah yang memasukkan kita ke dalam surganya.
Mengapa perkara ini penting diutarakan? Karena tak sedikit orang yang merasa bangga dengan amal yang dijalani, sehingga sangat berkeyakinan akan masuk surga. Karena dia bergantung pada amal, dia jadi tertipu oleh amalnya. Padahal, yang membuat orang merasakan kebahagiaan dunia dan akhirat adalah Allah. Kita memang harus beramal, karena itu perintah Allah. Tapi meyakini orang masuk surga karena amalnya adalah tidak dibenarkan. Karena orang menempatkan amal seolah penyebab pasti seseorang masuk surga. Padahal, seseorang bisa masuk surga berkat rahmat Allah.
Oleh karena itu, jika orang beramal, dia tetap dihantui rasa takut pada
Allah, takut jika diantara amal kebaikan yang dijalani terselip amal yang
mengundang murka Allah. Terutama adanya penyakit hati yang tiba-tiba menyelinap
di hati. Salah satunya berupa ujub. Karena ujub bisa saja menyapu seluruh amal
kebaikan, seperti angin yang menyapu abu yang beterbangan, tanpa jejak sedikit
pun.



0 comments