Mengapa Cinta Pada Nabi Muhammad Saw?
14 September 2026
Setiap orang
ingin menemukan cintanya. Karena ketika sampai pada cinta yang benar, dia akan
mereguk kebahagiaan yang tak lagi bisa digambarkan oleh logika. Meski demikian,
logika tetap berperan untuk menelusuri siapa yang layak kita cintai, sehingga
kita tak salah meletakkan cinta. Salah meletakkan cinta, alih-alih akan membuat
orang menambang kebahagiaan, malah terpuruk dalam penderitaan tak terperikan.
Bayangkan, adalah sosok lelaki menaruh cinta yang sangat kuat pada wanita cantik, karena parasnya yang menggoda. Ketika dia telah mengizinkan mencintai, maka logika seolah sudah tak lagi diberi ruang untuk memberi pertimbangan. Akal macet. Dia seolah ditarik pada sentrum cinta tanpa alasan. Setelah dia menjalani percintaan dengan wanita itu, akal yang semula sakit, mulai pulih. Bisa menimbang dengan sangat jernih tentang wanita yang dia cintai.
Ternyata dalam perjalanannya, dia
menemukan banyak sekali perkara-perkara tidak ideal yang tampak padanya.
Berbagai kekurangan yang memancar dari wanita itu menumbuhkan rasa kecewa yang
menikam hati. Pelan-pelan rasa cinta tergerogoti berubah menjadi kebencian.
Makin sering mengingat kebaikan yang telah dihadiahkan pada wanita yang sangat
mengecewakan itu, makin besar luka yang menganga. Sekali lagi karena salah
memilih cinta.
Cinta sebagai
Kompas
Ketika kau
mencintai seseorang, Anda telah memilih teman yang membersamai Anda. Dia
ditempatkan sebagai inspirasi dan penyemangat Anda untuk meraih kebahagiaan
sejati. Anda tak peduli, orang datang hilir mudik dalam hidup Anda. Mereka tak
memberi dampak apa-apa terhadap Anda. Akan tetapi, ketika sosok yang Anda
cintai telah meninggalkan Anda, maka Anda akan merasakan hidup limbung,
luntang-lantung, merasakan penderitaan terus mengurung. Kalau Anda salah
meletakkan cinta, maka Anda pun akan salah dalam menemukan panduan kompas
kehidupan. Jika sosok yang kau cintai sangat mencintai dunia, maka Anda akan
terbawa untuk juga mencintai dunia.
Padahal, selagi
cinta kita diarahkan pada yang akan lenyap, maka kebahagiaan takkan pernah kita
dekap. Sadarlah, dunia sejak dahulu kala tidak berubah. tetap hanya sebagai
bayangan. Meski kita bergerak cepat mengejar bayangan, tetap saja tak bisa
ditangkap. Dia akan selalu menciptakan jarak dengan kita. Dunia dengan segala
kemilaunya, akan lenyap. Sebanyak apapun yang kau punya, pada saatnya hanya
menjadi seperti abu yang bertebaran.
Kita harus
menemukan cinta yang kokoh, takkan lenyap, dan selalu ada bahkan melampaui
kehidupan dunia ini. Dia pun memendam cinta yang amat terhadap kita. Siapakah?
Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang mencintai umatnya melebihi daripada dirinya
sendiri. Gambaran bahwa beliau mencintai umatnya melebihi daripada dirinya
sendiri adalah ketika beliau menghadapi detik-detik sakaratul maut. Tiada yang
terucap dari dari lisan beliau, kecuali menyebut dengan lirih, “Ummati, ummati,
ummati!” Yang diingat oleh beliau adalah umatnya. Bukan dirinya.
Cinta beliau
pada kita sudah bermekaran jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana
di suatu malam ditemui oleh Aisyah r.ah agar mendoakannya. Maka Rasulullah Saw
meminta ampunan untuk Sayyidah Aisyah r.ah atas dosa masa lalu, dosa yang akan
datang, doa yang samar dan dosa terang-terangan. Sungguh ketika mendengar
Rasulullah memintakan ampunan untuk dirinya, Sayyidah Aisyah begitu bahagia
sampai kepalanya menunduk ke pangkuan Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw
menyampaikan bahwa doa ini selalu Rasulullah Saw panjatkan selepas shalat untuk
umatnya.
Bayangkan,
setiap lepas shalat, Rasulullah Saw selalu meminta ampunan untuk kita, umatnya.
Tidaklah beliau melakukan demikian kecuali karena begitu kuatnya rasa cinta
pada umatnya. Beliau mencintai kita bahkan jauh sebelum kita dilahirkan, bahkan
selalu kita telah berada di limit kehidupan dunia, yakni kematian. Beliau tetap
menyala cintanya pada umatnya. Dia seperti cahaya yang terus memancar, tinggal
apakah kita mau menyentuhnya dengan cinta yang sama.
Kalau
Rasulullah Saw menyuruh kita mencintainya, bukan karena beliau membutuhkan
cinta kita, melainkan agar kita tersambung dan terhubung dengan beliau. Kalau
Anda terhubung dengan beliau, maka Anda mengakses “keadaan ruhani” Rasulullah
Saw. Tentu sesuai dengan besarnya cintamu kepadanya. Makin besar cintamu pada
Sayyidina Muhammad, kebahagiaan yang menyala di dadamu juga semakin besar.
Sebagai Sosok
Teladan
Cinta
menggerakkan kita menjadi sosok yang kita cintai. Semisal ada orang yang sangat
mengidolakan sosok pemain sepak bola yang cukup beken namanya. Karena mengukir
prestasi yang luar biasa menakjubkan. Sosok yang mencintai tidak cukup hanya
kagum. Cinta menggerakkan dia untuk berpenampilan seperti sosok pemain sepak
bola itu, mungkin meniru potongan rambutnya. Apa saja dilakukan untuk
menampilkan dirinya seperti sosok yang dicintai.
Demikian juga, ketika Anda begitu mencintai Nabi Muhammad Saw, Anda akan terbawa untuk meniru Nabi Muhammad Saw. Segala perkara yang memancar dari Nabi Saw tidak ada cela sedikit pun. Semuanya kebaikan. Dari penampilan, misalnya, kita bisa menyimak bagaimana penampilan fisik Nabi Muhammad Saw di kitab Syamail yang dianggit oleh Imam Tirmidzi.
Di sana, kita akan melihat bahwa Rasulullah Saw begitu
sempurna. Bagaimana postur tubuh beliau, tentang mata beliau, tentang tangan
beliau, tentang cara makan beliau. Kalau kita membacanya biasa saja, cinta kita
akan tumbuh pada Nabi Muhammad. Apabila kita membacanya dengan cinta, maka
makin meluap rasa cinta kita pada Rasulullah Saw.
Ada yang jauh lebih mengagumkan tentang Rasulullah Saw, yakni akhlaknya. Saking agung akhlaknya, sampai Allah sebagai penciptanya memujinya. Membanggakannya. Allah tidak memuji beliau terkait dengan fisiknya, meski keseluruhan fisik beliau sangat menarik. Tidak ada cacat sedikit pun. Allah tidak memuji beliau karena ilmunya, meskipun beliau adalah seorang yang paling alim.
Karena beliau adalah
gudang ilmu lahir dan batin. Meski dengan kerendahan hati beliau selalu berdoa,
“Ya Tuhan, tambahkan ilmu kepada hamba”. Beliau tidak Allah puji karena menjadi
shulthan. Meski beliau telah menunjukkan kehebatannya dalam memimpin pasukan
Islam. Beliau dipuji oleh Allah karena akhlak. Ini menandakan bahwa akhlak
begitu penting. Mengapa akhlak penting? Karena akhlak adalah buah agama.
Ketika Anda
membaca Al-Qur’an terasa menyusup ketentraman, kedamaian, dan kemakmuran di
hati Anda, bagaimana kalau Anda bertemu dan menyaksikan Al-Qur’an yang hidup,
Rasulullah Saw? Tentu seluruh kebahagiaan sedang berkumpul. Kita mungkin akan
tenggelam dengan keindahan akhlak yang memancar pada beliau.
Banyak kisah yang menggambarkan tentang akhlak Rasulullah Saw. Salah satunya, sebuah kisah terkenal ketika beliau berdakwah di Bani Thaif. Dikala beliau terhimpit dan seolah tak mendapatkan celah dakwah di Mekah, beliau mendatangi Thaif. Diharapkan, di sana beliau mendapatkan penerimaan. Alih-alih memeroleh sambutan yang positif, malah beliau dilempari batu, disertai perkataan yang mengandung hinaan.
Beliau sama
sekali tidak sakit hati. Hanya kesedihan, mengapa mereka tidak menerima
dakwahnya? Hingga malaikat penjaga gunung menawarkan pada beliau untuk
menimpakan gunung pada penduduk Bani Thaif. Akan tetapi, Rasulullah Saw
menolak. Bahkan beliau berdoa dengan harapan Allah mengeluarkan dari sulbi
mereka orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan dengan apapun.
Bayangkan,
kalau Anda berada di posisi Nabi Muhammad Saw, dan kemudian ada bantuan
menewaskan semua orang yang telah berlaku buruk, mungkin saja kita ambil
bantuan itu. Dan mengharapkan mereka tewas. Begitulah, cerminan keanggunan
akhlak Nabi Muhammad Saw. Kita yang dipisahkan jarak waktu 1400 tahun yang lalu
menaruh kagum pada beliau hanya mendengar kisah-kisahnya, lalu bagaimana para
sahabat yang menyaksikan secara live tentang akhlak Nabi Muhammad Saw?
Tentu kekaguman mereka sangat meluap.
Ada kisah lagi tentang ketinggian akhlak beliau. Adalah seorang kakek Yahudi yang matanya buta. Dia “memarkir” dirinya di jalan yang biasa dilewati Rasulullah Saw. Celotehan buruk, dan penghinaan pada Rasulullah Saw selalu keluar dari mulutnya. Mendengar ucapan yang menghina sama sekali tak membuat Rasulullah Saw sakit hati. Bahkan, beliau ketika hendak menuju ke tempat kakek ini, beliau meminta serantang makanan pada Sayyidah Aisyah r.ah. Jika makanan tersedia, beliau membawa dengan tangannya sendiri menuju tempat kakek berteduh. Setibanya di depan kakek, beliau membuka dan menyiapkan makanan itu untuk dihidangkan pada si kakek. Bukan hanya dihidangkan, beliau menyuapi makanan itu dengan tangannya sendiri.
Dengan kelembutan yang tak tergambarkan. Karena kebaikannya,
kakek ini menasihat Nabi agar tidak mengikuti Muhammad. Karena dia tidak tahu
bahwa orang yang menyuapi itu adalah sosok Nabi Muhammad Saw yang selalu dia
hina. Rasulullah Saw melakukan itu tidak hanya sekali. Berkali-kali. Sampai
beliau wafat, hingga Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq sudah diangkat sebagai
khalifah. Abu Bakar as-Shiddiq bertanya kepada putrinya, yang juga istri
Rasulullah Saw, tentang sunnah Rasulullah yang mungkin belum dia lakukan.
Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq adalah sosok yang sangat mencintai Rasulullah
Saw dan hidupnya berusaha mempresentasikan akhlak Nabi Muhammad Saw. Sayyidah
Aisyah mengungkapkan tentang kebiasaan unik Rasulullah Saw yang memberikan
makan pada kakek Yahudi yang buta.
Sayyidina Abu
Bakar bergegas menuju kakek itu. Setiba di hadapan kakek itu, beliau tanpa
bicara, menyuapi kakek yang sedang menjelek-jelekkan nama Muhammad. Hanya saja
ketika suapan itu sampai di mulutnya, dia menangkis. “Engkau bukan orang yang
biasa menyuapi saya”, katanya, “yang memberikan saya selama ini cara menyuapinya
lebih lembut daripada engkau”.
Sampai kemudian
Abu Bakar as-Shiddiq menyampaikan, “Orang yang biasa menyuapi kau sudah wafat.
Beliau Nabi Muhammad Saw”, ucapnya, “sementara saya, Abu Bakar ash-Shiddiq,
adalah yang menggantikannya”.
Demi mendengar
hal itu, meledaklah tangisan si kakek itu. Sangat menyesal telah menghina-hina
Nabi Muhammad selama ini. Karena itu, dia pun bersyahadat di hadapan Sayyidina
Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Dakwah Rasulullah Saw bukan dengan pedang. Tapi dengan akhlak yang mulia. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw berdakwah di Madinah tanpa pertumpahan darah. Bermodal akhlak yang elok dan mengagumkan menarik hati-hati untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana juga, ketika Rasulullah Saw kembali ke Mekah, melalui peristiwa Fathul Mekah, dengan berlimpah kasih sayang.
Ketika beliau tiba di
Mekah, ketakutan penduduk Mekah sangat luar biasa. Mereka membayangkan
Rasulullah Saw dan para sahabat akan membalas perlakuan buruk mereka. Akan
tetapi, ketika Rasulullah Saw tiba di Mekah. Beliau membetangkan tangan
perdamaian dan persaudaraan. Dengan kata-kata yang membuncah kerinduan dalam
jiwa, “Pergilah, kalian semua bebas”. Ketika Rasulullah Saw telah memaafkan
mereka dengan tulus, justru memanggil hati-hati berada dalam rengkuhan
Sayyidina Muhammad Saw. Berbondong-bondong penduduk Mekah masuk Islam karena
keagungan akhlak beliau.
Akhlak Nabi Saw
yang harus kembali dihidupkan, selain syariat beliau. Bahkan tanda agama
berbuah, terlihat dari akhlaknya yang mulia.



0 comments