Tobat Jalan Kebahagiaan

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Tobat Jalan Kebahagiaan

08 October 2026

Tobat Jalan Kebahagiaan

08 October 2026


 

Rahmat Allah-kebahagiaan-bertebar di mana-mana. Seperti halnya sinar matahari menyebar di mana-mana, atau seperti udara yang berhembus di mana-mana. Meski matahari bersinar terang menerpa seluruh bumi, jika kita sendiri memilih meringkuk dalam gua yang tertutup rapat, tanpa tersedia ventilasi yang memberi akses masuknya cahaya, maka cahaya tak bisa menemui kita.

Begitulah, cara sederhana menggambarkan kebahagiaan. Kebahagiaan, sebenarnya, ada di mana-mana. Hanya saja seringkali kita yang tidak membuka diri. Mendekam dalam penjara dosa, maka kebahagiaan terhalang untuk kita serap. Bagaimana agar kebahagiaan bisa kita akses? Jalannya adalah bertobat. 

Ketika orang bertobat, maka hidayah akan bisa menjangkaunya. Tobat biasanya tumbuh dari hati yang merendah, tawadhu, dan merasa hina. Bukankah orang yang tawadhu akan diangkat oleh Allah? Bukankah orang yang merasa hina akan dimuliakan oleh Allah? Ketika orang telah diisi hatinya oleh spirit tawadhu, maka dia akan berani mengatakan bahwa dirinya salah, khilaf, dan berdosa. 

Dikala seseorang mengakui kesalahannya, maka dia berani memugar dirinya pada keadaan yang lebih baik. Intinya, di saat gelombang tobat tumbuh dari dalam hati, maka seseorang akan terus tumbuh dan tumbuh menuju kebahagiaan sempurna. Seperti halnya orang yang tidak berhenti belajar, dia akan terus memeroleh ilmu baru yang selalu ikut menyegarkan jiwanya. 

Tobat menandai seseorang sedang hijrah. Ada keadaan yang ditinggalkan, menuju tujuan yang diharapkan. Kita perlu mengetahui level tobat atau hijrah ini. 

Pertama, tobat. Hijrah dari maksiat menuju taat. Jika seseorang terjerembab dalam perbuatan dosa lahir, lalu dia sadar, bangkit, lalu menjauhi dosa tersebut, dan menggantinya dengan ketaatan. Sudah lama tenggelam dalam dosa meninggalkan sholat. Makin kesini, dia merasa hidup tanpa shalat, jiwanya terasa kering, gelap, dan terus rasa sumpek membekap jiwanya. Setelah lama terperangkap dalam gelapnya jiwa, dia keluar dari kegelapan itu menyapa cahaya. Dia tinggalkan kebiasaan meninggalkan shalat, lantas dia memaksakan kakinya melangkah ke masjid. Dia belajar menegakkan shalat sepenuh hati. Di saat dia telah menegakkan shalat, kebahagiaan seolah bersemi dari sudut jiwanya. 

Atau mungkin ada seseorang terjerumus dalam mabuk-mabukan. Sampai suatu saat merasa dirinya tidak berguna. Dia membayangkan dirinya semacam sampah yang berserakan di jalanan. Tidak ada satu pun yang mau memungut, bahkan melirik saja tidak ada. Dia ingin dirinya yang hanya sampah berubah menjadi berharga di sisi Allah. Maka dia berhenti dari mabuk-mabukan, menjauhi lingkungan dan circle yang menariknya untuk mabuk lagi. Dia telah berjuang membenahi dirinya dengan menjaga shalatnya, menjalani puasa sunnahnya untuk membersihkan bekas makanan dan minuman haram yang telah mendarah daging, dan menekunkan ngajinya untuk memulihkan kembali jiwanya yang lama sakit. 

Dia telah menjauhi segala dosa lahir yang dipandangnya mengundang noktah hitam dan kekeruhan bagi jiwanya. 

Kedua, inabah. Hijrah dari cinta pada dunia menuju mahabbatullah. Ada sebuah keyakinan yang menancap di hati bahwa selagi cinta dunia menguasai hati, maka kita akan selalu diarahkan pada pemenuhan dunia. Dan kita sadar bahwa bertumpuknya dunia-apalagi memasuki ruang hati-sama sekali tidak memberi kebahagiaan, justru mendapati hati semakin sesak. Memang hati tidak layak dijadikan rumah duniawi (baitut dunya), hanya Allah satu-satunya yang layak menempati hati. Apa yang membuat sesuatu dan Allah menempati hati?  Yang membuat sesuatu dan Allah menempati hati adalah cinta. 

Ketika Anda terserap dalam cinta terhadap dunia, maka dunia akan mendominasi hati Anda. Sebaliknya, ketika Anda tenggelam dalam cinta kepada Allah, maka Allah menguasai hati Anda. Ketika Allah menguasai hati Anda, maka Anda membiarkan diri disetir, digerakkan oleh Allah. Betapa indahnya, hidup dirajut, dirangkai, dan diatur oleh Allah. Karena pengaturan Allah pasti terbaik. Pengaturan manusia sebaik apapun, pasti mengandung celah keburukan dan kesalahan. Apalagi jika yang menyertai adalah rencana buruk, tentu saja akan meninggalkan keburukan. Sementara pengaturan Allah pasti terbaik, karena Dia Maha Baik. Tidak ada yang memancar dan mengalir dari-Nya kecuali kebaikan saja. Kebaikan mutlak. Sebuah kebaikan yang tak layak dipertanyakan, kecuali oleh orang yang masih bodoh tentang Allah. 

Tanda orang telah beralih cintanya dari dunia kepada Allah, dia akan menjadi sosok yang zuhud dengan dunia. Tidak lagi melekat dengan kehidupan dunia. Dunia memang tak boleh dibenci, tapi juga tak usah dicintai. Apalagi dengan cinta berlebihan. Mengapa kita tidak boleh membenci dunia? Karena dunia sebagai tempat kita bersujud, tempat kita menanam dan memupuk amal dengan harapannya buahnya bisa kita petik kelak di akhirat. Jika kita menanam kebaikan di dunia, maka kehidupan akhirat kita insya Allah akan membetang indah dan bercahaya. Sebaliknya, kalau kita menanam keburukan di dunia, maka yang akan kita petik kelak adalah keburukan jua. Mengapa kita harus tak boleh tidak mencintai atau melekat dengan dunia? Kita sadar bahwa dunia akan berlalu dan akan kita tinggalkan. Karenanya, dunia hanya sebagai jalan saja. Bukan tujuan. 

Dikala orang telah hilang kemelekatan dengan dunia, dan hanya bergantung sepenuhnya pada Allah, maka pelan-pelan gambaran dunia akan memudar dari hati kita. Memudarnya dominasi dunia dalam hati ditandai dengan lenyapnya kesombongan, dengki, dan riya. Jika ketiga penyakit ini masih saja menjangkiti kita menandakan dunia masih bersinggasana di hati. Tak peduli profesi dan tugas apapun yang disandangkan pada kita. Petugas kebersihan, pejabat, guru besar, bahkan seorang kyai sekalipun jika masih digerogoti tiga penyakit hati itu cukup menggambarkan bahwa dia masih cinta pada dunia. 

Seorang kyai, misalnya, dia menyimpan kedengkian pada seorang dai yang notabene new comer. Kedengkian itu bergolak karena khawatir jika jamaah yang selama ini dibina akan berpindah ke tempat ustadz baru tersebut. Kalau kedengkian itu benar-benar menggerogoti meski dia tidak mengaku mencintai dunia tetap membuktikan bahwa cinta dunia masih berbekas dalam hatinya. Atau jika kyai, dia mengabarkan dalam setiap ceramah, keinginan untuk dipuji, dihargai, mendapat applause dan tepuk tangan, alias ingin memperoleh validasi dari sesama, maka itu cukup membuat orang itu disebut mencintai dunia. Apalagi disertai tumbuhnya bibit kecongkakan dari hati. Kesombongan yang terus mengembang menjadi alarm kehancuran seseorang. Seperti halnya balon yang terus ditiup dan kian menggelembung sampai pada titik optimal, jika terus saja ditiup, maka balon itu akan meletus. 

Ketiga, aubah. Hijrah dari lalai menuju terus-menerus mengingat Allah (Dzawamud-dzikr). Betapa sering kita berhenti pada realitas hingga lupa pada yang menampakkan realitas. Kita terpesona pada fenomena hingga lalai pada nomena. Jika Anda tidak mengingat Allah dibalik realitas, maka hati kita akan selalu kosong dari Allah. Ketika hati kosong dari Allah, maka kebahagiaan akan menyingkir dari hati. Karena bahagia bersemi di hati yang selalu ingat Allah. 

Bayangkan, kalau Anda bertemu dengan seseorang. Tanpa basa-basi, langsung saja dia melontarkan ucapan nylekit dan menyakiti, bahkan sampai mencemooh dan mencela Anda, apa yang akan Anda rasakan? Tentu saja Anda akan merasa sakit hati. Akan tetapi, kalau Anda langsung mengingat Allah, sembari menyadari bahwa pencela itu didatangkan oleh Allah untuk menguji kita. Jika Anda bisa bersabar atas caci makinya, dan menahan diri untuk tidak membalasnya, maka Allah sediakan pahala tanpa batas. 

Misalnya, Anda punya urusan yang mengundang rasa cemas, khawatir, takut tentang apa yang terjadi di masa depan terkait urusan tersebut. Kalau Anda terus saja fokus pada masalah tersebut, maka Anda sedang menggali kuburan kecemasan itu makin dalam. Masalah tidak selesai, hati terus dibelenggu kepayahan dan rasa lelah tak berkesudahan. Akan tetapi, kalau Anda langsung mengingat Allah, dan masa depan berada dalam genggemannya, maka Anda akan tenang. Segalanya dalam kekuasaan Allah. 

Kalau kita sandarkan terkait masa depan kepada Allah, maka Anda tetap tenang. Karena Anda mentawakkalkan soal nasib dan kehidupan masa depan kita pada Allah. Dengan mengingat Allah dari setiap urusan yang kita hadapi, maka kita akan selalu mengambalikan urusan pada Allah. Selagi kita mengembalikan urusan pada Allah, maka kebahagiaan berdatangan menghampiri hati kita. Insya Allah. 


BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang