Welas Asih Sebuah Pencapaian Ruhani

BLANTERLANDINGv101
7702235815698850174

Welas Asih Sebuah Pencapaian Ruhani

01 November 2026

Welas Asih Sebuah Pencapaian Ruhani

01 November 2026



 Kita menyangka orang yang pandai, pintar, dan bisa menjawab setiap pertanyaan adalah seorang wali? Atau orang yang bisa menebak hati orang lain, atau mungkin karena orang melakukan perkara yang di luar kebiasaan orang pada umumnya. Apakah benar kepandaian menandakan seorang kekasih Allah? Jika kepandaian hanya berhenti di otak tidak meresap sampai ke hati, maka kepandaian bisa saja membuat seseorang terperosok dalam kesesatan, dan terlempar jauh dari Allah. Kita tentu sudah pernah menyimak kisah Bal'am bin Baura, seorang ulama-cerdas-di masa Nabi Musa a.s. Ilmu seharusnya memandunya pada posisi dekat dengan Allah, namun dia makin terlempar jauh dari Allah. 

Kalau orang tidak memeroleh petunjuk lewat ilmunya, maka dia justru makin jauh dari Allah. Terbelenggu dalam penderitaan. Ilmu-tentu saja-berdampak ketika kita bisa mengamalkan. Bukan malah menempatkan hidup bertentangan dengan ilmu yang telah kita cerap. 

Seorang wali bukan hanya memeroleh ilmu, bahkan dengan ilmu tumbuh rasa takutnya kepada Allah. Makin kenal Allah, makin bertambah rasa takutnya pada Allah. Takut dalam artian, bagaimana jika ada dari amalnya yang mengundang kemurkaan Allah. Setidaknya dia tak mau keadaannya -baik lahir atau batin- membuat Allah tidak berkenan padanya. Dengan mengenal Allah, seseorang takkan pernah berpikir-sedikit pun-bahwa Allah jauh. Bahkan sangat yakin Allah lebih dekat daripada siapapun dan apapun. Kalau dari manusia kita mungkin bisa bersembunyi, tapi dari Allah kita tak bisa bersembunyi. 

Pengawasan Allah yang senantiasa dirasakan tergambar dari sebuah kisah seorang murid yang sangat dicintai oleh gurunya. Cinta guru yang berlebihan pada si murid mengundang kecemburuan yang berat pada murid kinasih itu. Murid-murid yang lain berpikir apa gerangan yang membuat sang guru mengistimewakannya ketimbang murid yang lain. 

Terjadinya kasuk-kusuk terkait kecemburuan itu tentu saja ditangkap dengan seksama oleh sang guru. Datanglah sebuah pagi yang cerah. Tanpa berpengantar panjang, sang Guru meminta pada masing-masing murid membawa seekor ayam. Buat apa seekor ayam itu? Ayam, oleh sang guru, diperintah agar disembelih. Syarat menyembelih harus dipastikan terlebih dahulu bahwa tempat itu sepi. Tidak ada siapapun. Setelah mendengar instruksi dari sang guru, seluruh murid berpencar, menyusuri tempat yang sepi dari siapapun. Tidak seberapa lama menanti, setiap murid datang dengan membawa seekor ayam yang sudah berhasil disembelih. Akan tetapi, murid kinasih yang bertempat di hati sang guru tidak kunjung datang. Akhirnya, dia terlihat dari kejauhan membawa seekor ayam yang tergenggam di tangannya tetap hidup. Menyaksikan kenyataan itu, murid-murid yang lain tertawa, karena murid yang dielukan sang guru tak berhasil menyembelih seekor ayam. 

"Mengapa kau tidak menyembelih ayam yang kau bawa itu?", tanya sang Guru.

"Iya guru, guru memerintahkan saya untuk menyembelih ayam ini di tempat yang sepi dari siapapun. Setelah aku berkeliling ke mana-mana, ternyata tak ada tempat yang sepi dari Allah", begitu ucap sang murid kinasih dengan mantapnya. 

Setelah mendengar apa yang dikatakan sang murid istimewa ini, semua murid mengangguk paham, mengapa guru begitu mengistimewakannya. 

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kisah itu?  Bahwa ciri kekasih Allah yakni ia selalu merasa diawasi, dipantau, dan bahkan diliputi oleh Allah. Mungkin kita bisa lari dari makhluk, lantas bagaimana mungkin bisa lari dari Allah? Semisal ruang meliputi segalanya. Kita mungkin keluar dari satu ruangan, tapi Anda sedang masuk ke ruangan yang lain. Dari ruangan Anda bisa keluar, tapi Anda sendiri tak bisa meloncat dari ruang. Karena ruang itu tak terbatas. Dan tunggal. 

Hatinya Penuh Kasih  

Seorang wali bukan hanya mendapatkan ilmu Allah, tapi memeroleh sifat Allah Swt. Terutama dia memendam kasih yang meluas bagi semua orang. Tidak ada sedikit pun kebencian yang terbesit dalam hatinya. Dia selalu memandang segalanya sama-sama sebagai hamba Allah. Karena kalau seseorang mengaku mencintai Allah, maka dia sudah barang tentu mencintai semuanya karena Allah. 

Anda mungkin pernah mendengar kisah tentang Imam Al-Ghazali ketika bermimpi memeroleh kedudukan yang mulia di sisi Allah. Imam Al-Ghazali bertanya-tanya, amal apa yang mengantarkannya pada kedudukan yang mulia. Bukan karena tulisan kitabnya yang menyebar dan dikaji di mana-mana, juga bukan karena dakwahnya yang diterima oleh bermacam lapisan masyarakat. Akan tetapi, beliau menggapai kedudukan yang mulia oleh karena suatu malam ketika beliau sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat hinggap di ujung penanya, mereguk tinta. Imam Al-Ghazali diam, tanpa bergerak sedikit pun, sampai lalat itu kenyang oleh tinta yang direguk itu. Lantas, lalat itu terbang ke sana kemari. Oleh sebab amal sederhana inilah, Imam Al-Ghazali memeroleh maqam yang tinggi di hadapan Allah. 

Begitu juga dengan Imam Asy-Syibli bisa meraih maqam yang sangat luhur tersebab kasih sayangnya yang ia pancarkan pada kucing. Di saat hujan yang deras, tiba-tiba ada seekor kucing yang terkena tetesan air hujan, hingga tubuhnya basah. Tanpa berpikir panjang, Imam As-Syibli memungut kucing itu, dan dimasukkan ke jubahnya. Tersebab itulah, Imam Syibli dimuliakan oleh Allah. Karena menyayangi makhluk Allah, Allah sayangi beliau. 

Adalah seorang guru bercerita. Cerita ini saya yakin benar adanya. Beliau adalah guru yang saya kenal memiliki welas asih yang sangat dalam pada makhluk Allah. Bayangkan, di tengah banyak orang yang sangat jengkel bin mangkel pada tikus. Tikus telah dijuluki sebagai penggangu dan pengusik rumah. Ingin rasanya, kalau ketemu tikus, di batang otak kita yang terpantik ingin membunuhnya, dan membuangnya jauh-jauh. Akan tetapi, tidak dengan guru yang saya kenal ini. Beliau justru punya ritual yang unik. Kalau beliau berbelanja ke pasar, biasanya beli ikan untuk beliau konsumsi. Ikan kesukaannya adalah lele. Beliau membeli lele dalam jumlah yang banyak. Ternyata bukan hanya dibuat konsumsi untuk diri dan keluarganya, akan tetapi sebagian lele itu akan dibagikan sebagai makanan untuk tikus yang biasa hilir mudik di rumah beliau. Jika siangnya, ikan lele tersebut dikonsumsi untuk diri dan keluarganya, sampai tengah malam, beliau ternyata sudah menyiapkan juga untuk jatah tikus. Dan tikus itu ternyata lahap dalam makan lele tersebut. 

Secara duniawi, beliau tak mendapatkan keuntungan apa-apa memberi makan tikus, malah mungkin akan mengundang makin banyak tikus ke rumahnya. Akan tetapi, beliau tetap memberikan kasih sayang pada tikus dengan menyediakan makanan. Sungguh perbuatan ini terlihat aneh. Namun begitulah cinta. 

Intinya, saya berkesimpulan, kekasih Allah bukan hanya diukur dengan ibadahnya yang rajin, zikirnya yang kencang, akan tetapi juga diukur dengan welas asihnya yang menyebar sangat kuat. Kehidupan selalu menghadirkan manfaat bagi siapapun. Jika tidak bisa memberi manfaat, setidaknya tidak menebar mudharat pada sesama. Bukankah orang muslim tidak membiarkan tangan dan lisannya menyemburkan bahaya bagi sesamanya? Lalu meningkat pada usaha selalu membagikan manfaat. Tak terbesit untuk mendapatkan apapun dari sesama. Sementara pada orang yang berbuat jahat padanya, maka dia memilih untuk memaafkan. Karena dia tahu tidak memaafkan hanya akan menyempitkan hati. Intinya, orang ini hanya memberi. Pada siapa saja yang dia temui berniat untuk memberi, dan pada orang yang berbuat salah, dia menyiapkan hati untuk memberi maaf. Tak ada jejak negatif yang tertinggal di hatinya. 

Bahkan menuju pada level puncak. Dia memberi pada siapa saja, baik pada orang baik atau orang jahat. Karena baginya, orang hanya bisa memberi apa yang dia punya. Siapa yang punya kebaikan, maka dia akan terus membagikan dan menyebarkan kebaikan pada siapa saja. 

Terkait dengan puncak akhlak ini, mengingatkan kita pada kisah Nabi Isa a.s. Di suatu kesempatan-ketika sedang berjalan-jalan bersama dengan murid-muridnya-tiba-tiba ada orang yang mendamprat beliau dengan kalimat menghina sekaligus menusuk. Meski dicemooh dan dihina, Nabi Isa a.s sama sekali tidak bergeming, tak membalas sama sekali. Sementara murid yang menyertainya mendadak naik pitam, hendak membogem anak muda kurang ajar itu. Namun dengan tangkas, Nabi Isa a.s mencegahnya. 

"Mengapa guru tidak membalas kekurang-ajaran mereka", tanya mereka dengan wajah yang masih memerah.

"Wahai muridku, orang hanya memberi apa yang dia punya. Sementara saya punya kebaikan, maka tidak ada yang kuberikan kecuali kebaikan", tukas Nabi Isa a.s. 

Sebuah respon yang simpel dan enteng keluar dari lisan mulia Nabi Isa a.s, "Orang hanya memberi apa yang dia punya". Kalau orang mudah dan gampang mengeluarkan kalimat-kalimat kotor, pedas, dan menyakitkan, maka perlu dipahami bahwa dia memang hatinya penuh kotoran, dan mungkin masih tertinggal luka yang belum sanggup dipulihkan. Jika pemahaman itu terpahat pada kita, maka kita tidak akan menaruh benci apalagi dendam pada orang yang berbuat jahat. Justru terselip rasa kasihan di hati, karena tidaklah orang itu menyakiti orang lain kecuali dirinya menanggung derita dan sakit, mungkin lebih perih. Dan kita tak bisa memaksa orang yang punya keburukan agar berbuat baik pada kita, kecuali kita hanya akan menanggung kecewa. 

Kita belajar pada sosok yang akhlaknya sangat luhur sepanjang sejarah kehidupan manusia. Nabi Muhammad Saw. Bagaimana ketika beliau dilempari batu dan kerikil di Thaif sampai membuat tumitnya luka. Bukan hanya dilempari batu, mereka menyertainya dengan kalimat hinaan dan hujatan yang disorotkan pada beliau. Ketika beliau menjauh dari penduduk Thaif, malaikat penjaga gunung datang menawarkan bantuan untuk menimpuk orang-orang Bani Thaif dengan gunung itu. Tapi, Rasulullah Saw sama sekali tidak berkenan. Bahkan berdoa seraya berharap Allah lahirkan dari sulbi-sulbi mereka anak keturunan yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Tidak mengalir doa semacam itu-pada orang yang berbuat jahat padanya-kecuali karena dalam hati Nabi Saw dipenuhi kasih sayang yang terbatas. 


BLANTERLANDINGv101

Berlangganan Gratis

Suka dengan artikel-artikel diblog ini dan merasa mendapatkan manfaat? Bisa isi form di bawah ini.
Isi Form Berlangganan
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang